Selasa, 14 Juni 2011

Rumput, Minum, dan Tulisan


Rumput tetangga dan rumput sendiri

Baru saya sadari saya bukan orang yang bisa curhat tentang apa yang dirasakan, yang dipikirkan, kepada dinding-dinding di blog ini.

Padahal saya biasa bicara pada dinding kamar^^

Kenapa ya?

Entahlah.

Setiap orang punya gayanya sendiri untuk berbagi.

Terkadang iri ada orang yang sedemikian puitisnya menceritakan tentang anak-anaknya, suaminya, kehidupannya, aktivitasnya.

Menuliskan yang sederhana itu ke dalam hutan kata yang hijau dan lebat *owww teduhnya …*

Sungguh saya tak yakin bisa.

Alih-alih menulisnya, saya sudah malu duluan.

Tapi pada akhirnya waktu punya jawaban sendiri.

Membaca lagi tulisan sendiri di blog lama, notes FB, blog baru, ternyata saya curhat juga.

Meski tak vulgar, tapi seringkali tersirat dalam makna yang mungkin dilaintafsirkan (saya lebih suka membuat istilah ini dari pada memakai : ditafsirkan lain *padahal sama saja* :) oleh orang lain.

Tak mengapa.

Memang itu tujuannya.

Ada sih, beberapa yang kentara sekali, tapi biasanya yang begitu dikirimkan buat lomba *by request gitu* hehehe …

Menuliskan isi hati, mengarsipnya dalam tulisan, tetapi saat orang membaca tak harus tahu apa yang saya rasa.

Hmm … memuaskan diri tanpa mengumbar sensasi *haish … sok artis*

Biar saja dilaintafsirkan.

Karena bagiku ketika tulisan dipublikasi, maka bukan lagi sepenuhnya milik penulis.

Pembaca pun punya hak memilikinya.

Saya tak mau terlalu egois dengan meng’aku’kan, mengidentifikasi secara khusus, menisbatkan diri saya sendiri sebagai pemiliknya.

Rumput di halaman tetangga kadang memang tampak lebih hijau, tapi rumput di halaman sendiri lebih enak rasanya *lhoh?!*


Menulis, makan, dan minum

Ah, lagi-lagi menulis memang nikmat.

Seperti meneguk minuman hangat di saat cuaca dingin atau minuman dingin di saat udara panas.

Ada yang terlepas, ada yang terpuas, jelas.

Makanya saya tak pernah menyalahkan mood bilamana pikiran, tangan, lisan, macet tak menghasilkan apa-apa.

Mungkin memang tidak sedang haus *mungkin lapar :)*

Kalau minum terus nanti bisa kembung kan?


Menulis dengan hati

Owh, minum memang nikmat saat kita merasa haus.

Apalagi kalau haus banget *piss^^v*

Beda kalau minum pas masih kenyang atau ga haus.

Biasanya saya merasa eneg dan pengen (maaf) muntah.

Mungkin begitu analogi menulis dengan hati dan korelasinya terhadap tulisan yang dihasilkan ala saya *ga penting*


Menulis sukasuka, sukasaya, sukakamu

Meskipun ‘sekedar’ seperti minum, menulis bukan perkara gampang.

Minum teh ala kaisar Cina atau ala kerajaan Inggris ada aturannya.

Minum wine ala orang Eropa kuno, ga sembarangan.

Minum obat juga kan ada dosisnya^^ *ga nyambung*

Intinya kadang kita boleh minum secara sembarangan, asal teguk, campur sana sini kayak soda gembira.

Namun terkadang kita juga harus patuh aturan.

Terutama minum obat ya, biar ga overdosis :)

Misalnya minum cerpen *eh, salah. Nulis teh. Tuh kan ngaco* ada pagar definisinya.

Ga bisa sembarangan seperti tulisan yang sedang Anda baca ini.

Kalau yang ini mungkin namanya Es Teh Lemon Hangat *tuingtuing*


Akhirulkata

Ya, intinya *akhirnya … mau selesai juga. Dari tadi ngoceh ga jelas* saya hanya pengen bilang, saya ingin menulis gaya sukasuka saya.

Ga mutu juga gapapa.

Yang penting saya ga haus lagi.

Kalau ternyata tulisan saya enak dimakan, wah … ya bonus itu.

Dengan senang hati saya persilakan untuk dimakan dan dinikmati.



Salam^^

lagipengennulisgajelas

0 komentar:

Posting Komentar