Sabtu, 28 Mei 2011

Senandung Hujan di Tanah Gersang

Sebulan ini tak ada setetes pun air dari langit. Padahal Oktober sudah sampai penghujung bulan. Semasa kecilku dulu, Oktober menjadi bulan favorit karena bisa berkecipak setiap hari di bawah hujan bersama kawan-kawan selepas sekolah. Tapi sampai hari ini, bahkan tanah sawah Bapak masih pecah-pecah.


Aku lihat pagi-pagi Bapak duduk di serambi menghabiskan batang rokok lintingannya sendiri. Biasanya jam segini ia menjejakkan kaki di sawah menanam padi. Hatiku miris. Sesekali Bapak menengok ke langit. Aku tahu apa yang ia tunggu. Hujan.
"Pak ...." Aku duduk di sisinya. Ia hanya menoleh sekilas saja.
"Belum musimnya mungkin." Lanjutku bermaksud menghiburnya.
"Langite isih dhuwur, Nduk." Bapak beranjak.
Aku tahu ini sulit bagi bapak. Seorang petani kecil dengan sawah tadah hujan. Bila tak ada hujan, kami tak bisa tanam. Bila hujan berlebihan, akar-akar padi kami busuk lalu mati. Petani tradisional seperti kami memang sangat bergantung kepada alam.

*) hasil belajar menulis sepuluh menit dengan tema hujan

Rabu, 25 Mei 2011

Curhat Capung Si Cupang


Hai! Namaku Capung. Eits, aku bukan seekor serangga lhoh! Aku ini ikan cupang ganteng berwarna biru pekat. Unik kan namaku?

Jilbab Ucapan Selamat


Jilbab adalah sebuah hidayah dalam hidupku. Mengapa? Karena tanpa hidayah, meskipun aku mampu, belum tentu aku dapat melaksanakannya. Awalnya aku berjilbab hanya pada saat-saat tertentu saja, terutama saat mengikuti kegiatan-kegiatan ke-Islam-an di sekolah atau di lingkungan rumah.
Ketika awal aku masuk SMA, aku masih belum berjilbab. Saat itu aku merasa masih belum pantas dan masih ragu. Tapi ada sedikit keinginan dalam hatiku. Pernah suatu hari Pakdheku bertanya, “Nduk, kok nggak pakai jilbab sekalian saja kenapa?”
Tersipu aku jawab, “Belum siap, Pakdhe.” Tapi pertanyaan Pakdhe itu justru mengusik hatiku. Apa sebenarnya ketidaksiapanku. Akhirnya, saat aku membuat seragam baru, aku membuat dua seragam. Seragam pendek biasa dan seragam panjang.

Asa Pertanian Indonesia

Rasanya iri melihat kemajuan pertanian di negara dengan keterbatasan wilayah dan iklim. Sementara kita dengan wilayah luas dan iklim yang mendukung, justru mengalami ketertinggalan. Aplikasi teknologi pertanian modern yang ramah lingkungan tampaknya belum bisa diterapkan secara menyeluruh. Tanah kita semakin kritis karena jenuh oleh bahan kimia pertanian. Hama semakin resisten karena teknik pemberantasan yang kurang tepat. Belum lagi citra ‘kelas dua’ profesi petani dan kebijakan pemerintah membuat pertanian kita semakin berat mengejar kemajuan yang dicapai negara lain.

Kenyataan ini tidak semestinya membuat kita kehilangan semangat. Indonesia yang pernah digaungkan sebagai negara agraris bisa kembali berbangga asal ada usaha dari seluruh komponen bangsa. Kekayaan sumber daya alam yang kita miliki adalah modal utama.

Sebatang Pohon di Taman Hati


aku ingin menjadi pohon
dengan akar keyakinan
menghujam kuat
dengan batang keteguhan
berdiri tegap

akan kuberikan ranting-rantingku
padamu
dengan daundaun di ujung dahan
memberi udara kebebasan
dengan kembangkembang wangi di selanya
mengirim keindahan pada pelita
dengan buahbuah ranum untuk kau petik
menjadi pereda di kala pelik

biarlah aku menjadi sebatang pohon
tumbuh di pelataran hati

*) Nominator Lomba Flash Poetry (LFP) : Inilah Aku ... yang diadakan oleh Writing Revolution