Sabtu, 21 Januari 2012

All About Maryamah Karpov-nya Andrea Hirata (2)

Pengetahuan baru apa yang disajikan Andrea Hirata untuk pembaca novel Maryamah Karpov?

Membaca novel-novel Andrea Hirata ini seperti membaca buku antrososiologi (hehe...istilah sendiri). Kali ini Andrea Hirata menuturkan beberapa kebiasaan suku-suku yang tinggal di Belitung, sikap bangsa-bangsa lain di Sorbonne, dan kajian ilmiah yang disuguhkan Lintang saat membuat perahu asteroid. Luar biasa deh.

Ini beberapa yang ditulis Andrea.
1. Farewel Party mahasiswa Sorbonne (Mozaik 7)
a. Mahasiswa dari daratan China
Membentuk kepanitiaan, undangan dicetak dan diantar secara pribadi, hidangan tak sembarangan, pakaian wanitanya resmi ala putri China dinasti Han, acara berlangsung tertib, syahdu, dan sentimental, sangat menghargai tamu, menekankan pada farewel.
b. The Yankees, mahasiswa dari negeri Paman Sam
Undangan ditempel sekenanya di dinding pengumuman, wanitanya nyaris tak berpakaian, acara berlangsung vepat dan tak ada bersedih-sedih, semua terkesan pragmatis.
c. Mahasiswa Jerman
Lebih sistematis, undangan dikirim lewat email atau SMS, tujuan acara farewel : mabuk.
d. The Brits (mahasiswa Inggris) dan mahasiswa Belanda
Tak ada sendu-sendu, musik berdentum-dentum, menekankan pada party.
e. Mahasiswa Indonesia
Mengadakan pengajian, ada senior yang memberi ceramah, kadang-kadang mendatangkan penceramah dari tanah air, tak lupa ‘kencleng’ untuk dana konsumsi pengajian berikutnya, dan setiap orang tiba-tiba menjadi filosofis.
f. Mahasiswa Amerika Latin dan India punya farewell party yang dramatis dan melankolik
g. Mahasiswa Yahudi tak mengundang siapapun selain orang Yahudi.

2. Beberapa tabiat suku-suku di Belitong
a. Tabiat orang melayu : kalo bepergian, tradisinya adalah membawa barang dalam jumlah tak kira-kira (hal 47), suka mengurusi urusan orang lain, padahal urusannya sendiri kocar-kacir (hal 87), suka berkomentar (hal 136), punya sikap yang moderat, komedinya bersifat artifisial dan politikal, membual adalah bentuk klasik humor mereka (hal 139). Orang melayu amat asosiatif dan metaforik, penuh perlambang dan perumpamaan. Semua itu direfleksikan pada hobi berpantun dan menjuluki orang (hal 176). Julukan yang diberikan bisa berangkat dari ciri fisik, profesi, kebiasaan, obsesi, atau kejadian yang menimpa seseorang (hal 178).
b. Khek, Hokian, Tongsan orang yang serius, mendidik turunannya dengan mentalitas perantau : disiplin, efektif, keras, humornya tak lucu, hambar, kemarau, selalu berada di kutub ekstrim (tentang kekayaan, wajah, dan kebaikan) (hal 131).
c. Orang-orang bersarung suku yang bahagia sebab bias gembira dari hal-hal yang sederhana, kelucuan bagi mereka adalah komedi yang dangkal, spontan tanpa rencana, lugu, menjadi lucu bukan karena komedi itu tapi karena cara mengkomunikasikannya (Ikal menyebutnya superficial joke) (hal 132).
d. Suku Sawang biasa jadi pekerja kasar, guyonan mereka bernuansa ironi, penuh apresiasi akan sendi sosial termasuk seni, jarng ada yang sekolah tapi humor mereka humanis, santun, dan terpelajar (Ikal menyebutnya intellegent joke) (hal 133)
e. Orang Ho Pho punya humor yang agak ganjil, psikopatik, dan sering agak membahayakan. Bentuk lain dari humor mereka adalah taruhan dan taruhan mereka selalu gila-gilaan. Tapi mereka orang yang gentleman saat kalah bertaruh. (hal 133).

3. Kisah Perahu Asteroid ’Mimpi-Mimpi Lintang’
Teman-teman bisa temukan di Mozaik 39, 46-55, 57. Lengkap!!!^^,

0 komentar:

Posting Komentar