Sabtu, 21 Januari 2012

Jatuh Hati VS Patah Hati

Apa yang dirasakan seseorang saat jatuh? Secara spontan, kebanyakan orang menjawab, ”Sakit.” Entah itu jatuh dari motor, jatuh dari kursi, jatuh dari pohon, jatuh dari tangga, jawabannya sama. Bagaimana pula kondisi sesuatu saat mengalami peristiwa patah? Sebagian orang menjawab rusak, sebagian lagi berkata hancur. Tapi apa yang terasa, saat yang rusak atau hancur itu terjadi pada bagian tubuh seseorang? Kebanyakan memberikan jawaban, “Sakit.” Jadi kesimpulannya apa yang dirasakan oleh seseorang saat mengalami peristiwa jatuh atau patah adalah sama. Sama-sama sakit.

Tapi bagaimana bila di belakang kata ‘jatuh’ ternyata diikuti oleh kata ‘hati’? Sakitkah orang yang merasakan ‘jatuh hati’? Dengan mengesampingkan kemungkinan tentang perasaaannya yang tak tersampaikan atau malah bertepuk sebelah tangan, dunia bisa jadi lebih berwarna, burung-burung bernyanyi lebih merdu dari biasanya, hujan pun terasa jauh lebih indah daripada sebelumnya. Dahsyat bukan?

Dan bagaimana pula bila di belakang kata ‘patah’ kita beri tambahan kata ‘hati’? hanya satu persepsi rasa atas frase ‘patah hati’. Tak lain tak bukan hanya lah rasa sakit yang tiada terkira. Waktu seakan berhenti, dunia sepi. Hidup terasa tak berarti. Tak sedikit yang ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Wow...menyedihkan sekali.

Dua gambaran suasana antara jatuh hati dan patah hati memang bertolak belakang. Tapi gejala terhadap penderitanya sama. Persis seperti lagu Ingat Kamu-nya Maia-Meichan. Aku mau makan ku ingat kamu...Aku mau tidur ku ingat kamu... Semua aktivitas dijalani sambil teringat -kamu-. Hanya saja yang satu kalo ingat terus senyum-senyum, yang satu lagi jadi mewek. Waduw...
So...apa obatnya? Wah...wah... kalau pertanyaan ini, lebih baik ditanyakan kepada pihak berwenang alias dokter. Saya cuma mau membandingkan 2 frase sederhana sederhana ini secara sederhana^^.

Yang pasti, jatuh hati ataupun patah hati terjadi pada objek yang sama, yaitu HATI. Jadi kalau tidak ingin merasakan sakitnya jatuh, berjalanlah pelan-pelan, hindari kerikil tajam apalagi batu besar, berpegangan yang kuat saat memanjat, patuhi rambu-rambunya. Kalau ga mau patah? Simpanlah baik-baik agar tidak terjatuh. Ingat, salah satu penyebab patah adalah karena terjatuh. Jangan di banting. Perlakukanlah dengan baik, jangan kasar apalagi memakai kekerasan. STOP VIOLENCE!!! (Lhoh...lhoh...lhoh...)

Sebagai penutup, saya ucapkan terimakasih telah membaca tulisan ‘ga jelas’ ini, hehehe... jika berkesan tinggalkan pesan, jika tak berkenan mohon abaikan^^,

0 komentar:

Posting Komentar