Minggu, 10 Juli 2011

Aku, Ibu, dan Bunda : Kami Wanita


Aku adalah anak yang hadir antara Ayah, Ibu, dan Bunda. Seringkali orang memandang sinis keluarga kami hanya karena Ayah berpoligami. Dosakah?

Tentu saja tidak! Tapi paling tidak, sesekali akulah yang harus menerima ejekan dan cibiran kawan sebaya yang tak mengerti. Di sisi lain, justru ada yang iri mengapa keluarga kami seharmonis ini meskipun ayah berpoligami. Aku, Nadira, Ayah, Ibu, dan Bunda selalu tampil ceria saat bersama. Tak pernah ada yang ingin melewatkan foto keluarga, lengkap berlima, dengan baju yang sama kala lebaran tiba.

Tak habis pikir ada saja yang mengira kami berpura-pura. Entah bagaimana pandangannya, padahal kami biasa saja menjalaninya. Hidup orang lain memang selalu tampak lebih menarik daripada hidup sendiri, mungkin begitu bagi mereka.

Aku kini sudah dewasa. Tumbuh sebagai wanita seperti Ibu dan Bunda. Dan kini aku mengerti apa yang dulu tak bisa kubaca dari tatapan mereka.

Ibu adalah istri pertama Ayah. Ia bersabar meski tak bisa menjadi istri sempurna. Dan ayah berlapang dada menerima kondisi ibu yang tak bisa memberinya keturunan.

Bunda adalah wanita yang melahirkan aku dan Nadira. Bunda adalah wanita yang bersabar berada diantara separang manusia yang kuat cintanya. Dengan lapang dada Bunda bersedia menjadi yang kedua untuk kebahagiaan Ayah, Ibu, dan tentu saja kebahagiaan Bunda jua.

Semakin hari semakin aku mengerti mengapa tatapan ibu begitu berbeda saat aku, Bunda, dan Ayah bercengkerama di atas sofa. Ibu cemburu namun tak buta. Fitrah perasaan seorang wanita. Ada hal lain yang sekarang aku ketahui, kesedihan terpendam tak bisa memberikan kebahagiaan yang serupa kepada pria yang dicintainya. Hanya itu saja. Tapi aku tahu hatinya luka.

Terbaca juga olehku getar hati Bunda yang merana melihat Ayah dan Ibu duduk berdua di beranda rumahnya. Menghabiskan sore sambil melahap kue buatan istri tercinta. Bunda tahu seberapa besar cinta Ayah untuk wanita sederhana itu. Mata bunda tak lagi bisa menyembunyikannya dariku. Aku bisa merasakannya. Kecemburuan yang tertahan.

Salahkah Ayahku? Aku tak bisa bilang iya. Mungkin ia hanya tak pernah bisa mengerti apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Cintanya besar, kasih sayangnya kepada kami tak pernah kurang. Lantas apa lagi yang mau kami tuntut darinya sedang kami sadar sepenuhnya ia hanya seorang manusia biasa.

Memang demikianlah, Ayah. Rahasia kami para wanita. Sekuat apapun kami menahan, tiada yang dapat menyangkal perasaan-perasaan istimewa ini. Karena Ibu dan Bunda keduanya juga hanya manusia biasa.

Aku bangkit dari dudukku, kuhapus air di mata Bundaku. Tangan bunda gemetar, menyeka air di pipiku.

0 komentar:

Posting Komentar