Senin, 16 Februari 2015

Es Campur


Radit berlari ke rumahnya sambil menenteng bola. Keringatnya bercucuran. Puas sekali dia bermain sepakbola di lapangan kampung. Apalagi timnya menang telak 2-0.


Setelah menyimpan bola di gudang, Radit masuk dapur. Ia mencuci tangan dan wajahnya di wastafel. Saat hendak membuka kulkas, pandangannya beralih pada segelas es di atas meja makan.


“Wah, es campur!” seru Radit girang.


Tanpa pikir panjang, ia meneguk minuman itu sampai tandas. Dinginnya es mengalir sejuk di tenggorokannya. Rasanya manis dan segar sekali. Beberapa potongan buah, kolang-kaling, dan es batu tersisa di dasar gelas.


“Radit, kamu minum es campurnya?” seru Noval.


“Iya, Kak. Punya Kakak? Sudah habis nih. Maaf,” sesal Radit.
 “Iya, punya Kakak. Belum sempat Kakak buang.”
 “Kenapa dibuang? Enak kok es campurnya,” Radit meletakkan gelasnya.


“ Soalnya tadi es campurnya kemasukan cicak,” balas Noval.


“Hah? Kok nggak bilang?”


Mimik muka Radit berubah. Ia segera ke kamar mandi. Yang terdengar berikutnya hanya suaranya menyikat gigi. Noval terkikik geli.



*Cerita ini diikutkan kuis grup PBA dan terpilih mendapat hadiah buku, horeeee :)

0 komentar:

Posting Komentar