Minggu, 21 Februari 2016

Cerita Anak : Teman Baru



Gambar dari : https://mentoringku.files.wordpress.com/2011/06/akhwat.png
Kelas Qila, kedatangan murid baru. Namanya Nisa. Sejak pertama kali Qila melihat teman barunya itu, Qila merasa ia tidak akan cocok berteman dengan Nisa. Saat Nisa mengulurkan tangan untuk mengajak Qila bersalaman, Qila hanya menyentuhkan ujung jarinya saja. 

“Kenapa sikap kamu begitu, La?” tanya Fitri, teman sebangku Qila.

“Habis dia dekil. Tuh lihat bajunya, kucel tidak disetrika. Jangan-jangan belum mandi,” cibir Qila.

“Hush, jangan suudzon!” tegur Fitri.


Nisa mungkin tidak seperti anak-anak lain di kelas itu. Seragam, tas, dan sepatu yang dikenakan Nisa, tidak sebagus milik teman-temannya. Belum lagi sepeda tua yang dipakainya ke sekolah setiap hari. Tidak ada apa-apanya dibandingkan sepeda cantik milik Qila.

Setiap kali Nisa mencoba berteman dengan Qila, Qila malah menghindar.

“Jangan diambil hati, Nisa,” hibur Fitri saat melihat raut sedih di wajah Nisa.

Siang itu, Nisa pulang sedikit terlambat karena tugas piket membersihkan kelas. Dia mengayuh sepeda menuju ke rumah. Di tengah jalan, Nisa melihat seseorang menuntun sepeda. Itu Qila. Nisa mengenali tas punggung yang dipakainya. Nisa melambatkan sepedanya dan berhenti di dekat Qila.

“Sepedamu kenapa, La?” tanya Nisa.

“Bannya bocor,” jawab Qila dengan nada kesal. Dia lelah berjalan menuntun sepeda di siang yang terik seperti ini.

“Aku tahu tambal ban di dekat sini. Kemarin ban sepedaku juga kempes. Yuk, aku antar,” tawar Nisa.

Qila menggeleng menolaknya, “Uang sakuku sudah habis.”

“Kalau begitu, pakai uang sakuku saja. Masih ada, kok. Yuk, La!” ajak Nisa.

Dia menemani Qila menuntun sepeda sampai ke tukang tambal ban. Qila jadi tidak enak hati. Selama ini, sikapnya selalu kurang bersahabat. Tapi Nisa tetap mau menolongnya.

“Kamu haus tidak?” tanya Nisa.

Qila mengangguk malu. Nisa lantas pergi ke warung di seberang jalan. Saat kembali, ia membawa dua gelas air kemasan.

“Ini untukmu. Aku juga haus sekali. Bekal minumku sudah habis,” tutur Nisa sambil tersenyum. Qila menerima dan langsung meminumnya.

Qila tidak menyangka, uang saku Nisa cukup banyak. Padahal dari penampilannya, Nisa tidak terlihat seperti orang berada. Karena penasaran, Qila pun menanyakannya.

“Itu uang jajan yang aku simpan. Ternyata bermanfaat juga. Seperti hari ini, kan?” jawab Nisa.

Setelah sepeda Qila selesai ditambal, mereka pun berpisah jalan ke rumah masing-masing.

Keesokan hari di sekolah, Qila menunggu-nunggu Nisa datang.

“Nisa, ini untuk mengganti ongkos tambal ban kemarin,” ucap Qila.

“Tidak usah diganti, La. Tidak apa-apa, kok,” tolak Nisa.

“Kalau begitu, kamu harus mau menerima ini ya. Sebagai ucapan terimakasih. Juga sebagai permintaan maaf atas sikapku selama ini,” ujar Qila sambil mengangsurkan sebungkus kado.

“Terimakasih, Qila,” balas Nisa. 
Keduanya lalu tersenyum. Sejak hari itu, Nisa dan Qila menjadi sahabat. Qila tidak lagi membeda-bedakan dalam berteman. Ia juga bersikap baik kepada kawan-kawannya yang lain.

0 komentar:

Posting Komentar