Selasa, 07 Februari 2012

Seteru Rindu

Pemakaman Krapyak, 07.39

Hendra menatap lekat pria yang berdiri sendirian di tengah pemakaman. Entah makam siapa yang dikunjunginya. Hendra hanya heran, semakin berjalan ke dalam, ia semakin yakin pria itu berdiri tepat di makam yang ia tuju.

Kemejanya rapi, sebagian rambutnya memutih, dan tampaknya dia yang telah meletakkan seikat krisan di dekat nisan. Hendra berdiri di belakangnya dengan perasaan tak nyaman.

“Igun?”



Pria yang dipanggil Hendra sedikit terkejut lalu menoleh.

“Hendra?”

Mereka bersalaman. Hanya itu saja karena kemudian keduanya larut dalam keheningan di sisi makam yang sama : makam Sasi.


Kafe Cokro, 08.12

“Lama tidak melihatmu.”

Igun tersenyum sekilas.

“Sudah lama di sini? Setahuku kamu menetap di Australia.” Lanjut Hendra.

“Dua bulan. Ada research yang digarap college-ku dengan Universitas Avicenna. Aku termasuk timnya.”

“Keluargamu juga di sini?” tanya Hendra sambil mengaduk kopinya.

“Aku belum berkeluarga.”

Jawaban Igun sontak membuat Hendra terdiam. Ia menghirup nafas dalam-dalam. Seperti ada yang menyesak di dadanya, kalimat yang ingin ia muntahkan segera, “jadi kau masih mencintai Sasiku?” tapi kalimat itu ditahannya di tenggorokan. Ia berdehem.

“Maaf aku tadi datang ke makam Sasi.”

Mendengar ucapan Igun, Hendra mendengus kesal. Bagaimanapun ia merasa cemburu mengetahui ada pria lain yang mencintai istrinya, yang cintanya sama besar dengan cinta yang dimilikinya, mungkin lebih. Hendra menyeruput kopinya membuang getir yang ia rasakan.

Igun menatap keluar. Mungkin hatinya dipenuhi rasa bersalah, tapi ia tak mau kalah. Ia sudah kalah 25 tahun yang lalu dari memenangkan cinta Sasi. Ia sudah kalah, selama 25 tahun tak mampu menghapus Sasi dari hidupnya. Meskipun ia tahu telah salah karena mencintai istri sahabatnya sendiri.

Selama ini, Igun pergi jauh, menjauh hanya demi Sasi, orang yang dicintainya habis-habisan. Ia bendung rindunya untuk meredam rasa sakit karena kehilangan Sasi. Masih terlarangkah kini ia mengunjungi Sasi yang bahkan hanya tampak nisannya?

Dua pria paruh baya itu berseteru dalam diam. Jatuh dalam perjalanan masa lalu. Mereka berdua sama-sama tahu siapa yang dulu sangat dicintai Sasi. Mereka sama-sama tahu mengapa Sasi memilih Hendra : kecelakaan batin. Luka-luka masa lalu yang perih. Bagi Igun, Hendralah yang merampas Sasi. Tetapi bagi Hendra, Igun tak lagi punya hak untuk mencintai perempuannya.


Kafe Cokro, 08.59

“Pa, maaf lama. Icha nunggu dosen research Icha belum datang.” Seorang gadis belia menghampiri Hendra lalu mencium tangannya. Hendra tersenyum menang. Matanya melirik pada Igun.

“Lhoh, kok Papa sama Profesor Gunawan? Ini lho Pa, dosen research yang Icha ceritain, yang Icha kagum banget. Papa kenal?” kini Igun yang tersenyum menang.

0 komentar:

Posting Komentar