Minggu, 10 Juli 2011

Kado Untuk Natsumi



Hari itu adalah musim panas terakhir yang akan kulewati di Negeri Sakura. Studi masterku usai tak lama lagi. Ada perasaan enggan meninggalkan Jepang. Tapi ada kerinduan pada kampung halaman yang rasanya tak terbendung lagi. Karenanya aku tak ingin melewatkan malam meriah di festival Hanabi1).
“Oba-San2)!”
Aku menoleh.
Seorang bocah kecil dengan yukata3) merah jambu berdiri malu-malu menggandeng tangan ayahnya. Natsumi Watanabe, putri bungsu Profesor Watanabe. Rambut lurusnya dikuncir ekor kuda. Poninya hampir sampai ke matanya yang sipit. Setiap kali tersenyum, mata indahnya berubah menjadi selarik garis. Pembawaannya riang dan ceria. Aku sudah beberapa kali bertemu dengannya bila ia sedang mengunjungi Profesor Watanabe di Tokyo. Tapi biasanya ia tinggal dengan ibunya di Sendai.
“Hi, Mi Chan4). You look so cute.” Ia tersenyum. Menggamit tanganku dan membisikkan sesuatu.
“Oba-San, today is my birthday.”
“Oya? Oh … happy birthday hunny. I haven’t any gift for you now, but I promise I will send it to Sendai.”
Oke … sekalipun janji pada anak-anak, kurasa tetap harus ditepati.
Sayangnya aku baru ingat saat aku sudah di Indonesia. Kesibukan luar biasa saat itu membuatku lupa mengirimkan kado yang kujanjikan untuk Natsumi. Aku pastikan akan mengirimnya walau terlambat. Aku menyempatkan mampir ke toko mainan anak-anak sepulang kerja. Pasti ada sesuatu yang unik yang bisa aku kirimkan padanya. Mahal diongkos sih. Tapi tak apa.
“Mbak, tolong bungkus yang bagus ya. Kasih kardus juga.”
“Laporan terakhir korban tsunami di Jepang yang terjadi tadi pagi telah mencapai 11 orang dan korban hilang tercatat lebih dari 200 jiwa. Daerah Sendai mengalami kerusakan infrastruktur paling parah.” Sebuah berita di TV yang ada di toko tersebut membuatku terlonjak. Kulihat tayangan kondisi daerah yang terkena tsunami. Dan pikiranku langsung tertuju pada Natsumi. Tsunami itu tak hanya menyapu Sendai, tetapi juga meluluhkan batinku.
“Mbak, ini kadonya sudah selesai dibungkus.”
Kupandangi kado cantik untuk Natsumi. Mataku nanar. Kemana harus kucari dirimu Mi Chan? Kemana harus kualamatkan kado ini? Segera kuhubungi nomor ponsel Profesor Watanabe yang masih tersimpan di handphoneku.
“Tuut … tuut … ”
Catatan :
1) Pesta kembang api
2) Tante
3) Sejenis kimono dari bahan katun
4) Panggilan untuk Natsumi yang masih anak-anak 

  *dimuat di buku Kado Untuk Jepang

0 komentar:

Posting Komentar