Selasa, 10 Januari 2012

A Touching Film In Ends of 2011 : Hafalan Shalat Delisa


Novel Hafalan Shalat Delisa (HSD) sudah saya khatamkan bertahun lalu saat saya masih jadi mahasiswa. Novel yang sangat ‘touching’. Bikin air mata menggenang bahkan meleleh. Bertahun kemudian, novel ini juga saya rekomendasikan kepada suami. Malah akhirnya dia jadi penggemar berat buku-buku tulisan pengarang yang sama. Hampir semua novel yang sudah diterbitkan Tere Liye dia koleksi, hehehe …



Begitu kami mendengar novel HSD akan difilmkan, kami langsung menyambut antusias. Tak sabar rasanya menanti film ini diputar di layar bioskop. Penasaran dengan pemain dan visualisasi yang akan ditampilkan. Beruntung kami sudah pindah ke Malang, jadi bisa memastikan kami bisa nonton di bioskop. Kalau masih di Manado, belum yakin akan diputar. Apalagi kalau di Rembang, bioskopnya aja ga ada, hihihi …



Film HSD diputar tanggal 22 Desember 2011 pas di Hari Ibu. Setelah memastikan jadwalnya, main di bioskop mana dan jam berapa, kami nonton hari itu juga. Di hari pertama pemutaran film dengan semangat 45 (lebay^^). Finally, begitu keluar dari bioskop, suami mesam-mesem karena mata saya sedikit sembab dan hidung senggrak-senggruk.



Film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama ini memang cocok banget ditonton bareng keluarga. Entertainment-nya dapet, nilai moralnya dapet. Khususnya buat anak-anak, termasuk orang dewasa yang kurang suka membaca. Apalagi sound effect-nya … wuaaa … dengernya aja udah bikin hati gimanaaaa gitu. Keren deh.



HSD bercerita tentang seorang anak bernama Delisa yang kehilangan ibu kan ketiga saudarinya karena tragedi tsunami yang terjadi di Aceh Desember 2004 lalu. Bukan hanya itu, Delisa juga harus kehilangan satu kakinya. Beruntung Delisa masih bisa bertemu dengan ayahnya, bertemu dengan teman dan orang-orang baru yang menyayanginya. Berat bagi Delisa, tapi caranya menjalani hari-hari pasca bencana itu, malah menjadi semangat bagi orang-orang dewasa di sekelilingnya.



Di film HSD, selain menonjolkan tentang keikhlasan seorang anak belajar melaksanakan kebaikan (khususnya shalat), juga sangat menonjolkan sisi ‘ibu’. Setiap kali muncul adegan-adegan Delisa yang mengenang ibunya, saya pasti tak bisa menahan air mata. Pas Delisa bilang, ‘Delisa cinta Ummi karena Allah’. Terbayang seandainya anak saya nanti berucap begitu kepada saya. Wah, tak terhingga rasa harunya.



Banyak adegan menguras air mata. Pas Aisyah nangis karena iri sama Delisa, pas Delisa pertama kali ketemu abinya, setiap kali lagu Ibu yang dinyanyiin Rafly diputar, pas abinya udah susah payah masak tapi Delisa bilang nggak enak, waktu Delisa curhat di pemakaman tempat saudara-saudaranya dikuburkan, waktu Delisa protes karena umminya Umam yang ketemu duluan. Wah … ga tau deh udah abis tisu berapa :P



Tadinya Delisa berkeras menghafalkan bacaan shalatnya karena pingin hadiah kalung ‘D’ untuk Delisa, tapi kemudian bukan kalung lagi yang terpenting baginya. Delisa ingin mendoakan ibu, saudaranya, dan teman-temannya yang sudah tiada. Hmmm ... So sweet. Good Delisa ^^b



Ah, tapi saya juga jadi pengen punya kalungnya Delisa, tapi yang ini ‘D’ buat Dhani :)



Selamat menonton buat yang belum nonton. Jangan sampai kelewat ya! Siapin tisu atau sapu tangan sebelum berangkat :P

0 komentar:

Posting Komentar