Selasa, 07 Februari 2012

A Crystal Wall

Dulu,

Kita melihat dinding kristal yang menyekat demikian memikat

Tapi keindahannya mengalahkan keingintahuan apa yang ada di belakangnya

Kristal itu pun kita rubuhkan

Demi memenuhi panggilan jiwa

Seteru Rindu

Pemakaman Krapyak, 07.39

Hendra menatap lekat pria yang berdiri sendirian di tengah pemakaman. Entah makam siapa yang dikunjunginya. Hendra hanya heran, semakin berjalan ke dalam, ia semakin yakin pria itu berdiri tepat di makam yang ia tuju.

Kemejanya rapi, sebagian rambutnya memutih, dan tampaknya dia yang telah meletakkan seikat krisan di dekat nisan. Hendra berdiri di belakangnya dengan perasaan tak nyaman.

“Igun?”

Hukum Kekekalan Rasa

Barangkali, perasaan cinta itu seperti air yang tertampung di telaga hati. Ia akan diam dan tetap menjadi air selama bara tak nyala menghangatkan. Begitu ada panas yang meruap, cinta akan terkonversi menjadi uap yang menggelegak.

Namun sayangnya molekul uap punya kerapatan yang jauh lebih longgar daripada molekul air. Bila bara berhenti menghangatkan, molekul rasa semakin lama akan mendingin dan mengembun.

Embun yang luruh di pucuk-pucuk daun dan kembali tertampung di telaga hati. Kembali menyatu menjadi air. Menjadi cinta yang terpendam.

Karena itulah cinta selalu membutuhkan bara.

Seperti halnya hukum kekekalan energi, rasa cinta juga tak dapat
diciptakan atau dimusnahkan. Rasa cinta hanya dapat berubah dari bentuk
satu ke bentuk yang lain.

Mungkin sedang bertransformasi dari air menjadi uap atau dari uap menjadi embun. Lalu kembali pulang ke telaga hati. Dimana terkumpul rasa cinta yang lebih tulus : kasih sayang.

Hanya saja, perubahan ini adalah siklus kehidupan. Kita tak pernah tahu apakah rasa itu kembali menguap atau tetap terperangkap di kedalaman telaga.

Biarkan Dia yang bertitah kita mengamini saja.

Inspiring Short Movie : The Fantastic Flying Books of Mr. Morris Lessmore


Tidak ada dialog dalam film ini, hanya dengan iringan musik latar dan indah. Namun film animasi ini sungguh menyentuh

Berkisah seorang lelaki yang kotanya dilanda badai. Semua diterbangkan angin. Rumah, buku, dirinya, bahkan huruf-huruf yang tadinya dia goreskan dalam bukunya.

Minggu, 05 Februari 2012

Tutup usia

saat kenangan itu mulai menjauh dan tak tergapai,
aku menangis

dulu kebahagiaan begitu sederhana,
sekarang ia kehilangan makna

berdiri di depan cermin,
mengenali bayangan sendiri yang terasa asing

apa yang sesungguhnya terjadi?
tak adakah tanda yang bisa kumengerti?

atau inikah saatnya
mengucapkan selamat tinggal

pada hidup yang kian renta?


Monday, 11 May 2009

Syair Isyarat

bait pertama
... ... ... ...
... ... ... ...

bait kedua
,,, ,,, ,,, ,,,
,,, ,,, ,,, ,,,


?!? !?! ?!?
¿¡¿ ¡¿¡ ¿¡¿

*#@&@*#@%+*\¥¤@$.......

adakah yang mampu

mengartikan isyaratnya

menuliskan di lembar kertas hati

meninggalkan misteri


Sunday, 16 August 2009

Selamat Jalan

hari ini ada sekuntum mawar yang jatuh dari tangkainya

entah siapa yang telah gugur lepaskan nyawa

aku hanya ingin ucapkan selamat jalan

biar wangi mawar temanimu sampai akhir tujuan


*untuk korban kecelakaan pesawat TNI AD, semoga helicopter yg jatuh di Cianjur, menutup rangkaian kisah pilu ini
Thursday, 11 June 2009

Marching dreams

1
mendung tipis di langit
rintikkan gerimis di sabana hati
sirami rerumputan yang hampir mati
uapkan aroma tanah yang harum mewangi
meski singgah tak lama
selalu saja ia bisa
semaikan impian
saat logika enggan berkawan
gerimis…
telah menulis
bahwa harapan selalu ada untuk orang yang optimis

March Monologia

1
tak ada lagi bola mata yang biru
semua menjelma jadi kelabu
juga wajah-wajah merah jambu
telah memudar jadi abu-abu
apa yang terjadi pada hidup
jika hati slalu meragu
dan memilih tenggelam di palung kalbu
sunyi ...

Pagi Berkabung

Mereka bertanya, "siapa yang mati?"

Jawabku, "bukan siapa yang mati, tapi apa yang mati."

Mereka mencibir

Pergi tak mau tau

Meninggalkan aku dan kesunyian

"Apa yang mati?" gumamku

Ku jawab sendiri, "Hati, hati yang mati, hati kita telah mati."

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un

Bukankah mata[hati]mu tak pernah menangis lagi?



-jum'at pagi ini-
(sebelum kabar ledakan 2 hotel ternama di jakarta)
Friday, 17 July 2009

#aksara bermakna

Pernah tersampaikan olehmu, jika aku rindu, pandangilah langit, lihatlah bumi.
Ingatlah bahwa kita masih berpijak di bumi yang sama, kita
masih bernaung di langit yang sama.
Itu artinya kita masih berada dalam satu dimensi ruang dan waktu, dan tiadalah kita terpisah jarak yang jauh.
Karena hati kita selalu bersapa dalam do’a.

Jumat, 03 Februari 2012

Februari

Bulan kedua yang paling aku suka setelah bulan agustus (iyalaah.. agustus sering dapet hadiah sih, hehe).

Kebetulan februari juga bulan ke dua di penanggalan masehi.

Juga karena jumlah harinya yang pendek, paling pendek di banding bulan yang lain.

Juga karena 'f' di februari. Enak disebut dan enak didengar.

Karena hujan masih setia turun di februari.

Karena inspirasi, entah kenapa, sering datang di pagi-pagi februari.

Karena banyak momen yang dimulai dan terjadi di februari.

Karena heran kenapa masih ada yang mengganti 'f' di februari dengan 'p' padahal jelas-jelas di kamus bahasa kita februari ditulis dengan 'f'.

Februari.. Februari.. Kejutan apa yang kau punya kali ini?^^


ditulis di Februari dua tahun yang lalu

Kopi dan Roti

Biar dingin menyapaku.
Mengusir udara masa lalu yang menyandera hatiku.

Sekali lagi, tercium aroma kopi yang baru saja diseduh.
Juga roti mentega yang baru saja dibakar di atas selembar daun pisang.

Hmm..
Hatiku tersandera kembali.
Pada alur tak berbingkai yang pernah menyesatkanku di labirin waktu.

Unutterable

Biarkan pelangi tumbuh bersama hujan
Bersama hati yang bergetar tak sanggup bicara

Ada luka, ada sesal, ada ragu yang membelit di pucuk-pucuk akasia
Juga perih yang berkompromi dengan pedih di kesunyian