Sabtu, 21 Januari 2012

Sebuket Cinta Yang Layu

I
getar dawai yang kau petik mengingatkanku pada ritual cinta yang tak pernah tertinggal setiap aku kehilangan makna

mencarinya, mengingatnya, menyusunnya, merangkainya, mengikatnya, memenjarakannya dalam sel abu abu di kepalaku

pergi menjangkau makna yang tak pernah terejawantahkan lewat kata-kata

hanya sorot mata yang saling bertanya dan menjawab
dan dawaimu bergetar mengiringi senyap



II
sebuah luka ternganga
termangu dalam balutan gaun biru
tertegun dihempas rindu
kau diam tergugu

sampai kapan kau akan begitu?
seakan tinggal di pulau badai la nina
padahal ia sudah pergi lama

gaun pengantinmu sudah tak baru lagi
malam pertamamu kau lewati sendiri
kapan kau kan tersenyum lagi?
tak ingatkah surga menunggumu dengan luas cintaNya?

sampai saat itu tiba,
tersenyumlah barang sekali



III
selayak kematian cinta
tak berhenti berair mata
walau yakin tak akan lagi menemukan kata
yang tepat untuk kueja
menjadi frase perpisahan yang memilukan

selayak cinta yang mati
seperti tak ada lagi hari
untuk bisa tersenyum seri
karna perpisahan sudah cukup menikam hati
berhenti...berhenti...hanya berhenti...cukup sudah

0 komentar:

Posting Komentar