Sabtu, 21 Januari 2012

A Value From Home Alone 2

Aku sering nonton film.
Kadang-kadang di film itu, aku menemukan dialog yang bagus, wise words, atau wise acts.
Tapi karena fokus nonton, semua itu jadi terlewatkan.
Kadang ingat detail kata-katanya, kadang ingat intinya, kadang malah nggak ingat sama sekali, hehehe...
Padahal semua itu bisa jadi perenungan buat diri kita.

Nah, semalem, kebetulan aku cuma berdua sama adikku di rumah.
Ga ada acara TV yang menarik, adikku ngajakin nonton Home Alone 2.
Pada tau kan, film jadul yang udah sering banget diputer di TV.
Sebenernya bosen juga sih, soalnya udah agak apal alur ceritanya.

Pas sampai awal disk 2, aku baru sadar kalo ada dialog bagus antara tokoh utama, si Kevin McCallister yang diperanin sama Macaulay Culkin sama wanita tua yang suka dikerubutin merpati.
Gini dialognya :

Wanita tua (W) : Aku seperti merpati yang aku urus ini. Orang melewatiku. Mereka melihatku tapi mengabaikanku. Mereka lebih suka aku bukan salah satu dari mereka.

Kevin (K) : Ya, aku juga seperti itu di keluargaku. Aku seperti merpati di rumah hanya karena aku anak bungsu.

(W) : Semua orang memperjuangkan haknya. Semua orang ingin dilihat dan didengar.

(K) : Mungkin aku banyak melihat dan mendengar. Tapi aku juga sering disuruh masuk ke kamar.

(W) : Aku dulu tak begini.

(K) : Dulu kau seperti apa?

(W) : Aku punya pekerjaan, punya rumah, dan keluarga.

(K) : Kau punya anak?

(W) : Tidak. Aku menginginkannya, tapi orang yang kucintai tidak mencintaiku. Itu menghancurkan hatiku. Dan saat kesempatan untuk dicintai datang lagi. Aku menghindarinya. Aku berhenti mempercayai orang.

(K) : Jangan tersinggung, tapi tindakan itu tolol.


(W) : Aku takut akan patah hati lagi. Kadang kau bisa mempercayai orang. Tapi saat masalahnya reda, mereka melupakanmu.

(K) : Mungkin mereka terlalu sibuk. Mungkin mereka tak melupakanmu. Mereka hanya lupa untuk mengingatmu. Kukira orang-orang tak bermaksud untuk melupakanku. Kukira itu hanya kebetulan. Kakekku bilang jika aku tak berakal sehat, aku akan meninggalkan kepalaku di bis sekolah.

(W) : Aku takut mempercayai orang. Aku takut patah hati lagi.

(K) : Aku mengerti. Dulu aku punya roller blade, aku takut merusaknya jika memakainya, jadi aku simpan saja di kotak. Kau tahu apa yang terjadi?

(W) : Apa?

(K) : Jadi sempit. Aku tak pernah memakainya lagi. Hanya di dalam rumah dua kali.

(W) : Perasaan dan hati orang itu tidak sama dengan sepatu roda.

(K) : Kurasa sama saja. Jika kau tak menggunakannya, lalu apa bedanya jika barangnya rusak? Jika kau menyimpannya saja, mungkin akan sama seperti roller blade ku. Saat kau mau mencobanya, sudah percuma. Kau seharusnya mengambil kesempatan. Tak ada ruginya.

(W) : Mungkin masih ada sedikit kebenaran di luar sana.

(K) : Kurasa begitu. Hatimu mungkin masih patah. Tapi kau masih memiliki hatimu itu. Jika tidak, kau takkan sebaik ini padaku.

(W) : Terima kasih. Tahukah kau, sudah dua tahun aku terakhir bicara pada orang.

(K) : Tak apa. Bicaramu lancar. Kau tak membosankan. Kau tak bersungut-sungut atau meludah saat bicara. Kau harus banyak bicara. Dan jangan menggunakan baju yang bisa dihinggapi merpati.

(W) : (tertawa) aku berhasil menghindar dari orang-orang, bukan?

(K) : Aku kira sendiri itu menyenangkan. Tapi sendirian itu tak menyenangkan. Aku tak peduli orang-orang suka menggangguku, tapi aku memilih bersama-sama daripada sendiri.

Hmmmm....OK kan dialognya. Let’s see. What ur opinion ’bout this?
Kayaknya mulai sekarang kalau nonton film mesti bawa pulpen dan kertas, hehehe…
Siapa tau ada wise word lainnya untuk kita jadikan renungan.
Ga ada salahnya dicatet kan, daripada kelupaan.

Kalo begitu kan nonton jadi ada manfaatnya, ga sekedar buat hiburan ajah. Ya, kan?

0 komentar:

Posting Komentar