Sabtu, 21 Januari 2012

Malaikat vs Manusia vs Syetan

Malaikat adalah cerminan dari segala sifat positif, sifat baik, sifat terpuji. Bila disimbolkan dengan warna, maka putih adalah warna yang tepat untuk mewakilinya.

Kebalikan dari malaikat, syetan adalah cerminan dari segala sifat negatif, sifat buruk, sifat tercela. Warna hitam biasa digunakan sebagai simbol untuk menggambarkan karakter ini.

Lalu kira-kira apa warna manusia? Manusia adalah makhluk dualisme yang berada di tengah-tengah karakter positif dan negatif. Untuk tahu warna manusia, mudah saja. Tinggal kita campur warna putih malaikat dan warna hitam syetan, jadilah abu-abu.

Manusia berada pada spektrum warna abu-abu dengan intensitas yang berbeda-beda. Ada abu-abu yang sangat pucat, yang artinya punya sifat yang cenderung ke arah positif karena warna putihnya (karakter malaikat) lebih dominan. Ada pula yang berwarna abu-abu gelap yang tentu saja menunjukkan kecenderungan pada sifat negatif (karakter syetan).

Setiap manusia diberikan warna abu-abu. Masalah intensitas atau kecerahannya tergantung tergantung manusia itu sendiri, bagaimana ia melukis warna dirinya. Termasuk dengan konsekuensi yang harus ditanggungnya ketika memutuskan menambahkan warna putih atau warna hitam ke dalam kanvas kehidupannya.

Selalu ada peluang warna abu-abu itu berubah. Dari pucat menjadi semakin gelap atau dari gelap menjadi lebih terang. Warna abu-abu ini akan berhenti berubah saat jatah waktu manusia di dunia telah habis. Itulah warna akhir kita sebagai manusia : abu-abu dengan tingkat kecerahan 0-100%.

Manusia abu-abu

Aku manusia abu-abu
ada setan dan malaikat dalam hatiku
membisikkan rayuan taman sijjil dan taman firdaus
hendak kemana kan kau bawa aku?

Aku manusia abu-abu
ingin menjadi selembar kaffan
putih bersulam harapan
tak legam seperti jelaga tak berkawan

Manusia abu-abu
berjalan di atas utas tak beruas
tergelincir sedikit
jatuh kemana?
taman firdaus atau taman sijjil?

Faalhamahaa fujurohaa wa taqwaaha

Hanya Kau yang tahu

0 komentar:

Posting Komentar