Selasa, 02 Juni 2015

#30harimenulis : H2-Cerita tentang Ayah

Untuk hari kedua #30harimenulis, instruksinya adalah ambil buku, buka halaman kedua, lihat kata pertama, tuliskan apapun tentang kata tersebut. Dan buku saya adalah novel Joshua joshua Tango milik Robert Wolfe dengan kata pertama halaman dua (isi) : Ayah.

Here we go.

Saya tidak memiliki ayah. Tapi saya memiliki seorang pria hebat yang sejak kecil hingga kini saya panggil Bapak. Sama saja ya? :-)


Apa kenangan manis yang Anda miliki bersama Bapak? Banyak? Saya juga. Saya ingin membaginya sedikit kepada Anda.

Waktu saya kecil, Bapak pernah mengajak saya ikut lomba sepeda. Kami naik sepeda jengki (apa ya istilah lainnya? Saya tahunya sepeda jengki). Saya bonceng di belakang. Karena takut masuk ke jeruji ban sepeda, kaki saya diikat ke depan. Saya lupa apakah dapat hadiah atau tidak. Saya lupa detail kejadian itu. Tapi perasaan bahwa saya diajak Bapak ikut lomba sama-sama, masih saya ingat sampai sekarang. Bukan kenangan akan peristiwanya, tapi kenangan akan perasaan saya waktu itulah yang terus melekat di dalam hati.

Saat kecil, saya juga suka membaca cerita. Minta langganan majalah anak-anak. Saya baca bergantian dengan adik perempuan saya. Suatu hari Bapak pulang membaca buku yang sangat besar. Gambarnya menarik. Sampulnya hardcover. Tak ada toko buku besar di kota kami. Kata Bapak, ada pedagang keliling yang menawarkan ke kantor. Itu buku favorit saya sampai sekarang : Petualangan di Negeri Dongeng. Walaupun buku itu untuk kami (saya dan adik), rasa-rasanya saya yang lebih dominan menguasainya (hehe, maaf ya adik-adikku). Sudah berulang-ulang saya baca. Kadang hanya saya buka-buka menikmati ilustrasinya. Ceritnyaa tentang hewan-hewan di Negeri Rimba yang kebanjiran lalu ditolong para bajang. Mereka lantas hidup berdampingan. Sampai datangnya para kurcaci, peri, dan permusuhan dengan Negeri Naga. But at last, mereka hidup damai bersama.

Kadang, saya kesal karena pekerjaan Bapak yang menyita waktu. Membuat kami sering tidak bisa sering-sering pergi liburan sama-sama. Ketika dewasa, saya baru sadar bagi Bapak, pekerjaan bukan sekedar mencari nafkah tapi juga bentuk dedikasi dan pengabdian.

Meski begitu, rasanya banyak waktu yang Bapak sempatkan untuk saya. Sekedar menyempatkan waktu mengambil raport ketika saya masih SMP. Mengantarkan saya keluar kota agar bisa ikut lomba saat saya SMA. Mengantarkan saya saat hendak kuliah di Bogor. Menjemput saya saat usai wisuda. Bahkan mengantarkan saya tes kerja (padahal saya bisa saja berangkat sendiri). Dan masih banyak hal lain yang belum tersebutkan oleh saya.

Apa yang saya terima, juga diterima oleh adik-adik saya. Beliau selalu ada di saat-saat penting kami. Membuat kami, anak-anaknya, merasa berharga. Mungkin Bapak ingin memastikan kami mendapatkan yang terbaik darinya.

Saya sering meneteskan air mata kalau mendengar dan mengingat-ingat cerita Bapak kala anak-anak dan remaja. Berjuang meraih kehidupan yang lebih baik. Dan membaikkan keluarganya. Banyak hal yang bisa kami teladani darinya.

Terimakasih, Bapak. Semoga kami bisa membalas curahan kasihmu.

0 komentar:

Posting Komentar