Sabtu, 20 Februari 2016

Femina No 6, 12 Februari 2016 : Harta Karun

Tulisan ini, dimuat di rubrik Gado-Gado di Majalah Femina. Ada proses yang panjang dari menulis naskah ini hingga akhirnya dicetak di majalah.

Sebelum dimuat, saya memang sudah mendapat pemberitahuan dari Femina. Sekaligus permintaan mengirimkan surat pernyataan bermaterai. Sekitar sebulan lebih seminggu kemudian, cerita ini tampil di sana.

Naskah Gado-Gado yang saya posting di blog ini, masih versi asli. Sedangkan yang dimuat sudah disunting dan beberapa dipotong. Mungkin karena terlalu panjang. Hehehe. 

Kalau teman-teman punya pengalaman pribadi yang berkesan, bisa juga lho ditulis dan dikirimkan ke rubrik ini. Panjangnya maksimal 3 halaman folio, ketik 2 spasi. Nama tokoh dan tempat kejadian boleh disamarkan. Tapi kejadiannya bukan fiktif ya. Pengirimannya bisa melalui email kontak@femina.co.id.
  


Harta Karun
Oleh Dian Sukma Kuswardhani

            “Mas, lihat tempat minumnya Arfan nggak?” tanya saya pada suami yang sedang menemani anak kami bermain. Suami saya hanya menggeleng.
            “Kemana ya?” gumam saya penasaran.
Saya cari botol minum itu di kamar, di kulkas, di meja makan, di meja dapur, di lemari piring. Tidak ada dimana-mana. Padahal sudah saatnya dicuci. Karena tidak ketemu juga, akhirnya saya abaikan dan lanjut mencuci piring.
            Saat saya sedang membereskan mainan Arfan, saya tidak sengaja menemukan botol minum itu di dalam jok mobil-mobilannya. Tempat penyimpanan yang tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya. Akan saya ingat-ingat. Lain kali kalau mencari barang, tempat ini menjadi salah satu tempat wajib diperiksa.
            Di lain waktu, saya heboh mencari benda lain. “Adek, baju gantinya ditaruh dimana?” tanya saya pada Arfan yang sedang asyik menyusun lego.
Padahal baju itu belum lama saya tinggal di meja. Jawaban yang saya dapatkan hanya tatapan polos. Disusul sederet celotehan yang belum bisa saya terjemahkan maksudnya. Saya terpaksa mengambil baju ganti yang lain.
Beberapa hari kemudian, saya menemukan baju itu di tumpukan pakaian saya di dalam lemari. Si kecil saya ini sepertinya meniru kebiasaan saya memasukkan baju yang selesai disetrika ke dalam lemari. Dia memang hobi sekali bermain setrika-setrikaan.
Suami saya malah pernah kebingungan mencari ponselnya. Kadang kami memang teledor meletakkan ponsel sembarangan. Akhirnya lupa. Sayangnya ponselnya mati, baterenya habis. Jadi tidak bisa di misscall.
Saya sampai kehausan saat ikut mencarinya. Apalagi udara sedang panas sekali. Saat saya membuka mengambil minum, saya menemukannya. Ponsel itu nyasar di kulkas.
Tidak hanya itu, mainannya pun kadang ikut disimpan di lemari piring. Bola-bola kecil disembunyikan di balik meja televisi. Sampai roda mobil-mobilan juga bisa masuk ke botol minum. Untung ketahuan, tidak sampai tertelan.
Bukan sekali dua kali peristiwa semacam itu terjadi. Rasanya seperti bermain hide and seek saja. Kalau sedang repot dengan pekerjaan lain, hal sepele ini bisa bikin gemas dan geregetan.
Kadang saya semangat mencarinya sampai ketemu. Namun lebih sering saya menyerah dan meyakinkan diri kalau, “Nanti juga ketemu.” Toh barangnya juga masih ada di dalam rumah.
Benda yang hilang memang suka ajaib. Pas dicari-cari tak juga ditemukan. Giliran tidak dicari, muncul sendiri. Eh, maksudnya tidak sengaja ketemu.
Ya, begitulah. Setiap kali beres-beres rumah, saya mendapatkan ‘harta karun’. Barang-barang yang tadinya saya kira hilang. ‘Harta karun’ itu bertebaran di sudut-sudut rumah.
            Kejadian seperti ini kerap kali hasil kreativitas si kecil. Memang ya, kalau punya anak batita, setiap hari bisa saja dapat kejutan. Yang dia lakukan, mungkin semata-mata meniru kebiasaan kami. Hanya saja dia belum memahaminya.
            Anak saya selalu memperhatikan saat saya menyimpan melakukan berbagai pekerjaan domestik di rumah. Mungkin dia bermaksud melakukan hal yang sama.
Sudah selesai? No! Kadang kala ada harta karun lain yang saat saya temukan bikin dada sesak.
Anak saya suka bermain air. Kalau mandi, lama sekali baru mau keluar. Dia mulai minta mandi dan gosok gigi sendiri. Saya turuti sekalian mengajarkannya mandiri.
Kadang saya diusir keluar kamar mandi. Saya bolak balik sesekali mengawasi. Tapi kemudian apa yang terjadi?
Saat dia selesai mandi, saya menemukan sikat gigi kecil tersangkut di closet. Sudah pasti itu sikat giginya. Masih baru. Juga sabun batangan yang terendam dalam ember penuh air. Siap-siap belanja perlengkapan mandi lagi.
Pernah suatu hari saya mencuci baju sambil mengerjakan pekerjaan lain. Saya dengar suara tak wajar dari mesin cuci. Mesin cuci saya tutupnya di atas dan masih model manual.
“Cica, cica!” kata anak saya sambil menunjuk mesin cuci. Dia menyebut cuci dengan cica.
Saat saya periksa, ada cobek kayu ikut berputar bersama baju-baju. Juga botol minum dan beberapa mobil-mobilan.
“Aduh Adek!” ucap saya sambil meringis. Lantas memunguti ‘harta karun’ satu per satu. Melepaskannya dari belitan pakaian.
Saat suami kerja, kami memang hanya berdua saja di rumah. Jadi dia selalu mengekor dan ikut-ikutan apapun yang saya lakukan.
Termasuk saat saya memasak. Waktu itu saya hendak menggoreng makanan. Saya sudah menuang minyak goreng ke wajan. Berhubung sedang multitasking, saya meninggalkan wajan itu di atas kompor yang belum menyala.
Ketika saya kembali, wajan saya tiba-tiba penuh. Isinya minyak goreng dan air. Saya lihat teko air di genggaman anak saya kosong. ‘Harta karun’ itu terpaksa saya buang semua.
            Ingin marah? Jujur iya. Tapi mau marah rasanya percuma. Mengomel panjang lebar juga sia-sia. Si kecil masih belum memahaminya. Besok juga dia akan menebar ‘harta karun’ lagi. Lagi pula kalau dipikir-pikir saya juga yang salah. Saya lalai mengawasinya.
            Kadang saya berharap bisa membelah diri menjadi beberapa. Seorang membereskan rumah, seorang memasak, seorang menemani Arfan bermain, seorang lagi bisa ‘me time’. But it just my imagination.
            Ya sudahlah. Memang sedang waktunya banyak-banyak menabung sabar. Toh masa ini tak akan berlangsung lama. Anak-anak begitu cepat tumbuh besar dan dewasa. Mungkin suatu hari nanti, saya akan rindu menjadi pemburu ‘harta karun’ lagi. Saya akan rindu mendapat kejutan-kejutan ‘manis’ setiap hari.

0 komentar:

Posting Komentar