Rabu, 18 Juli 2012

KVK bukan KPK


K V K
(Koin VS Kerikil)
-Refleksi syukur seorang manusia-

Seorang pemborong (kontraktor) mendapatkan proyek besar membangun sebuah apartemen yang megah dan mewah. Pemborong itu kemudian mengumpulkan para pekerjanya untuk menjelaskan rencana pembangunan apartemen itu. Pembangunan apartemen itu berjalan dengan baik dan lancar.


Suatu hari, sang pemborong datang untuk mengawasi pekerjaan pekerjanya. Setelah berjalan berkeliling, ia naik ke lantai 10 untuk mengamati sudah sejauh mana rencana pembangunan itu dilaksanakan. Dari atas sana, dia melihat pekerjanya di lantai 5 sedang berteriak-teriak ke bawah. Rupanya, ia sedang memanggil penanggung jawab adonan pasir di bawah untuk memberitahu kalau adonan pasir di lantai itu perlu ditambah lagi karena hampir habis. Tapi si penanggung jawab adonan itu tidak mendengarnya. Pekerja yang memanggil2 tadi tampak kesal dan putus asa karena panggilannya tidak didengar. Lalu ia memanggil beberapa temannya untuk memanggil bersama-sama. Sayangnya si penanggungjawab adonan pasir itu tak juga mendengar mereka.

Melihat hal itu, sang pemborong yang sejak tadi memperhatikan, terpikir cara lain untuk memanggil si penanggung jawab adonan tanpa harus turun ke bawah terlebih dulu. Mungkin kalau ia menjatuhkan sesuatu dari atas, penanggungjawab adonan pasir itu bisa mengerti. Tapi tentu ia tak mungkin menjatuhkan jam tangan atau sepatunya. Ia ingat di sakunya ada uang koin, mungkin cukup aman untuk di lempar. Uang itu dilemparkannya ke bawah dan mengenai punggung si penanggungjawab adonan. Pemborong itu tersenyum  yakin bahwa penanggungjawab adonan itu akan mendongak ke atas mencari sumber jatuhnya benda yang mengenainya.

”Aduh, siapa nih yang lempar duit ini. Tapi lumayanlah,” ucap si penanggungjawab lalu mengambil uang koin itu dan memasukkan ke saku bajunya sambil menoleh ke kanan kiri.

”Tidak sesuai harapan. Mungkin ia tidak tahu maksudku,” batin sang pemborong. Ia merogoh kantongnya lagi dan menemukan uang koin lagi.

”ini yang terakhir. Semoga ia mendongak ke atas,” harap sang pemborong.

Tapi ternyata si penanggungjawab masih belum ‘ngeh’. Dia mengambil koin itu dengan tersenyum dan memasukkan lagi ke kantongnya.

Si pemborong bingung apalagi yang bisa di lempar tanpa membahayakan penanggungjawab itu dan pekerja yang lain tentunya. Akhirnya ia mengambil sebutir kerikil dan melemparkannya ke bawah tepat mengenai tangan si penanggungjawab. Penanggung jawab itu langsung mendongak ke atas dan berteiak dengan ”Woi! Siapa yang ngelempar gue...”

Para pekerja di lantai 5 yang dari tadi menunggu reaksi si penanggung jawab segera memanfaatkan keadaan itu untuk meminta adonan pasir lagi.

Kawan, kira-kira apa yang bisa kita maknai dari kisah ini?

Ya, kita hidup sekarang ibarat membangun apartemen. Lantai bawah ibarat rumah dunia kita, dan lantai atas ibarat rumah akhirat kita. Rumah yang akan kita tinggali kelak. Seringkali kita sibuk membangun yang dibawah saja. Mencapai sesuatu yang sifatnya keduniawian saja. Kita lupa kalo suatu hari kita akan mati, dan setelah itu akan ada kehidupan yang lain. Kalo kita tidak mempersiapkan bekal, kita akan mati tersiksa oleh rasa haus dan lapar yang kita buat sendiri. Untuk membangun rumah disurga, kita butuh bahan baku, kawan. Kalau bahannya kurang, rumah itu tak akan jadi, mungkin hanya setengah jadi, atau kalo beruntung bisa hampir jadi. Semua tergantung pada usaha dan persiapan kita. Kokoh atau tidak pondasi keimanan bangunan rumah kita, seberapa banyak bahan bangunan ibadah wajib untuk menyusun dinding rumah kita, seberapa banyak bahan-bahan ibadah sunnah yang bisa memperindah rumah kita, seberapa kuat daya listrik tilawah yang kita siapkan untuk menerangi rumah kita, sebarapa banyak cadangan makanan infak dan amal jariyah yang kita siapkan agar kita tak kehausan dan kelaparan? Surga itu memang mahal kawan. Kalau kita ingin apartemen (surga) di tingkat tertinggi dan terindah, maka modal kita tak cukup hanya dengan menggugurkan kewajiban. Semua itu tak bisa diraih dengan kemalasan dan istirahat yang banyak.

Sementara itu, sebagai penanggungjawab adonan (bahan bangunan), kita juga harus peka. Allah telah memanggil kita dan mengingatkan kita untuk mengirimkan bahan bangunan rumah kita di akhirat dengan cara yang indah. Allah memberikan rezeki yang cukup, kenikmatan hidup, tapi kita mengambilnya tanpa berterimakasih, bahkan menoleh padanya pun tidak. Tapi apakah lantas Allah murka? Begitu sayangnya sampai Allah berhusnudzon bahwa kita tidak mengerti dengan kenikmatan yang diberikanNya adalah panggilan dariNya pada kita. Ia memanggil kita lagi dengan kenikmatan yang lain, tapi kita tetap juga tak berbalik kepadaNya. Sampai Ia dengan sedih memberikan pada kita cobaan/peringatan ringan. Hanya sebutir kerikil, hanya masalah yang kecil. Karena Ia tak ingin kita tersakiti dan menyakiti orang-orang disekitar kita. Kalau masih tak mengerti juga, sungguh keterlaluan.

Pada saat Allah memberikan masalah kecil itulah, kita baru ingat padaNya. Ingat akan kenikmatan yang telah diberikanNya kepada kita selama ini. MenghadapNya pun kita seringkali untuk memintaNya menyelesaikan masalah kita.

Kawan, kapan kita bisa membalas cinta dan kemurahanNya? Kapan kita bisa tulus menghadapkan wajah kepadaNya? Sungguh Allah sangat mencintaiMu, jadi jangan kecewakan Ia.

Bersyukurlah mumpung masih punya kesempatan untuk mengucapkannya, Berterimakasihlah mumpung masih punya waktu untuk menyampaikannya.

1000 missed called
1 new number
Missed 1 : Allah
He will never stop calling
No matter how many times u missed His calls
Till u hear and answer
Allah Loves you

Thanks 4 remember me ‘bout that
seorang sahabat saat membangun peradaban baru

0 komentar:

Posting Komentar