Selasa, 10 Januari 2012

Cinta dalam Secangkir Kopi

Ayahku seorang pecandu kopi. Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Kini ia hanya menjadi penikmat kopi. Bukan karena ia mulai khawatir dengan kesehatannya jika terus-terusan meminum kopi. Tapi karena ada rasa ngilu menanggung rindu pada pembuat kopi ternikmat. Almarhumah Ibu.


Setahun awal kehilangan Ayah terkurung kepedihan. Sehingga membuatnya takut menikmati secangkir kopi. Mungkin terlalu banyak merenung dan memperoleh nasehat dari dirinya sendiri, Ayah berangsur-angsur menemukan hidupnya kembali. Ayah mulai mau banyak bicara, mulai kembali pada aktivitasnya bersepeda bersama perkumpulan lansia, dan sesekali mau meminum kopi yang kubuatkan.


Ayah mulai datang seminggu sekali ke makam Ibu. Tadinya ia bisa tiga kali sehari datang ke sana. Aku mulai menyadari Ayahku adalah seorang pria dengan cinta yang besar. Yang ketika cinta itu diminta kembali oleh Pemiliknya, Ayahku menjadi sangat rapuh seperti tumpukan koin yang dengan sekali sentuh bisa hancur berantakan. Untunglah aku mewarisi sifat Ibu yang ia ajarkan sedari aku kecil, sabar.


Tak hanya sabar, Ibuku juga seorang perempuan yang lembut dan telaten. Meskipun ia perempuan biasa, ibu rumah tangga, yang pendidikan menengah pun tak sempat ia kecap, ia tak letih mendidik kami untuk menguasai ilmu kemanusiaan ketimbang ilmu pelajaran. Mungkin hanya itu yang ia kuasai sehingga habis-habisan ia ajarkan kepadaku.


Dari tangan Ibu juga, kemeja-kemeja Ayah terjahit rapi. Sampai sekarang masih tersimpan dalam lemari. Tapi Ayah tak mau memakainya lagi, tak juga mengijinkanku untuk memberikan kepada orang yang membutuhkan.


Ibulah awalnya yang bersikeras meminta Ayah berhenti minum kopi, paling tidak mengurangi. Tapi susah sekali Ayah bercerai dengan kopi. Sampai-sampai, seperti sedang menyapih bayi, Ibu sengaja tak menaruh gula dalam cangkir kopi Ayah. Anehnya Ayah justru semakin suka kopi pahit Ibu. Katanya eksotis. Aku pun tak pernah berani menyeruput kopi Ayah, tak ingin menyiksa lidahku dengan pahitnya yang menggigit.


“Ah, tak pahit sedikitpun.” Dulu Ayah selalu berkomentar begitu setiap kali menggodaku. Menawarkan kopi buatan Ibu untuk kucicipi.


Saat itu, kukira Ayah bohong tentang kopi pahit Ibu yang tak pahit di lidahnya. Tapi Ayahku tak pernah bohong dan tak mau mengajari anaknya berbohong. Kini aku mengerti. Bagi Ayah, kopi itu memang tak pahit sedikitpun. Karena dalam secangkir kopi itu, ada cinta Ibu yang legit. Yang lebih manis daripada gula tebu. Cinta yang menjadi candu. Cinta yang lebih kuat pengaruhnya daripada kafein kopi.


Ternyata bukan kopi yang membuat Ayah nampak berubah. Menolak kopi-kopi buatanku yang juga sama pahitnya. Ayah tak kecanduan kopi. Ayahku hanya mengingini cinta perempuan yang telah melahirkan aku.



*dimuat dalam buku Cara Asyik Menulis Flash Fiction

0 komentar:

Posting Komentar