Rabu, 13 Juli 2011

Mejiku Hibiniuku


Dalam sebuah perjalanan pulang selepas hujan di sore hari, aku mendapati bias pelangi di langit. Sudah lama aku tidak melihat pelangi secara langsung. Ingatanku lalu tertuju pada novel Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Sekumpulan anak-anak dengan kisah unik yang dituturkan Andrea menginspirasi kami, anak-anak kos Ramadhan, untuk memberi nama istimewa pada penghuninya yang tak kalah istimewa. Namanya adalah Laskar Mbambung.


Apa artinya? Entahlah apa artinya secara harfiah. Hanya saja kawan yang memberi nama, cuma ingin menggambarkan keakraban kami dan betapa seringnya kejadian-kejadian konyol menghampiri hidup kami saat masih bersama-sama di kos Ramadhan. Laskar Mbambung terdiri dari delapan orang. Persamaan kami semua adalah kuliah dan kos di tempat yang sama. Tetapi diantara kami berbeda fakultas, berbeda angkatan, berbeda suku, dan berbeda karakter. Ada orang Jawa, ada orang Sunda, ada orang Batak, ada yang blasteran antarsuku. Sehingga banyak warna di kos kami.


Diantara kami ada yang berwatak si merah. Punya semangat yang menyala-nyala dan selalu enerjik. Aktivitasnya banyak sekali. Ada si kuning yang selalu riang menebarkan keceriaan, membagikan kebahagiaan. Ada si hijau yang selalu tenang dan bijaksana. Memberikan motivasi dan wejangan-wejangan pada kami saat terlupa. Ada si biru yang tampak tenang menghanyutkan. Menjadi tujuan saat ada yang membutuhkan sandaran. Begitulah kami. Memadu perbedaan dalam kesatuan. Meskipun terkadang ada sandungan di perjalanan, tetapi saat hujan mereda tangan kami bergenggaman kembali, berderetan layaknya pelangi.


Pelangi sesungguhnya berasal dari satu warna cahaya. Pembiasanlah yang membuatnya tampak dalam beragam warna. Tapi untuk mendapati pelangi di langit memang tidaklah mudah. Setidaknya harus ada tiga kondisi di alam, yaitu ada matahari yang sedang bersinar, letak matahari ada di belakang kita sebagai pengamat pelangi, dan terdapat tetesan air yang turun di depan kita.


Cahaya matahari menyinari tetesan air hujan. Tetes-tetes air hujan berperan sebagai prisma yang membiaskan cahaya matahari dan membaginya menjadi beberapa spektrum warna. Ya, warna mejikuhibiniu atau merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Kira-kira demikianlah terbentuknya pelangi secara ilmiah.


Pelangi dalam hidupku tak hanya sederet warna, mereka hidup. Mereka menghiasi langit hatiku. Meskipun mereka berasal dari beragam suku dan budaya, beragam ciri fisik, beragam karakter yang berbeda-beda. Perbedaan itu tak semestinya membawa perpecahan. Jika kita hanya memandang satu warna saja, tak akan kita temukan kesempurnaan. Tetapi jika kita bisa melihat perbedaan itu dengan lebih bijaksana, keindahanlah yang akan kita temukan. Saat semua menjadi satu maka perbedaan itu akan lebur dalam indahnya persahabatan.


Seperti halnya pelangi yang tak mudah didapati, seperti itu pula persahabatan sejati. Kadang perlu waktu yang tepat, tempat yang tepat, peristiwa yang tepat, yang akan mempertemukan kita dengan mereka. Karenanya, jangan pernah sia-siakan anugerah yang sudah Allah berikan untuk kita. Sahabat. Mereka yang selalu kita ingat dan mengingat kita. Mereka yang mewarnai lukisan dalam kanvas hidup kita. Mereka menjadi bianglala cantik yang menghadirkan senyum dan tawa. Menghapus luka dan airmata.


Yah, persahabatan itu adalah cahaya. Saat terbiaskan oleh perbedaan, cahaya yang kita punya akan menampilkan pelangi yang penuh warna. Maka jika aku ditanya tentang apa warna hidupku, akan kujawab mejikuhibiniu. Sahabat-sahabat yang mewarnai hari-hariku. Memberikan keindahan pelangi di setiap langkahku. Kan kujaga agar tak pudar. Dan mengiringiku selamanya. Aku dan pelangi.


bisa dibaca juga di sini

0 komentar:

Posting Komentar