Rabu, 13 Juli 2011

Kenangan Tentang Mbah dan Andhe-Andhe Lumut


Ibu :
Putraku si Andhe Andhe Andhe Lumut
Temuruna ana putri kang unggah-unggahi
Putrine, ngger, sing ayu rupane
Klenthing Abang iku kang dadi asmane

Andhe Andhe Lumut :
Adhuh, Ibu, kula dereng purun
Adhuh, Ibu kula mboten mudhun
Nadyan ayu sisane si Yuyu Kang-kang

Ibu :
Putraku si Andhe Andhe Andhe Lumut
Temuruna ana putri kang unggah-unggahi
Putrine, ngger, sing ala rupane
Klenthing Kuning iku kang dadi asmane

Andhe Andhe Lumut :
Adhuh, Ibu, kula inggih purun
Kang putra inggih badhe mudhun
Nadyan ala punika kang putra suwun


Tembang dari dongeng Jawa Si Andhe Andhe Lumut itu tak pernah hilang dari ingatanku hingga kini aku dewasa. Sebuah dongeng yang mengisahkan tentang Andhe Andhe Lumut yang tampan dan disukai banyak wanita. Dari sekian banyak wanita cantik yang datang untuk mengajukan diri menjadi pasangannya, dia justru memilih Klenthing Kuning yang dianggap buruk rupa oleh orang-orang.

Padahal sejatinya Klenthing Kuning adalah seorang putri yang cantik dan baik hati. Saudara tiri yang iri hati padanya lah yang membuat penampilannya tampak buruk dan bau. Klenthing Kuning juga wanita pemberani yang melawan tipu daya Yuyu Kang-Kang demi kehormatan dirinya. Si Andhe Andhe Lumut memang tak salah pilih.

Mungkin suatu saat, dongeng dan tembang yang dilantunkan nenekku sebagai pengantar tidur siang semasa aku kecil dulu, juga akan kuceritakan kepada anak-anakku. Sungguh aku terkesan dengan dongeng-dongeng Jawa yang biasa dibawakan nenekku. Mbah Ibuk, begitu aku memanggil nenekku yang pandai nembang. Suaranya merdu dan membuatku terlelap. Meskipun sudah berkali-kali diceritakan, aku tak pernah bosan mendengarnya lagi.

Mbah Ibuk adalah ibu dari ibuku. Sebagaimana orang Jawa lainnya, ia dipanggil Mbah oleh cucu-cucunya. Tapi yang berbeda, panggilannya ditambah dengan Ibuk. Aku juga tak mengerti kenapa. Sejak aku kecil, saudara-saudaraku sudah memanggilnya demikian. Mungkin maksudnya Mbah perempuan, atau karena cucu-cucunya yang usianya jauh lebih tua dariku memanggilnya Ibuk.

Mbah Ibuk selalu berpenampilan khas seperti orang Jawa jaman dulu. Setiap hari ia mengenakan jarik batik dan baju kebaya seperti Ibu Kartini. Rambut panjangnya biasa digelung.

Saat aku kecil hingga kelas dua SD, aku tinggal satu rumah dengan Mbah Ibuk dan Mbah Kung (kakek). Bila ibu dan bapak pergi kerja, aku berada dalam asuhan mereka. Mbah Ibuk menggantikan peran ibuku. Di pagi hari, aku seperti anak yang diasuhnya. Setelah siang dan ibu pulang, aku kembali menjadi cucunya. Telaten ia mengawasiku bermain, memaksaku makan dan minum susu, sesekali juga mengajakku menemaninya memasak.

Siang hari setelah pekerjaan rumah selesai, Mbah biasanya menemaniku tidur siang. Kami tidur di dipan depan televisi. Di ruang tengah yang bersebelahan dengan ruang tamu, hanya disekat oleh lemari tua. Dan demi membuatku tertidur, Mbah Ibuk lalu mengisahkan padaku dongeng-dongeng Jawa yang sarat nilai moral dan nilai sosial. Kadang ia selipkan juga beberapa tembang Jawa. Salah satunya cerita Andhe-Andhe Lumut tadi.

Selain dongeng Andhe Andhe Lumut, dongeng favoritku adalah dongeng bawang merah dan bawang putih. Bawang putih yang kehilangan cucian di kali (sungai) lalu menelusuri kali untuk mencari cuciannya. Setiap bertemu dengan orang yang berada di kali, ia tanyai dengan nembang :
Man, Paman sing ngguyang jaran
Niku wau wonten popok beruk kula keli
… dst


Mungkin saat itu aku tak pernah menyadari bahwa suatu hari, cerita-cerita yang dibawakan Mbah Ibuk akan memberikan pengaruh yang berarti dalam hidupku. Baru kini aku mengerti darimana asal ketertarikanku pada buku, pada cerita dan dongeng, pada imajinasi kanak-kanakku. Mungkin juga pada keinginanku untuk menulis saat ini.

Aku ingat ketika aku masih sekolah dasar dulu, aku suka sekali mendongeng pada teman sebayaku. Baik dongeng yang pernah kubaca dari buku, atau dongeng yang kureka-reka sendiri. Sampai aku diikutkan lomba mendongeng anak oleh guruku. Walaupun tidak menang, hehe…

Seiring waktu dan bertambahnya usia, aku mempunyai teman-teman bermain sendiri. Apalagi kemudian aku pindah rumah. Interaksiku dengan Mbah Ibuk semakin berkurang. Walaupun aku masih sering datang ke rumahnya, tapi aku paling susah kalau diminta menginap. Selalu saja ada alasan untuk menolak tawarannya. Sekarang, aku malah merindukannya. Mbah Ibuk telah kembali kepangkuanNya empat tahun yang lalu.

Sebelum meninggal, Mbah Ibuk sudah sering sakit-sakitan. Awal Mei 2007 entah kenapa semua saudara kebetulan sedang berkumpul di rumah Mbah. Aku sendiri berada di Bogor karena sedang kuliah. Jum’at malam sebelum Mbah meninggal, aku sempat menelpon ke rumah. Aku mengatakan pada Ibu aku ingin pulang dan menengok Mbah. Tapi ibu bilang, tak perlu. Karena jarak yang jauh dan aku masih ada kuliah. Ibu minta aku mendoakan Mbah supaya lekas pulih.

Malam itu setelah menelpon aku duduk di beranda kos. Entah mengapa aku tiba-tiba menangis tersedu-sedu sampai dadaku sesak. Aku merasa mendapat firasat. Tetapi aku menepis perasaanku. Aku tak ingin kehilangan Mbah. Aku masih ingin bertemu dengannya dan meminta maaf karena belum sempat membuatnya bahagia. Belum sempat membalas semua kebaikannya. Belum sempat berbakti padanya.

Pagi harinya aku berangkat kuliah seperti biasa. Kebetulan Sabtu pagi aku ada jadwal menjadi asisten praktikum Mata Kuliah Penyimpanan Pangan. Tiba-tiba tanteku SMS dan mengabarkan Mbah Ibuk baru saja meninggal. Hatiku mencelos. Aku panik ingin segera pulang.

Kakak sepupuku yang juga kuliah di Bogor kutelpon. Ia sudah menerima kabar dan segera mencari tiket pulang. Ia memintaku menunggu kabar darinya. Mungkin karena sedang libur akhir minggu, penerbangan padat. Kami tak dapat tiket ke Semarang. Padahal kalaupun dapat kami masih harus naik bis 3 jam untuk sampai di rumah kami, di Rembang. Kami lalu mencari ke stasiun. Ada kereta tetapi baru berangkat sore hari. Dan itu sama artinya kami baru sampai Minggu pagi, itupun hanya sampai Semarang. Padahal Sabtu siang jenazah Mbah dikebumikan.

Akhirnya kami memilih pulang naik bis yang langsung menuju Rembang. Subuh kami baru sampai. Aku tak bisa melihat Mbah Ibuk terakhir kali sebelum ia dimakamkan. Aku sungguh kehilangan. Bapak kemudian mengantarku ke makam Mbah Ibuk. Menemaniku membacakan doa untuk Mbah Ibuk. Maafkan cucumu ini, Mbah…

Pernah aku bermimpi bertemu Mbah Ibuk. Dalam mimpiku Mbah Ibuk bilang aku jahat. Karena aku tidak mau membantunya membersihkan rumahnya. Aku malah bersama teman-temanku. Aku sedih sekali Mbah berkata seperti itu. Ketika aku bercerita pada Bapak, Bapak mengingatkan mungkin aku jarang mengirimkan Al Fathihah untuk Mbah. Ya, mungkin Bapak benar. Kusadari aku sudah lama tidak mengirimkan doa.

Kini setiap kali pulang atau saat lebaran, aku dan keluargaku selalu mengunjungi makam Mbah. Mengantarkan hadiah berupa doa-doa untuknya. Mbah memang telah tiada, tetapi kenangannya selalu hidup di dalam hati kami.

Aku sangat berterimakasih pada Mbah Ibuk yang sudah menjadi ibu bagiku saat aku kecil dulu. Berterimakasih telah mengenalkanku pada dunia dongeng, cerita, tembang yang menghidupkan minatku pada dunia membaca dan menulis.

0 komentar:

Posting Komentar