Senin, 08 Agustus 2011

Gabus, Spons, dan Perahu

Alkisah pada suatu masa, ada seorang 3 orang pria dengan sifat buruk yang diberi kesempatan menghanyutkan diri di sungai kebaikan sebagai gabus, spons, atau perahu kayu untuk berlomba menuju hilir sungai tempat kenikmatan hidup yang abadi bersemayam.

Pria pertama tanpa berpikir panjang, segera menceburkan diri ke sungai kebaikan itu sebagai gabus yang ringan. Pikirnya, semakin ringan dirinya maka semakin cepat ia menuju hilir sungai kebaikan yang bermuara pada kenikmatan abadi.

Pria kedua, memastikan diri memilih menjadi spons. Spons hampir sama ringan dengan gabus. Namun spons yang lebih porus ia pikir mampu membuatnya lebih mudah mengalir bersama arus sungai kebaikan.

Pria ketiga tak punya pilihan. Maka ia segera menjelma menjadi perahu kayu dan mengarungi sungai kebaikan bersama pria-pria sebelumnya. Meskipun tak punya pilihan, ia yakin dengan perahu, ia bisa menuju ke hilir dengan cepat karena bantuan dayungnya.

Namun di luar dugaan ketiga pria itu, sungai kebaikan bukanlah sungai dalam berarus deras tanpa rintangan yang bisa mereka hadapi dengan mudah. Terkadang mereka menemui bebatuan terjal dan arus yang deras. Atau terkapar di tepian sungai yang dangkal dan berlumpur. Sesekali mereka juga tersesat di ranting sungai yang hampir kering.

Si pria gabus, mengalir cepat dan mulus saat arus sungai sedang bagus. Tapi ia terseok-seok dan terantuk bebatuan terjal tanpa bisa menghindar. Dan apabila musim sedang kemarau, saat air sungai semakin dangkal dan tak punya daya dorong, ia hanya bisa pasrah, berdiam. Menunggu arus kembali deras. Setiap kali kesulitan menghampirinya, ia hanya bisa mengumpat dan marah. Pada air sungai dan pada dirinya sendiri.

Si pria spons, mengapung basah di permukaan arus sungai. Pori-porinya dipenuhi oleh air sungai yang melesap masuk ke dalam hingga ia hampir tenggelam. Tapi ia ringan, masih mengapung walaupun basah kuyup oleh kebaikan. Sesekali saat matahari mengeringkan sungai, iapun tergeletak setengah kering, tak kuasa melanjutkan perjalanan. Ditahan amarahnya. Kebaikan yang mengisi porusnya membuatnya bertahan untuk sabar.

Si pria dengan perahu kayu yang selama ini sering dicibir oleh pria spons dan pria gabus karena pilihan bodohnya, justru mengalami nasib yang berbeda. Dengan perahunya dia bisa menampung air kebaikan secukup kebutuhannya. Dengan dayungnya, dia bisa menghindar dari batu-batu terjal yang menghadang. Dia juga mampu mendorong perahu saat arus mulai tak bersahabat. Sehingga dia tak terhempas ke tepian sungai yang dangkal dan berlumpur. Tak terjebak dalam kekeringan yang mengancam. Ia bisa menentukan kemana dia akan mengalir tanpa tergantung pada arus sungai yang tidak konsisten.

Namun pada akhirnya tak ada yang pernah tahu apakah mereka bertiga benar-benar sampai di muara sungai kebaikan atau tidak.

Bisa jadi arus kembali menghanyutkan gabus dan spons ke muara. Bisa jadi pria dengan perahu kayu justru tersesat dan terjungkal dari perahunya. Semua kemungkinan itu bisa saja terjadi.

Gabus, spons, dan perahu kayu itu ibarat hati.
Sungai kebaikan itu adalah lingkungan yang memberi pengaruh baik bagi kehidupan.
Ada kalanya hati berada dalam arus kebaikan yang deras (seperti di bulan Ramadhan ini misalnya), tapi terkadang hati terjebak pada kondisi kemarau yang mengalami paceklik kebaikan.

Orang-orang dengan hati gabus ataupun spons, mudah mengalir dalam arus (pengaruh kebaikan) yang kuat. Tetapi bedanya, hati gabus hanya sekedar basah, tak sungguh-sungguh air kebaikan melesap ke dalam dirinya. Sedangkan hati spons, meski kadang kebaikannya berhenti karena kondisi, tapi pori-porinya telah menyerap air dari sungai kebaikan dan mengendapkannya. Kedua hati ini sangat bergantung pada kekuatan arus sungai kebaikan untuk tetap bisa menjadi baik.

Berbeda lagi dengan hati perahu kayu. Ia punya dayung. Dalam harus yang deras ia bisa mengendalikan alirannya, dalam arus yang lemah dia bisa mengandalkan kekuatannya untuk terus mengarungi sungai kebaikan. Ia tahu kapan ia harus tampung air kebaikan ke dalam perahunya, ia tau seberapa banyak dia membutuhkan air kebaikan untuk dirinya. Merekalah orang baik yang merdeka. Merekalah orang yang merdeka dalam kebaikan. Setidaknya sampai badai memaksa ia terjungkal dari perahunya. Artinya, harus ada kejadian luar biasa yang membuatnya berpaling dari kebaikan yang selama ini bebas ia rasakan.

Hmm ... entah aku termasuk yang mana. Yang mana pun, aku hanya berharap ada hujan turun saat sungai kebaikan kering dan kembali menghanyutkanku ke muara sungai kebaikan.

0 komentar:

Posting Komentar