Selasa, 19 Juli 2011

Hidup dan Lomba Lari

Tak ada pilihan lain, selain terus berlari menantang angin, untuk mencapai finish dan menyelesaikan lomba lari. Mungkin dalam perlombaan lari yang sesungguhnya, andai kita tak berharap jadi pemenang, kita bisa saja memilih tidak berlari. Atau berlari semau kita. Atau berhenti di tengah saja saat pelari lain sudah ada yang mencapai finish. Toh lomba sudah akan berakhir pada saat itu.

Hidup boleh dibilang seperti lomba lari. Ada angin, terik, debu, atau mungkin hujan yang harus diterobos dalam lintasan. Sayangnya tak seperti lomba lari biasa, kita tak bisa berhenti untuk mengakhiri perlombaan. Satu-satunya jalan untuk mengakhirinya adalah terus berlari sampai finish. Tak ada pilihan lain.

Mengapa? Karena kita satu-satunya peserta. Dan perlombaan baru selesai saat peserta mencapai finish. Bahkan andai kita tak ingin pun, kita tak bisa terus menghindar dari garis finish.

Masalah-masalah yang muncul dalam hidup ini adalah lintasan dari hidup kita. Tempat kita berlomba dengan diri sendiri. Satu-satunya pilihan untuk menyelesaikan lomba itu adalah terus berlari. Tak ada pilihan untuk menyelesaikan masalah selain menghadapi dengan berani.

Jika tidak, tak akan pernah kita mencapai finish. Dan perlombaan itu tetap tidak usai meski usia terus menua. Pada akhirnya, saat kita tak mampu berlari lebih kencang dan lebih berani, kita harus tertatih-tatih mencapai finish dalam lintasan yang lebih banyak dan lebih panjang.


*Maju Dhan! Hadapi! Tidak ada pilihan lain untuk menyelesaikan semua ini.

2 komentar:

Kelas Kecil mengatakan...

Hidup memang perlombaan... yang harus diperjuangkan untuk tidak menjadi kalah. :)

Ayna Wardhani mengatakan...

belajar menikmati perjuangan mas :)

Posting Komentar