Selasa, 12 April 2011

Tentang Musim dan Hati

Rasanya seperti tersedot pada lingkaran masa lalu sejak pertemuan denganmu hari itu. Udara tiba-tiba sedingin musim penghujan yang datang hampir setiap hari di kampung kita. Aku tak pernah menyangka akan mengalami kegagapan emosional yang membuatku tampak bodoh sekali. Tapi aku tak punya pilihan.

"Apa kabar?" sebuah pertanyaan basa basi kaku kuucapkan sebagai balasan senyumanmu. Kau tak pernah berubah. Selalu tampak manis setiap kali menyunggingkan bibir. Membuatku terkunci seperti orang kena stroke.

Sial! Kenapa aku harus bertemu denganmu hari ini. Di saat aku seratus persen tampak seperti gembel kurang makan yang mengalami depresi tingkat tinggi. Kurasa sedikit tergambar juga ketidakwarasanku yang mungkin tak ingin kau tahu alasannya.

"Baik. Bagaimana denganmu?" lugu kau bertanya pertanyaan yang menjebakku. Tak kau lihatkah rupaku sudah mirip topeng monyet belingsatan menahan sesuatu yang aku sendiri tak tahu apa.

"Baik. Seperti yang kau lihat." Jawabku menghindari kau memperpanjang urusan rumit ini. Kau tersenyum lagi.

"Syukurlah. Tapi aku merasa ada sesuatu yang berbeda darimu."

Hmmmfff ... tepat. Sekali lagi kau membidikku tepat sasaran. Aku benci situasi ini.


"Oya? Apa menurutmu?" selalu dan selalu kau mengulum senyum seolah-olah menertawakanku yang sudah hampir habis ditelan dingin. Hatiku remuk, andai kau tahu.

"Sedikit lebih kurus."

Hahhhhh. Aku lega kau tak bilang sedikit kurang waras.


Aku kurang waras sejak kau pergi dari hidupku. Meskipun kau tak pernah tahu bahwa dulu aku sangat mengharapkan kehadiranmu dalam hidupku. Perlahan-lahan kau menyiksa batinku dengan kehadiranmu kembali, menemuiku, dalam situasi yang tak mungkin bagiku menyatakan isi hati.

Berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun kuteriakkan namamu di mulut Kawah Bromo. Kadang terbersit di hatiku ingin melompat mengejar suara yang baru saja kukeluarkan dari tenggorokan. Setiap hari harus menyesali mengapa kau harus pergi.

"Hei, kenapa diam? Kau tak kangen padaku?" kalimatmu menohok ulu katiku.

Masih bolehkah aku rindu pada istri orang yang sudah menjadi ibu bagi anak-anak manisnya? Gila! Aku tahu maksudmu. Selamanya, bagimu, aku hanyalah Panjul yang tak punya hasrat beristri. Masih beruntung kau tidak memandangku dengan tatapan jijik.


Lincah kau mainkan lidahmu menuturkan suami dan anak-anak yang kau cintai. Berkali-kali kau menghujamkan pisau ke dadaku dengan kalimatmu. Aku ingin menyingkir darimu. Tapi otak tak warasku ingin bersanding denganmu. Walaupun nyata kita seperti 'beauty and the beast'.

Harus bagaimana aku menjawab ceritamu. Menceritakan
padamu tentang kekacauan hidupku? Menceritakan betapa tersiksanya hidupku bertahun-tahun setelah kau pergi? Bagiku kau matahari. Dan sejak engkau tiada, setiap hari aku mendung dan berkabut.

"Sayang, ayo pulang." Aku hafal betul suara itu. Lelaki yang telah mengambilmu dari sisiku. Lelaki tampan, mapan, sopan. Bagaimana bisa kutandingkan diriku dengannya.

"Mas Panjul, kami pamit dulu ya. Aku, Resti, dan anak-anak mau pulang ke Jakarta besok pagi. Hari ini kami mau ke Surabaya." Perlahan dia berucap, khawatir aku tak paham yang disampaikannya. Aku hanya mengangguk. Dia menggandeng Restiku pergi.

"Panjul edan ... Panjul idiot ... Panjul edan ... Panjul idiot." Serombongan anak-anak kampung yang biasa mengolok-olokku berlalu di hadapan. Biasanya aku lempari bocah-bocah itu dengan batu saking kesal dan marahnya diriku. Kali ini kubiarkan mereka berlalu. Ingin menunjukkan pada Resti, Panjul tak seperti yang mereka hinakan. Walaupun sering batinku merintih, andai saja mereka mengerti aku tak pernah ingin terlahir seperti ini.

"Heh, kalian anak-anak nakal. Pergi!" Halau Bayu. Kulihat masih menggandeng tangan Resti. Dan tak salah kulihat Resti mengusap air mata dari pipinya.

Apa sebenarnya yang kau rasakan Res? Mengapa kau menangis? Aku ingin tahu.

Mengapa? Apa kau ingin tahu? Karena aku mencintaimu.

0 komentar:

Posting Komentar