Get me outta here!
Tampilkan postingan dengan label cerkat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerkat. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Oktober 2015

Indonesian Folktales : Legenda Danau Tondano


Beberapa waktu lalu, Forum Penulis Bacaan Anak (berencana membuat website yang berisi cerita rakyat Indonesia. Website ini dibuat dalam rangka memeriahkan Frankfurt Book Fair. Dimana Indonesia diundang menjadi guest of honour alias tamu kehormatan.

Setiap anggota Paberland (sebutan Forum PBA) dipersilakan mengirimkan cerita rakyat yang sudah ditulis dalam versinya sendiri. Dari seluruh naskah yang masuk, dipilih 50 naskah untuk ditampilkan dalam website tersebut.

Selasa, 17 Februari 2015

Es Campur


Radit berlari ke rumahnya sambil menenteng bola. Keringatnya bercucuran. Puas sekali dia bermain sepakbola di lapangan kampung. Apalagi timnya menang telak 2-0.


Setelah menyimpan bola di gudang, Radit masuk dapur. Ia mencuci tangan dan wajahnya di wastafel. Saat hendak membuka kulkas, pandangannya beralih pada segelas es di atas meja makan.

Bacaan Al Qur'an Untuk Bapak

“Hei! Kamu sedang apa?” tegur Fara pada seorang anak.

Anak lelaki itu kaget dan gelagapan. Ia lekas berdiri sambil memegangi punggungnya. Masjid sedang sepi. Fara sepertinya datang terlalu awal untuk rapat dengan remaja masjid lainnya.

“Nggak apa-apa, Kak. Cuma lihat-lihat,” jawab si anak sewajar mungkin. Padahal jantungnya sedang berdebar keras.

Gelagatnya membuat Fara curiga. Apalagi anak itu terlihat asing. Sepertinya bukan anak komplek sini. Fara melirik kotak amal. Masih aman di tempatnya dan tertutup rapat.

Koin Dira

“Haduh panasnya,” keluh Dira sambil menyeka peluh.

Dia melemparkan timba ke dalam sumur. Namun karena tak berpengalaman, timba itu hanya terisi air separuhnya saja. Sambil melongok ke sumur, Dira menarik timba itu naik. Tak ada katrol yang mempermudah usahanya.

Usai mencuci muka dan kedua tangannya, Dira mengguyurkan air ke kedua kakinya.

Jumat, 15 Juni 2012

Flora : Episode Floristerious

"Aku tak akan menggadaikan kebahagiaan yang kugenggam hanya untuk memenuhi keingintahuanku akan sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu saat kau tak lagi bersamaku. Sudah cukup bagiku pernah memilikimu meski hanya di masa lalu." Lagi-lagi Flora tenggelam dalam kenangan.

"Apakah kebahagiaanku menyakitimu? Apakah kebahagiaanku mencederai hatimu? Lalu siapa yang harus disalahkan? Kau? Atau aku?" Flora berpaling. Barangkali dia yang keliru mengartikan bunga-bunga yang jatuh di jendelanya setiap pagi.

Selasa, 07 Februari 2012

Seteru Rindu

Pemakaman Krapyak, 07.39

Hendra menatap lekat pria yang berdiri sendirian di tengah pemakaman. Entah makam siapa yang dikunjunginya. Hendra hanya heran, semakin berjalan ke dalam, ia semakin yakin pria itu berdiri tepat di makam yang ia tuju.

Kemejanya rapi, sebagian rambutnya memutih, dan tampaknya dia yang telah meletakkan seikat krisan di dekat nisan. Hendra berdiri di belakangnya dengan perasaan tak nyaman.

“Igun?”

Rabu, 11 Januari 2012

Cinta Mewangi di Mekarwangi

Bakti Sosial BEM Fakultas Bahasa di Desa Mekarwangi mempertemukanku dengan Bu Sari. Sekilas tak ada yang istimewa dari wanita paruh baya itu. Tak kusangka dialah yang merintis pendirian Panti Asuhan Mekarwangi. Wajahnya mungil penuh welas asih. Tubuhnya tak gemuk, tak juga kurus. Yang paling khas darinya adalah senyuman yang tulus.

Dari mana aku tahu senyumannya tulus? Tentu saja dari interaksiku dengannya. Ya. Sejak baksos itu, aku rajin berkunjung ke panti. Aku menjadi salah satu tenaga sukarela di sana. Aku mengajar Bahasa Inggris.

Melihat anak-anak di panti, aku seakan melihat pada sebuah cermin. Bagaimana tidak? Apa yang mereka alami juga aku rasakan, terutama di bagian tidak punya orang tua lagi. Ibuku meninggal saat melahirkan aku, ayahku meninggal beberapa tahun yang lalu. Aku sebatang kara tanpa saudara. Mungkin karena itulah hatiku serasa ikut tinggal di panti asuhan ini. Mencari kasih sayang saudara, terutama orang tua seperti Bu Sari.

Cinta dalam Secangkir Kopi

Ayahku seorang pecandu kopi. Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Kini ia hanya menjadi penikmat kopi. Bukan karena ia mulai khawatir dengan kesehatannya jika terus-terusan meminum kopi. Tapi karena ada rasa ngilu menanggung rindu pada pembuat kopi ternikmat. Almarhumah Ibu.


Setahun awal kehilangan Ayah terkurung kepedihan. Sehingga membuatnya takut menikmati secangkir kopi. Mungkin terlalu banyak merenung dan memperoleh nasehat dari dirinya sendiri, Ayah berangsur-angsur menemukan hidupnya kembali. Ayah mulai mau banyak bicara, mulai kembali pada aktivitasnya bersepeda bersama perkumpulan lansia, dan sesekali mau meminum kopi yang kubuatkan.

Minggu, 10 Juli 2011

Aku, Ibu, dan Bunda : Kami Wanita


Aku adalah anak yang hadir antara Ayah, Ibu, dan Bunda. Seringkali orang memandang sinis keluarga kami hanya karena Ayah berpoligami. Dosakah?

Tentu saja tidak! Tapi paling tidak, sesekali akulah yang harus menerima ejekan dan cibiran kawan sebaya yang tak mengerti. Di sisi lain, justru ada yang iri mengapa keluarga kami seharmonis ini meskipun ayah berpoligami. Aku, Nadira, Ayah, Ibu, dan Bunda selalu tampil ceria saat bersama. Tak pernah ada yang ingin melewatkan foto keluarga, lengkap berlima, dengan baju yang sama kala lebaran tiba.

Kado Untuk Natsumi



Hari itu adalah musim panas terakhir yang akan kulewati di Negeri Sakura. Studi masterku usai tak lama lagi. Ada perasaan enggan meninggalkan Jepang. Tapi ada kerinduan pada kampung halaman yang rasanya tak terbendung lagi. Karenanya aku tak ingin melewatkan malam meriah di festival Hanabi1).
“Oba-San2)!”
Aku menoleh.
Seorang bocah kecil dengan yukata3) merah jambu berdiri malu-malu menggandeng tangan ayahnya. Natsumi Watanabe, putri bungsu Profesor Watanabe. Rambut lurusnya dikuncir ekor kuda. Poninya hampir sampai ke matanya yang sipit. Setiap kali tersenyum, mata indahnya berubah menjadi selarik garis. Pembawaannya riang dan ceria. Aku sudah beberapa kali bertemu dengannya bila ia sedang mengunjungi Profesor Watanabe di Tokyo. Tapi biasanya ia tinggal dengan ibunya di Sendai.

Sabtu, 28 Mei 2011

Senandung Hujan di Tanah Gersang

Sebulan ini tak ada setetes pun air dari langit. Padahal Oktober sudah sampai penghujung bulan. Semasa kecilku dulu, Oktober menjadi bulan favorit karena bisa berkecipak setiap hari di bawah hujan bersama kawan-kawan selepas sekolah. Tapi sampai hari ini, bahkan tanah sawah Bapak masih pecah-pecah.


Aku lihat pagi-pagi Bapak duduk di serambi menghabiskan batang rokok lintingannya sendiri. Biasanya jam segini ia menjejakkan kaki di sawah menanam padi. Hatiku miris. Sesekali Bapak menengok ke langit. Aku tahu apa yang ia tunggu. Hujan.
"Pak ...." Aku duduk di sisinya. Ia hanya menoleh sekilas saja.
"Belum musimnya mungkin." Lanjutku bermaksud menghiburnya.
"Langite isih dhuwur, Nduk." Bapak beranjak.
Aku tahu ini sulit bagi bapak. Seorang petani kecil dengan sawah tadah hujan. Bila tak ada hujan, kami tak bisa tanam. Bila hujan berlebihan, akar-akar padi kami busuk lalu mati. Petani tradisional seperti kami memang sangat bergantung kepada alam.

*) hasil belajar menulis sepuluh menit dengan tema hujan

Rabu, 04 Mei 2011

Mimpi Layang-Layang

Juli 2010, Museum Layang-Layang Pondok Labu Jakarta.

Layang-layang. Kenapa aku disebut layang-layang? Karena bila diterbangkan aku akan melayang di langit biru. Bagaimana bila tidak terbang? Mungkin aku tak layak disebut layang-layang.

Ini hari ke 563 sejak aku diciptakan oleh tangan pembuat layang-layang terkenal dari Jogja, Sartono Mujib. Hari ini tepat hari ke 500 aku berada di museum layang-layang. Dan sejauh ini, tak pernah sekalipun aku hinggap di angkasa. Masihkah pantas aku menyebut diri sebagai layang-layang?

Selasa, 12 April 2011

Tentang Musim dan Hati

Rasanya seperti tersedot pada lingkaran masa lalu sejak pertemuan denganmu hari itu. Udara tiba-tiba sedingin musim penghujan yang datang hampir setiap hari di kampung kita. Aku tak pernah menyangka akan mengalami kegagapan emosional yang membuatku tampak bodoh sekali. Tapi aku tak punya pilihan.

"Apa kabar?" sebuah pertanyaan basa basi kaku kuucapkan sebagai balasan senyumanmu. Kau tak pernah berubah. Selalu tampak manis setiap kali menyunggingkan bibir. Membuatku terkunci seperti orang kena stroke.

Catatan Cinta Seorang ‘Pasukan’


Kangen adalah menu sehari-hari yang harus ku telan dengan lapang dada. Waktu telah mencatat bait-bait kerinduanku, terutama pada istriku, Syifa. Sebulan yang lalu ia melahirkan anak kami, namanya Raihan. Pedih hatiku tak dapat mendampingi istri tercinta mempertaruhkan nyawa. Nelangsa batinku tak bisa mengadzani putraku yang pertama.
Jarak seperti menjadi musuh, sekaligus karib dalam setiap helaan nafasku. Tetapi ini adalah tugas negara untuk kemanusiaan, bukan paksaan. Bulan ini, Kontingen Garuda XX/C sudah bertugas lebih dari 6 bulan di Kongo dan kami masih belum tahu kapan akan kembali.
Malam ini, yang ku bisa hanya menitipkan munajat cinta padaNya, lagi.
Kongo, April 2008

Rembulan Cinta


Renita sudah tampil cantik. Ia sudah siapkan semuanya di teras lantai dua rumahnya. Ini malam ke lima belas dan itu artinya : PURNAMA. Sejak Dony mengambil S2 di Jepang, mereka berjanji akan meluangkan waktu khusus berdua. Mereka akan menikmati purnama. Dengan waktu yang sama, bulan yang sama, hidangan yang sama : secangkir teh dan pisang goreng, mereka merasa sungguh-sungguh sedang bersama. Lalu mereka akan chatting semalaman sampai menjelang pagi.