Selasa, 17 Juli 2012

Membaca yang Aku Lihat di Luar Sana


Aku baru pulang dari Semarang tadi siang. Kebetulan sendirian aja, jadi nggak ada temen ngobrol. Akhirnya cuma diem sambil lihat pemandangan di luar jendela. Pas lewat Demak, aku lihat semacam kali (sungai kecil), entah kali atau cuma saluran air yang gedhe. Bukan hal baru sih. Aku juga sering lewat Demak kalo ke Bogor atau pulang dari Bogor, tapi kalo ga masih pagi buta ya udah malem. Jadi kalinya nggak kelihatan.


Air kali itu sekarang warnanya makin ijo. Dulu, waktu aku masih agak kecil dan lewat jalan situ, warnanya…apa ya…agak-agak lupa. Tapi yang pasti nggak ijo seperti yang aku lihat hari itu. Udah ijo, ada juga sampah mengambang, sampah daun maupun sampah plastik. Ada yang sedikit, ada yang lumayan banyak. Kayaknya sungai itu mengalami algae booming jadi warnanya ijo banget gitu. Banyak juga taneman air, kayak eceng gondok yang subur banget.

Itu cuma sedikit deskripsi aja.Yang buat aku sedih adalah pas aku lihat ada ibu-ibu nyuci baju di kali itu. Secara, air kayak gitu udah bisa dipastikan nggak bersih, tapi masih dipakai juga. Ada juga yang mandi, padahal nggak jauh dari situ, sampah mengambang dimana-mana. Jangan-jangan, air itu dipakai juga buat masak, semoga nggak. Miris banget lihatnya. Apa nggak takut kemungkinan penyakit yang bisa disebabkan dari pemakaian air itu buat mandi, atau apa bajunya bersih kalo dicuci pakai air yang kondisi fisiknya aja udah jelas-jelas nggak bersih.

Dimana ya letak kesalahannya. Apa warga situ nggak tau kalo pakai air yang kayak gitu bisa membahayakan kesehatan. Atau udah kepepet banget nggak ada suplai air bersih. Atau air bersih harganya mahal dan ga bisa terjangkau sama mereka. Tapi kalo emang mereka butuh air yang ada di kali itu, kenapa nggak dijaga kebersihannya? Malah dibiarin kotor dan tercemar. Ya...siapa pun yang menyebabkan pencemaran, mesti bertanggung jawab dan menanggung resikonya. Kalo udah gitu kan ibarat membakar lumbung padi sendiri.

Hmm...
Mestinya kita memang sebagai manusia harus bisa menghargai alam. Alam kan diciptakan Allah buat kesejahteraan manusia. Tapi kalo kita nggak pandai-pandai menjaga ya...kesejahteraan itu mungkin akan menjauh dari kita. Yang ada malah datang bencana. Karena siapa? Ya karena diri kita sendiri, manusia.
Itu baru satu fragmen aja dari kehidupan di muka bumi yang sangat kompleks. Mudah-mudahan kita bisa belajar lebih menghargai apa yang udah diberikan Allah sama kita.

Begitu sampai rumah dan lihat berita, ada liputan banjir di Gorontalo dan Sumatra (Sumatra mana ya...aku agak lupa, kayaknya sih Sumatra Utara, tapi pastinya dimana aku lupa). Padahal, di jalan yang aku lewati tadi, banyak aku lihat tanah-tanah sawah yang kering. Wah...wah...di satu tempat kekurangan air, di tempat lain malah kelebihan air. Apa karena Allah ga adil membagi hujan? Pastinya bukan. Mungkin semua itu juga akibat ulah kita sendiri. Ga menjaga keseimbangan ekosistem.

Dulu pas belajar IPA di sekolah, kita diajari untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Karena, kalo ekosistem nggak seimbang, bisa menyebabkan kerugian untuk manusia sendiri. Kita memang cuma manusia. Wajar kalo kadang salah dan lupa. Tapi kalo kita ga peduli sama apa yang ada di sekeliling kita, ya jangan protes kalo ada hal-hal yang tidak kita inginkan yang terjadi sama kita. Entah itu masalah bencana alam, kerawanan pangan, ataupun yang lainnya.

Kayaknya ga ada gunanya berpanjang lebar tentang semua ini. Yang diperlukan sekarang adalah AKSI, tindakan. Seperti resep 3M-nya Aa’ Gym, mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, mulai sekarang juga. Mudah-mudahan dengan begitu bisa mengembalikan keramahan alam pada kita.

repost dari blog lama yang sudah almarhum^^

0 komentar:

Posting Komentar