Sabtu, 21 Januari 2012

Barefoot Gibong, Sebuah Film Tentang Bakti Anak Pada Ibu

“Barefoot Gibong”
an inspiring film to get the mean of loving our mother sincerely
-based on true story-

Namanya Gibong, anak besar berusia 40 tahun yang mengalami cacat karena demam tinggi yang pernah dideritanya saat umur 8 tahun. Gibong, seorang anak lelaki yang tinggal di sebuah dataran tinggi di Korea berdua dengan ibunya di sebuah rumah yang kecil dan sederhana. Ia sangat sayang pada ibunya. Ia membantu ibunya dan menggendong ibunya kemana saja setiap ibunya tak kuat berjalan lagi karena sakit.

Gibong anak yang bersemangat. Hobinya berlari, bernyanyi, memotret, dan menjadi komentator. Ia selalu berlari kemanapun ia pergi. Orang-orang di desanya menyebutnya “barefoot”, pelari telanjang kaki. Satu kelebihan unik Gibong adalah bisa meramalkan cuaca.

Pernah ketika Gibong ke kota, ia melihat ada nomor dada peserta lomba lari 10K terjatuh di pinggir jalan. Dipungutnya nomor peserta tersebut dan ia berlari ke barisan mencari pemiliknya. Tak disangka, pemiliknya tak ketemu, malah ia dianggap sebagai peserta dan menjadi juara pertama karena sampai paling dulu di garis finish.

Suatu hari, ada perlombaan marathon yang akan diadakan di Seoul dan desa itu di minta mengirimkan wakilnya. Kepala Desa, Mr. Baek, meminta Gibong mengikuti lomba itu. Gibong mau, karena ia sangat ingin membelikan gigi palsu untuk ibunya yang sakit pencernaan karena tidak bisa mengunyah makanan. Akhirnya ia berlatih keras dengan Mr. Baek. Orang-orang desa tadinya meragukan Gibong. Apakah seorang idiot dan cacat seperti Gibong bisa ikut lomba. Tapi melihat kegigihan Gibong dalam berlatih, mereka jadi mendukungnya.

Gibong pernah jatuh pingsan di tengah latihan yang di jalani. Mr. Baek yang mengkhawatirkannya membawanya ke dokter. Ternyata Gibong punya penyakit jantung bawaan dan disarankan oleh dokter tidak mengikuti lomba itu karena akibatnya akan fatal. Mr. Baek tidak memberitahukan hal itu kepada Gibong. Ia hanya menyuruh Gibong berhenti latihan dan melupakan lomba itu.

Gibong sedih, ia tak mau berhenti karena ingin menjadi juara dan mendapat hadiah untuk membelikan ibunya gigi palsu. Ia latihan sendiri tanpa Mr Baek. Akhirnya Mr. Baek menyerah dan memenuhi keinginan Gibong pergi ke Seoul mengikuti lomba marathon.

Gibong cemerlang di lomba marathon itu meskipun sempat tertinggal start. Di tengah lomba Gibong memimpin paling depan. Tapi semakin lama langkah Gibong semakin lambat. Sampai semua peserta sudah mencapai finish, ia belum juga terlihat. Mr Baek dan tetangga-tetangga yang mengantarkan khawatir dengan keadaannya. Akhirnya Mr. Baek menyusuri rute marathon dan menemukan Gibong sudah tergeletak di tengah jalan.

Ibu Gibong yang tinggal di desa merasa ada firasat buruk dan pergi menyusul ke Seoul. Padahal ia sudah renta dan susah berjalan. Akhirnya anak Mr Baek mengantarkannya dan menggendongnya sepanjang jalanan Seoul mencari Gibong.

Lalu bagaimana akhirnya nasib Gibong?
Apakah ia selamat?
Apakah ia berhasil mewujudkan harapannya?
Atau ia meninggal?
Bagaimana nasib ibu Gibong?
Bertemukah dengan Gibong?
Apa reaksinya melihat Gibong?
Penasaran ya???

Cerita ini meninggalkan kesan yang dalam. Tak sengaja menontonnya menjelang hari ibu 22 Desember kemarin. Mengingatkanku untuk terus mencintai ibuku, berbakti padanya, dan merawatnya hingga tutup usiaku. Karena dulu ia melakukan semua itu untukku. Gibong, dengan kondisinya, bisa memaknainya dengan baik. Ia tetap berusaha dan optimis, ia menjalani proses berusaha itu dengan maksimal, ia tak peduli apakah akhirnya ia akan berhasil atau akan mati. Cinta dan pengabdian yang luar biasa untuk ibu. Kalau Gibong bisa, Harusnya aku lebih bisa lagi...mudah-mudahan, amin. Mom, I love You...

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : seorang lelaki datang menemui Rasulullah SAW dan bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku pergauli?” Beliau menjawab, “Ibumu!” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Rasul menjawab lagi “Ibumu!” Ia balik bertanya lagi, “Siapa lagi?” Rasul kembali menjawab, “Ibumu!” Ia kembali bertanya, “Lalu siapa lagi?” Beliau menjawab, “Bapakmu!” (HR Bukhari-Muslim)

Dari Thalhah ibn Mu’awiyah al-Sulma ra, ia berkata, “Aku datang kepada Rasulullah dan berkata kepadanya,” Wahai Rasulullah, aku ingin berjihad di jalan Allah.” Beliau bertanya, “Ibumu masih hidup?” Ia menjawab, “Iya.” Beliau berkata, “Taatlah kepadanya, di kakinya terdapat surga.” (HR Thabrani)

“& Tuhanmu tlh memerintahkn spy kmu jgn menyembah selain Dia & hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dg sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dlm pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kpd keduanya perkataan ‘ah’ & janganlah kamu membentak mereka & ucapkanlah kpd mereka perkataan yg mulia.” (QS Al Isra 23)

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS Al Isra 24)

2 komentar:

TIN MOM mengatakan...

Saat menonton film itu,,saya menangis,,shin hyun joon,aktor serba bisa,memainkan perannya dengan sangat baik,,,

Dhani Setiyono mengatakan...

Betul, mbak. Beberapa kali menonton pun masih nangis. Trimakasih ya sudah mampir :)

Posting Komentar