Selasa, 10 Januari 2012

Tips Agar Menang Lomba Menulis Flash Fiction

Seiring dengan semakin populernya flash fiction, banyak sekali diadakan kompetisi menulis flash fiction. Mulai dari kompetisi lokal di jejaring sosial facebook sampai di ajang yang bertaraf internasional. Mulai dari berhadiah pulsa, buku, dibukukan, sampai uang jutaan rupiah. Wow, menarik bukan?

Untuk menjadi pemenang, tentu bukan hal mudah. Banyaknya pesaing menuntut kita mempunyai strategi untuk minimal menembus nominasi. Tulisan berikut ini akan mengulas tips-tips memenangkan lomba menulis flash fiction. Apa saja? Simak ya!

1. Ingat : syarat dan aturan berlaku!

Setiap perlombaan, biasanya memberikan ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi oleh peserta. Sebelum mengirimkan naskah flash fiction ke panitia lomba, pastikan sudah memenuhi aturan yang ditetapkan. Ada dua persyaratan yang perlu dicermati, yaitu

a. Syarat penulisan flash fiction

1) Jumlah kata

Bila dalam kompetisi penulisan cerpen/novel disyaratkan jumlah halaman minimal dan maksimal, dalam kompetisi flash fiction yang disyaratkan biasanya adalah jumlah kata. Syarat ini menjadi penting karena inilah yang membedakan flash fiction dengan naskah fiksi lain.

Batasan jumlah kata menjadi syarat apakah naskah layak masuk nominasi atau tidak. Bedakan jumlah kata yang diminta, misalnya apakah HARUS 100 kata atau MAKSIMAL 100 kata. Jika HARUS, maka jumlah kata tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. Jika MAKSIMAL, maka jumlah kata tidak boleh lebih tetapi boleh kurang. Perhatikan juga apakah JUDUL termasuk kata yang harus dihitung atau tidak.

2) Ukuran kertas, jenis dan ukuran huruf, spasi, margin

Persyaratan ini mungkin sepele dan kadang tidak kita perhatikan. Padahal beberapa panitia lomba, bisa jadi tidak meloloskan naskah yang tidak sesuai dengan yang mereka minta. Lebih baik mematuhi persyaratan tersebut daripada naskah yang sudah susah payah dibuat, kalah sebelum bertanding.

3) Format naskah

Bila menggunakan MS Word 2007 saat mengetik, naskah yang langsung kita simpan akan mempunyai extention/akhiran .docx. Naskah seperti ini tidak bisa dibuka dengan komputer yang masih menggunakan MS Word 2007. Oleh karena itu, biasanya peserta diminta mengirimkan naskan dengan format extention .doc atau .rtf yang bisa dibuka di MS Word 2003 ataupun MS Word 2007.

4) Penggunaan EYD

Semua yang pernah menjalani pendidikan di bangku SD sampai SMA bahkan kuliah, pasti pernah mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesia yang di dalamnya juga mengajarkan tentang EYD. Naskah yang sesuai EYD, baik penggunaan tanda baca, kerapian penulisan, maupun kata yang digunakan, akan menunjang penilaian dari juri karena biasanya lebih enak dibaca. Kalau sekarang sudah mulai lupa pelajaran tersebut, tak ada salahnya membuka-buka lagi materi tentang kaidah penulisan yang baik dan benar.

b. Syarat pengiriman

1) Kelengkapan naskah

Selain naskah, biasanya peserta juga diminta mencantumkan biodata. Nah, jangan sampai yang satu ini kelewatan. Kalau naskah bagus tapi tak ada identitas yang tercantum, bagaimana dan pada siapa panitia memberi tahu kalau seandainya naskah tersebut menjadi juara?

2) Mengirimkan naskah melalui email

Jangan menulis naskah di badan email. Yang satu ini, sering sekali disinggung dalam berbagai kompetisi. Panitia biasanya meminta naskah dikirimkan dalam attachment/lampiran email. Mengapa? Karena naskah akan diterima oleh panitia dengan format penulisan yang sama seperti yang dikirimkan peserta.

Menuliskan naskah di badan email biasanya mengubah setting naskah sehingga menjadi berantakan/tidak rapi. Selain itu juga membuat panitia bekerja dua kali karena harus meng-copy paste ke dalam program MS Word dan mengatur ulang. Kecuali bila memang panitia meminta naskah ditulis di badan email.

Lalu apakah badan email kita biarkan saja kosong melompong? Sebaiknya juga tidak. Tak ada salahnya menyapa panitia dengan memberitahukan naskah apa yang kita kirim. Tak perlu panjang lebar. Cukup 2-3 kalimat saja. Anggaplah sebagai surat pengantar. Seperti mengirim kado, biasanya kita sertai kartu ucapan kan?

Oia, jangan lupa dengan SUBJEK EMAIL. Jangan sampai kita biarkan kosong. Tuliskan sesuai permintaan panitia. Atau bila tidak disyaratkan sebaiknya tuliskan NAMA KOMPETISI-JUDUL NASKAH-NAMA PENGIRIM di dalam subjek email agar mudah dikenali oleh panitia.

2. Tetaplah berada di dalam rumah

Dalam kompetisi penulisan flash fiction, ada yang tidak menentukan tema dan ada yang memberi tema khusus. Bila tak ada batasan tema, tentu kita bisa bebas tabrak sana lompat sini untuk menampilkan flash fiction seistimewa mungkin. Tapi bila tema sudah ditentukan, kita harus pandai memilah cerita agar unik dan tidak pasaran.

Tema itu ibarat rumah. Nah, di dalam rumah biasanya ada ruang-ruang khusus, seperti kamar, ruang tamu, ruang makan, kamar mandi, gudang, taman, garasi, dan lain-lain. Kamu bisa memilih salah satunya untuk kamu eksplorasi menjadi flash fiction dengan tema unik dan cerita apik.

Jangan khawatir kehabisan ide unik. Dari masing-masing ruang itu bisa muncul banyak lagi cerita yang bisa kamu tulis. Pilih ruang mana yang menurutmu bisa menjadi tema yang unik. Pilih satu bagian kecil dari ruangan tersebut dan alirkan cerita dari sana. Misalnya kamu memilih gudang. Di dalam gudang kamu temukan tumpukan kardus. Dari sana lah ceritamu tentang intrik di Istana Kecoa dimulai. Eits, ini hanya analogi tentang tema lhoh. Kira-kira seperti itu cara menemukan ide unik dalam sebuah tema.

Ketika panitia sudah menentukan rumah (baca : tema) sebagai sumber cerita, sebaiknya tetaplah konsisten berada di dalamnya. Jangan sampai tulisan yang dibuat dengan perasan keringat jadi tak berarti karena kita menulis tentang mall (baca : tema lain). Kecuali jika flash fiction tersebut tidak kita tujukan untuk ikut kompetisi.

3. Pilih judul yang eyecatching

Ibarat makanan, judul itu aromanya. Belum mencicipi, baru mencium aroma lezat opor ayam, pasti air liur sudah berlelehan. Judul yang eyecatching (menarik perhatian walau selintas pandang), akan membuat pembaca ataupun juri tergerak untuk mencicipi rasa tulisan kita. Pilihlah judul yang unik, pendek, tidak membosankan, dan tidak memberi kesimpulan cerita.

4. Beri opening yang menggoda

Opening dalam flash fiction seperti gigitan pertama saat menikmati sepotong tempe goreng hangat yang dicocol sambel super pedas. Sensasinya langsung terasa di lidah. Rasa pedas ini ibarat konflik dalam cerita. Dalam sekejap langsung membuat mata terbelalak. Justru karena pedasnya, terasa tak ingin berhenti memakan sampai habis.

Sajikan konflik yang tajam dalam opening flash fiction. Buat pembaca/juri merasa penasaran dan mendapatkan sensasi emosional campur aduk saat membacanya. Kemudian, ajak mereka melahap habis cerita kita.

5. Singkat tapi lengkap

Flash fiction, sama seperti cerita fiksi pada umumnya. Meskipun kita dituntut menulis dalam ruang kata yang terbatas, tetapi kita tidak boleh dengan semena-mena mengabaikan struktur cerita, seperti opening, ending, resolusi/penyelesaian konflik, setting, karakter, plot/jalan cerita, dan pesan cerita. Sebisa mungkin semua dikemas dalam cerita flash fiction kita. Banyak membaca flash fiction, baik yang ditulis oleh penulis lokal maupun internasional, akan mambuka wawasan kita. Selain itu, dengan banyak berlatih, akan membantu kita menulis flash fiction yang menarik.

6. Hemat pangkal menang

Dalam flash fiction, apalagi yang hanya 55-300 kata, tidak memberikan kita keleluasaan menuliskan cerita. Tapi di situlah seni dan keunikan menulis flash fiction. Kita dilatih jeli memilih diksi. Dengan menghemat kata tetapi kita bisa menampilkan cerita yang utuh, tentu menjadi modal untuk mendapatkan penilaian yang baik dari pembaca/juri.

Bagaimana cara menghemat kata saat menulis flash fiction? Yang pertama harus dilakukan adalah tulis saja ceritanya. Abaikan pikiran akan seberapa panjang cerita yang kamu buat. Setelah selesai, baca ulang lalu hitung kata dan tentukan seberapa banyak yang harus dibuang. Bagian berikut ini bisa jadi patokan untuk mengedit.

a. Dialog

1.) Hilangkan dialog yang tidak perlu dan tidak membawa cerita berjalan maju.

2.) Susunlah dialog yang padat dan tidak bertele-tele.

3.) Hilangkan keterangan dialog yang tidak perlu

b. Deskripsi dan narasi yang efektif

Deskripsi mengenai tempat, waktu, emosi, bisa kita minimalisir dan kita efektifkan ke dalam narasi.Ingat, tidak semua hal harus kita katakan pada pembaca. Beri ruang pada pembaca untuk memvisualkan narasi yang kita buat sesuai khayalannya seolah-olah ia sedang menonton sebuah sinema. Show, don’t tell! Begitu kata Rusdianto, penulis flash fiction di indonovel.com.

7. Beri ending yang mengejutkan

Dalam perjamuan makan malam, ending ibarat dessert atau makanan penutup. Bila tak cukup istimewa, maka bersiaplah dessert akan teronggok begitu saja. Ditinggalkan utuh dengan wajah kecewa. Koki (baca : penulis) tentu tak ingin membuat tamunya (baca : pembaca) kecewa, bukan? Maka sajikanlah penutup yang memuaskan mereka. Berikanlah ending yang surprising (mengejutkan).

Ending yang mengejutkan haruslah seiring dengan cerita. Jangan sampai ending malah meruntuhkan jalan cerita apik yang sudah disusun sebelumnya. Misalnya kamu membuat flash fiction tentang Rian yang mencoba berhenti merokok. Tiba-tiba endingnya malah kejadian Rian dipukuli massa karena mencuri jemuran. Nah lho, surprise sih. Tapi surprise yang membuat jidat berkerut-kerut.

Jadi, selain mengejutkan, ending harus menjadi satu kesatuan dengan cerita yang sudah dibuat dan merupakan resolusi dari konflik yang disajikan.

Dalam cerita humor, bagian lucunya, biasanya ada di bagian akhir bukan? Seperti itulah kira-kira ending yang menarik.


*dimuat dalam buku Cara Asyik Menulis Flash Fiction

*juga ditayangkan di http://www.annida-online.com/artikel-4628-.html

0 komentar:

Posting Komentar