Rabu, 04 Mei 2011

Mimpi Layang-Layang

Juli 2010, Museum Layang-Layang Pondok Labu Jakarta.

Layang-layang. Kenapa aku disebut layang-layang? Karena bila diterbangkan aku akan melayang di langit biru. Bagaimana bila tidak terbang? Mungkin aku tak layak disebut layang-layang.

Ini hari ke 563 sejak aku diciptakan oleh tangan pembuat layang-layang terkenal dari Jogja, Sartono Mujib. Hari ini tepat hari ke 500 aku berada di museum layang-layang. Dan sejauh ini, tak pernah sekalipun aku hinggap di angkasa. Masihkah pantas aku menyebut diri sebagai layang-layang?


Seminggu yang lalu rombongan anak-anak dari SD Cempaka Sari datang mengunjungi aku dan kawan layang-layangku. Riuh rendah suara mereka mengagumiku. Warna yang cerah, model yang indah, bahan yang istimewa, decak kagum bertaburan. Tapi ini bukan yang pertama. Setiap kali ada yang datang, demikianlah reaksinya.

Kekaguman itu tak pernah membuatku puas. Justru kesedihan semakin pekat menggelayut di hatiku. Jangan tanya, kenapa layang-layang punya hati! Aku berbeda dari kawan layang-layangku lainnya. Mereka bangga diri menjadi koleksi museum layang-layang ini. Tapi aku tidak. Aku malu. Aku layang-layang yang tak pernah terbang.

Setiap malam aku bermimpi menjelajahi langit dengan sayap terbentang. Terkadang igauanku disambut cibiran rekan layang-layang lainnya. Mereka menyebutku Layangan Ngimpi. Salahkah layang-layang punya impian untuk diterbangkan? Bukankah memang untuk itu dia diciptakan? Tak peduli salah, aku akan tetap memelihara mimpiku.

“Hei! Masih ingin terbang?” sebuah layang-layang tradisional dari daun yang dipajang di dinding berbisik padaku.

Aku mengangguk.

“Aku percaya suatu hari kamu bisa terbang.”

Aku tersenyum.

“Tapi kau harus hati-hati. Terutama pada angin.”

“Kenapa?” tanyaku berbisik pula.

“Kadang membuat benangmu putus dan kamu bisa bernasib seperti aku.”

Aku mulai teliti memandanginya. Ada bagian tubuhnya yang koyak, juga rangka yang sedikit patah. Tapi sudah diperbaiki untuk kepentingan pameran.

“Benangku putus. Terombang-ambing aku ditiup angin. Aku tersangkut. Tak bisa terbang lagi. Masih bersyukur aku bisa jadi penghuni museum ini. Tapi jangan takut suatu saat kau harus merasakan terbang!”

Layang-layang tua itu tersenyum. Aku tersenyum. Beberapa kawan layang-layang yang mendengar bisikan kami mencibir. Aku tak balas mencibir.

Keinginanku untuk terbang semakin besar. Lihatlah bentukku yang gagah ini. Merak jantan dengan ekor terkembang. Aku tak peduli tepukan tangan orang-orang yang mengagumiku. Aku hanya ingin menjalani fitrahku sebagai layang-layang. Terbang melayang. Meskipun aku tahu, pada dunia nyata, merak pun tak bisa terbang.

Sepertinya pembuatku ingin aku benar-benar terbang. Agar semua orang bisa menikmati keindahan merak jantan dengan ekor megah yang selama ini hanya bisa mereka lihat dari kandang-kandang kebun binatang. Ia membuat mungkin, seekor merak terbang di angkasa meskipun merak itu hanya sebuah layang-layang.

Aku dengar minggu depan ada festival layang-layang. Akan ada koleksi dari museum yang ikut diterbangkan saat acara pembukaan. Mereka sedang menyeleksi kami. Sungguh aku berharap aku menjadi salah satu dari pilihan.

Mulai hari ini museum tutup. Pengurusnya sedang sungguh-sungguh mengurus kami. Juga tamu-tamu yang datang dari dalam dan luar negeri. Tamu layang-layang baru, yang mungkin suatu hari juga akan menemani kami menghabiskan masa dalam ruangan membosankan ini.

Seorang lelaki yang dipanggil Abang, dia penerbang layang-layang. Beberapa kali ia memandangiku, mondar-mandir di dekatku, lantas menulis sesuatu dalam catatannya. Abang sepertinya tertarik padaku. Sudah ku jajal pose gagah tegap berharap. Tapi si Abang belum juga membubuhkan checklist pada papan di samping namaku.

Sesekali Layang-Layang Daun yang menempel di dinding mengerling. Meyakinkan mereka akan memilihku. Mengobarkan semangatku setiap kali si Abang lewat. Juga melempar senyuman hangat.

Dua hari lagi festival layang-layang. Masih belum ada keputusan final siapa yang akan diterbangkan. Tapi aku tahu namaku sudah ada dalam daftar pertimbangan. Hari ini mereka akan memutuskan. Layang-layang mana yang akan diterbangkan Abang. Mereka akan menguji kami di lapangan belakang.

“Jadi yang mana, Bro? Merak ini bagus, tapi Gatotkaca juga oke.” Aku mencuri dengar pembicaraan Abang dan seorang panitia festival.

Gue sih lebih demen yang Gatotkaca. Tapi yang ini juga bagus. Apalagi rangka sama bahannya kuat.”

“Ya udah, terserah lo aja deh. Dua-duanya gue suka. Buat acara pembukaan ya. Ntar siapin sekalian tim penerbangnya.”

“Tim penerbang? Lo kate pilot. Hahaha …”

Yessss!!! Pilihannya tinggal aku dan si Gatotkaca.

Kami berasal dari tangan yang sama. Tangan kreatif Sartono Mujib. Ia pembuat layang-layang raksasa. Entah bagaimana cara ia merancang kami. Memprediksikan kemampuan kami untuk mengangkasa juga seolah memberikan nyawa pada kami. Tapi aku dan Gatotkaca berbeda. Ia selalu sesumbar atas kegagahan bentuknya, padahal ia pun belum pernah terbang.

Aku rasa ia terkena hasutan Layang-Layang Soang. Layang-layang itu kalau bicara keras dan sombong sekali. Ia bilang sudah berkali-kali terbang. Baginya terbang bukanlah kebanggaan tetapi siksaan. Seperti dipermainkan oleh manusia. Ditarik ulur sesukanya. Diadu hingga putus benang dan melayang-layang dikejar anak-anak jalanan. Belum lagi dahan dan ranting pepohonan yang tajam siap mengoyak. Atau kabel-kabel listrik yang siap memberi alir setruman. Terbang akan memamerkan kegagahan untuk sesaat tetapi menebarkan ancaman begitu hebat. Melukai ketampanan para layang-layang. Dan Gatotkaca tak ingin bernasib serupa.

Aku tak percaya. Angin bukan musuh bagi layang-layang. Angin adalah kawan. Layang-layang dibuat untuk terbang, bukan sekedar dipajang. Resiko itu pasti ada, tetapi bukan alasan untuk tidak melayang di angkasa. Layang-Layang Daun menjadi saksinya. Ia tak pernah membenci angin, dahan, ataupun ranting meskipun ia pernah terluka olehnya. Ia bukan tak lagi ingin terbang, tapi ia memang tak lagi sanggup terbang. Layang-Layang Daun menjadikan itu sebagai pengalaman untuk berbagi kebijaksanaan.

Ini hari yang menegangkan bagiku. Andai aku bisa bicara, ingin kuteriakkan pada Abang betapa aku ingin terbang. Ingin kukatakan padanya, “Pilihlah aku.” Ingin kujelaskan padanya, Gatotkaca hanya ingin jadi layang-layang pajangan.

“Aku! Aku Bang, yang ingin kau terbangkan!”

Tapi kami layang-layang tak punya pilihan. Kami hanya bisa menunggu, siapa yang akan dipilih oleh Abang.

“Angkut deh dua-duanya.” Kata-kata Abang barusan membuatku terlonjak girang. Sungguh aku akan terbang.

“Ingat, hati-hati pada angin, dahan, dan ranting. Kalau bertemu mereka, sampaikan salamku.”

Pesan Layang-Layang Daun akan aku tunaikan. Mimpiku akan jadi kenyataan.

***

24 Juli 2010, Pantai Karnaval Ancol

Pengunjung sudah ramai berdatangan. Tapi langit hari ini sedikit mendung. Angin sedikit kencang. Abang sedikit cemas.

“Yakin mau maen layangan hari ini? Cuaca nggak bagus.” Ucap Abang ragu. Mas panitia festival terdiam menimbang-nimbang.

“Kan nggak mungkin acaranya dibatalin, Bro. Gimana sih lo?”

Tiba-tiba petir terlihat di ujung langit disambut suara guntur menggelegar. Sepertinya pertanda kurang baik. Kira-kira demikian yang bisa kusimpulkan dari wajah tegang Abang dan panitia festival.

Gue gak berani, Bro. Ini koleksi langka museum. Jauh-jauh mendatangkan pembuatnya dari Jogja. Kalo rusak, ntar gue yang kena.”

Mas panitia festival diam saja. Mungkin ucapan Abang banyak benarnya. Lagipula mana mungkin menerbangkan layang-layang di bawah hujan?

Tak berapa lama gemiris disusul deras curah air langit mendera kami. Abang menutup pintu mobil box tempatku dan Gatotkaca berlindung. Aku menghela nafas pasrah. Kulihat Gatotkaca tersenyum senang. Kontras dengan kekecewaanku yang tak terkira.

“Kasian banget kamu. Lihat, Tuhan aja nggak merestui kamu terbang.” Ucapnya diikuti tawa terkekeh.

Aku tak marah. Kini aku tahu siapa penantang layang-layang yang belum dikenalkan Layang-Layang Daun padaku : hujan. Tapi aku tak membenci hujan. Aku tak pernah diajari untuk membenci. Aku hanya diajari untuk melayang. Karena kami layang-layang.
Pun aku tak akan berhenti bermimpi. Bermimpi untuk mengarungi langit. Mimpi ini hanya tertunda. Tapi aku masih punya masa meraihnya. Aku tak akan menyerah. Seperti kata Layang-Layang Daun kepadaku, “Jangan pejamkan mata, sebab mimpi berada pada jarak sepandang untuk jadi nyata.”

Ada juga di sini

0 komentar:

Posting Komentar