Kamis, 16 Juni 2011

Hal Sepele Berbuah Petaka dalam Cerpen


Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan saat menulis cerita, terutama dalam menulis cerpen realis/natural. Salah satunya adalah logika cerita. Kesalahan dalam membangun logika cerita akan menimbulkan tanda tanya bagi pembaca. Cerita menjadi kurang nikmat dibaca.
Nggak mau yang kayak gitu terjadi kan?
Terus gimana dong?
Tenang. Ada solusinya.
This is it, writing tips ala Joni Lis Efendi.

Perhatikan 5 kesalahan kecil tapi berakibat fatal dalam cerpen kamu berikut ini.

1) Ketidaksinkronan waktu kejadian atau usia tokoh. Ini sering terjadi karena tidak memperhatikan kronologis cerita atau usia tokoh. Misalkan, tokoh cerita meninggal 3 tahun yang lalu, tapi disinggung bawah dia pernah menitipkan kado untuk pacarnya 2 tahun yang lalu. Tebak sendiri, duluan mana dia mati atau kapan dia menyerahkan kadonya.

Seharusnya dia menyerahkan kado itu tiga tahun yang lalu dan dua tahun lalu dia meninggal. Saran: teliti lagi jika menyebut tanggal, bulan, tahun atau bilangan tahun.

Sebagian juga abai dengan kronologis rentang usia tokoh, biasanya yang mengambil alur mundur harus baik-baik memerhatikan hal ini.

2) Ketidakcocokan dengan fakta yang sebenarnya, baik itu fakta sejarah, sosial, budaya, atau geografis. Jangan pernah bisa menjumpai restoran KFC tahun 1945. Atau, jangan mimpi di Jakarta turun hujan salju lebat.

3) Ketidaknalaran alias susah diterima akal sehat; mana ada anak usia 1 bulan bisa nendang bola, mana mungkin orang yang digilas tronton bisa hidup lagi. Ini harus diperhatikan baik-baik bagi siapa saja yang menulis cerpen realis/naturalis yang berkisah tentang cerita sehari-hari apa adanya.
kalau yang bergaya suryalis atau cerpen abstrak mungkin masih bisa diterima akal.

4) Kejadian yang tiba-tiba tanpa ada sebab yang jelas, atau perubahan nasib yang terjadi pada tokoh cerita tanpa ada usaha sama sekali, misalkan seorang anak tiba-tiba dapat warisan 1 triliun, tiba-tiba tokoh yang sehat dipaksa mati seketika, atau yang sekarat tiba-tiba sehat hanya lantaran mendengar kata, "Sayang, bangun dong, aku mau traktir kamu makan bakso kambing."

5) Plot yang melompat-lompat, indikasi paling mudah dilacak, suatu peristiwa yang tidak tahu apa hubungannya tiba-tiba terjadi dalam cerpen, ini mirip dengan poin nomor 4, tapi ini seakan-akan bukan bagian dari cerita. Contoh: kisah tentang persaiangan Dedi dengan Yanto memperebutkan Ani, tapi si penulis iseng memasukan adegan kambingnya Dedi beranak sampai harus operasi cesar, nah loh ....

Koreksi lagi cerpenmu.
Apa itu Writing Revolution? Simak di sini.

0 komentar:

Posting Komentar