Selasa, 10 Januari 2012

Cinta Mewangi di Mekarwangi

Bakti Sosial BEM Fakultas Bahasa di Desa Mekarwangi mempertemukanku dengan Bu Sari. Sekilas tak ada yang istimewa dari wanita paruh baya itu. Tak kusangka dialah yang merintis pendirian Panti Asuhan Mekarwangi. Wajahnya mungil penuh welas asih. Tubuhnya tak gemuk, tak juga kurus. Yang paling khas darinya adalah senyuman yang tulus.

Dari mana aku tahu senyumannya tulus? Tentu saja dari interaksiku dengannya. Ya. Sejak baksos itu, aku rajin berkunjung ke panti. Aku menjadi salah satu tenaga sukarela di sana. Aku mengajar Bahasa Inggris.

Melihat anak-anak di panti, aku seakan melihat pada sebuah cermin. Bagaimana tidak? Apa yang mereka alami juga aku rasakan, terutama di bagian tidak punya orang tua lagi. Ibuku meninggal saat melahirkan aku, ayahku meninggal beberapa tahun yang lalu. Aku sebatang kara tanpa saudara. Mungkin karena itulah hatiku serasa ikut tinggal di panti asuhan ini. Mencari kasih sayang saudara, terutama orang tua seperti Bu Sari.

Bu Sari pun aku lihat tak pernah menceritakan tentang anak atau suaminya. Aku tak ingin menerka-nerka sekaligus tak berani bertanya. Dan aku tak peduli itu. Bagiku, sedikit perhatiannya untukku sudah cukup. Aku tak muluk-muluk. Hanya merindukan sosok seorang ibu.

Aku senang berlama-lama menghabiskan waktu di panti setelah aku mengajar. Ngobrol dengan Bu Sari atau membantu Mbak Lastri menyiapkan makanan untuk kami. Dari Mbak Lastri aku sedikit tahu tentang Bu Sari. Ia bukan asli orang Mekarwangi. Ia pendatang yang iba melihat anak-anak Mekarwangi banyak yang tak bersekolah. Sebagian mereka telantar karena tak punya orang tua, atau malah ditinggalkan orang tuanya yang merantau jadi TKI. Saat itu Bu Sari hanya sesekali mengundang anak-anak makan di rumahnya dan mengajari calistung . Lama kelamaan, tak hanya anak-anak Mekarwangi saja yang menjadi perhatiannya.

Kata Mbak Lastri, Bu Sari merombak rumahnya menjadi panti asuhan ini. Sebagai pendatang, Bu Sari memang cukup berada saat itu. Memulai hidupnya menjadi tukang jahit, lalu sukses membuka usaha konveksi hingga kini. Dari usaha itulah Bu Sari membiayai pendirian Panti Asuhan Mekarwangi. Baru akhir-akhir ini ada orang yang memberikan donasi. Entahlah, tapi cerita Mbak Lastri telah menyihirku untuk ikut mengagumi Bu Sari.

“Rein, jadi mau pulang? Makan saja dulu. Lagi pula sudah mau hujan. Atau menginap saja di sini.” Bu Sari muncul tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

“Makasih, Bu. Mumpung belum hujan, lebih baik kan saya segera pulang. Masih ada tugas kuliah yang harus saya selesaikan.” Kata-kata yang terlontar dari mulutku barusan justru seperti mantra yang mendatangkan hujan tiba-tiba. Deras.

“Tuh, kan. Ayo makan sama-sama.” Tak bisa kutolak ajakan Bu Sari. Aku tak punya alasan.
Ini bukan pertama kalinya aku makan malam di panti bersama Bu Sari dan anak-anak asuhnya. Makan bersama mereka membuatku merasa sedang duduk di meja makan bersama keluarga. Apapun makanannya, selalu terasa nikmat di lidah. Seberapapun takaran nasi di piring, selalu terasa mengenyangkan. Karena di meja itu kami tak hanya berbagi makanan, tetapi juga cinta dan kebahagiaan.

Malam sudah larut tetapi hujan tak menunjukkan tanda segera reda atau minimal berkurang derasnya. Aku duduk di ruang tamu. Cemas.

“Rein,” meski tepukan Bu Sari di pundakku sangat lembut, tetap saja aku terkejut.

“Kaget, ya?” ucapnya dengan senyum tersungging.

“Bu, kalau saya nginap di sini, merepotkan tidak?” kataku lirih.

“Tentu saja tidak. Ibu senang malah. Kamu itu kok sungkan sekali sama keluarga sendiri.”

“Keluarga sendiri?” gumamku dalam hati. Aku tersenyum.

Bu Sari duduk di sebelahku. Menemaniku menghabiskan malam mengerjakan tugas kuliah yang harus dikumpulkan besok pagi. Anak-anak sudah tidur. Mbak Lastri sudah istirahat.

“Bu Sari kalau ngantuk istirahat saja dulu.” Agak tak enak aku membuatnya begadang demi menemaniku.

“Nggak apa-apa, Rein. Ibu juga belum ngantuk.”

“Bu ….” Panggilku lirih.

“Ya?”

“Terimakasih, ya.” Aku bangkit dari dudukku dan memeluknya. Bu Sari sedikit kaget dengan sikapku. Dia membelai kerudungku.

“Aku merasa punya ibu,” lanjutku. Air mataku meleleh seperti gletser. Pelukannya semakin erat. Saat aku melepas pelukanku, kulihat ia menyeka air matanya.

“Kenapa Ibu menangis? Kangen pada putri Ibu?” selorohku tanpa pikir panjang. Bu Sari hanya menggeleng.

“Seandainya kamu putri Ibu,” gumamnya perlahan tapi sampai juga ke telingaku.

“Ibu tidak punya putri, Rein.”

“Dan Reina tidak punya ibu, Bu.” Lanjutku. Ah, lagi-lagi aku terperangkap pada perasaan ini. Perasaan seakan-akan kami adalah ibu dan anak. Ini bukan kali pertama, tapi ini yang paling dramatis.

Aku kembali ke tempat dudukku. Bu Sari tampak ingin menyampaikan sesuatu tapi tertahan entah karena apa.

“Bu Sari punya suami?” tanyaku lugu tanpa memperhitungkan bahwa itu pertanyaan yang sensitif.

“Dulu pernah.” Jawabnya ringkas. Aku diam, urung melontarkan pertanyaan yang tersimpan lama.

“Tapi kami bercerai.” Aku ingin bertanya, “Lalu?” tapi segera ku rem bibirku.

“Ibu tidak bisa memberi keturunan, Rein. Bukannya Ibu tak setuju poligami, tapi Ibu tidak sanggup dimadu. Ibu yang meminta diceraikan biar dia bisa menikah lagi.”

“Lalu bagaimana kabarnya?”

“Ibu tidak tahu. Ibu pergi meninggalkannya.”

“Ibu tidak mencintainya?”

“Sangat mencintainya. Sampai saat ini. Tapi Ibu mengerti kehidupannya akan terbebani masa lalu bila Ibu terus membayangi hari-harinya. Jadi Ibu pergi jauh dan tidak pernah mencari tahu tentangnya. Ibu tak ingin meninggalkan jejak apapun yang membuat dia bisa menelusuri keberadaan Ibu.”

Aku tak bisa berkata. Rasa kagumku berlipat ganda padanya. Seorang perempuan yang merelakan cintanya untuk kebahagiaan orang yang dicintainya.

“Mengapa Ibu mengambil pilihan itu?”

Bu Sari menyeka air matanya, “Karena bagi Ibu, mencintai adalah melihat orang yang kita cintai bahagia, Rein. Meskipun bukan kita yang ada di sampingnya. Ibu tak bisa membagi cinta. Jadi ibu berikan semuanya. Dia suami yang baik, sangat mencintai Ibu. Tapi dia pantas mendapatkan yang lebih baik, Rein.” Kata-kata Bu Sari membuatku terpaku.

Bu Sari melepas kalung yang dipakainya. Tak pernah kulihat karena terlindung di balik kerudungnya. Ada liontin kotak yang bisa dibuka. Ia mengulurkannya padaku.

“Itu foto suami Ibu, Rein.”

Aku menatap foto usang itu lekat-lekat. Sungguh aku tercekat. Pria dalam foto itu, ayahku.


*dimuat dalam buku Cara Asyik Menulis Flash Fiction

0 komentar:

Posting Komentar