Senin, 08 Agustus 2011

Remidial

Ada seorang mahasiswa. Dalam sebuah mata kuliah, dia tidak menjalaninya sungguh-sungguh. Kadang bolos kuliah, kadang tugas hanya sekedar copy paste, belajar pun ia hanya sekedarnya. Saat masa ujian datang, ia tak segan mengandalkan bantuan kawan. Begitu nilai diumumkan, terpampang nilai A untuknya.

Tiba-tiba dia merasa muak melihat nilai yang diperolehnya dengan cara suka-suka. Dia bertanya pada dirinya sendiri, apa yang telah ia pahami dari mata kuliah itu dan apakah sudah pantas ia mendapatkan nilai A?

Pada dua semester berikutnya dia menemui dosen pembimbingnya untuk menyusun KRS. Dahi sang dosen berkernyit membaca pengajuan mata kuliah mahasiswa di hadapannya. Lalu sang dosen bertanya,

"Ini tidak salah? Bukankah semua mata kuliah ini sudah kamu ambil di dua semester yang lalu? Kenapa kamu masukkan KRS lagi? Apakah dapat nilai D atau E?"

Mahasiswa menggeleng.

Memang aturannya mata kuliah yang bisa diulang hanya mata kuliah dengan nilai D atau E. Selebihnya tak ada kompromi.

"Coba lihat transkrip semester kamu dua semester yang lalu. Ambil di map biru itu!"

Sang dosen semakin tak mengerti. Semua nilai di sana A. Lalu kenapa mesti diulang? Dosen dengan geram membalik transkrip dan KRS di tangannya dan dihadapkan ke wajah si mahasiswa.

"Kamu mau mempermainkan saya?" ujarnya geram.

Mahasiswa menggeleng. Dosennya geleng-geleng.

"Begini bu, di semester itu, saya banyak curang. Bolos kuliah dan titip tanda tangan, copy paste tugas, nyontek saat ujian, dan entah kenapa tetap saja saya dapat A. Melihat nilai itu, saya jadi sadar. Tidak ada yang saya dapatkan selain huruf A. Saya hanya ingin mengulang semua untuk mendapatkan apa yang seharusnya saya dapatkan."

"Tapi prosedurnya, nilai A tak bisa diulang. Memangnya kamu yakin bisa dapat nilai A lagi dengan mengulang semua mata kuliah itu?"

"Saya tahu dan saya tidak yakin. Karena itu saya minta bantuan ibu agar saya bisa mengulang. Dan saya yakinkan ibu bahwa saya tidak peduli nilai apa yang akan saya dapatkan nanti asalkan saya bisa menjalani proses yang bersih. Saya muak sama diri saya sendiri setiap kali menengok transkrip yang ibu pegang."

"Kenapa tidak belajar lagi saja sendiri untuk mengerti. Tak usah lah mengulang. Buang-buang waktu, buang-buang uang."

"Tapi saya ingin mendapatkan nilai yang fair atas kemampuan diri saya. Apakah saya salah?"

Si mahasiswa ngotot, dosennya menyerah. Tanda tangan di KRS yang persis ia tanda tangani dua semester lalu dengan resiko pertanyaan dari pada dosen dan dekanat.


*Remidial, mengulang sesuatu yang gagal adalah hal yang biasa. Namun mengulang sesuatu yang nampaknya bukan kegagalan barangkali masih menjadi hal yang tidak wajar. Seseorang dengan kesuksesan yang semu, ibarat buah karbitan. Rasanya akan tetap masam dan mudah busuk. Jadi apa salahnya memburu kesuksesan yang sesungguhnya? Meskipun hasilnya mungkin tak sesukses sebelumnya. Entahlah, tapi bagiku ternyata dalam hal-hal seperti ini, proses masih jauh lebih penting daripada hasil.

*Aku cuma mau remidi, bukan mau dropout :) walaupun ga ada yang jamin bakalan ga dropout, hehehe ... Sebab istiqomah itu sungguh berat!

0 komentar:

Posting Komentar