Sabtu, 20 Februari 2016

Bobo Edisi 40 : Obat Anti Linglung



Obat Anti Linglung
Oleh Dian Sukma Kuswardhani

            Kurcaci Lilo kena marah lagi. Istrinya minta dibelikan gula, tapi ia malah membawa pulang terigu. Akhirnya ia harus kembali ke pasar untuk menukarnya.
            “Mungkin kau sudah mulai tua, Lilo. Jadi sering lupa alias pikun,” ujar Sisil, kurcaci yang menjual terigu pada Lilo. Untungnya Sisil masih mau mengganti terigu Lilo dengan sekantung gula.
            “Tidak mungkin. Rambutku saja belum ada uban satu pun,” sangkal Lilo cemberut.
            Lilo memiliki bengkel kecil di rumahnya. Ia biasa diminta memperbaiki bermacam barang yang rusak. Tidak banyak yang memiliki keahlian seperti dirinya. Karena itu, banyak antrian barang yang harus diperbaiki di bengkelnya itu. Seperti hari ini, Lilo sedang sibuk memperbaiki sepeda kayu Dago.  
Srek! Srek! Srek! Terdengar bunyi laci satu persatu di buka.
            “Aku mencari apa ya?” pikir Lilo bingung. Ia kembali menekuri sepeda kayu Dago.
            “Oiya, sekrup nomor sepuluh,” pekiknya sambil menepuk dahi.
            Lain waktu Lilo masuk ke dapur lantas bergumam, “Apa yang mau kuambil tadi?”
            Ia berusaha mengingat-ingat. Tapi tak menemukan jawabannya. Lilo menggerutu sendiri. Padahal, ia hanya mau mengambil obeng yang ketinggalan di meja dapur.
            “Dori, coba kemari.” Lilo memanggil istrinya.
            “Kau lihat alat pemutarku?” tanyanya.
            “Alat pemutar apa?” Dori tak mengerti.
            “Itu, yang biasa kupakai untuk mengencangkan sekrup. Apa itu namanya?” Lilo berpikir keras.
            Dori menggeleng-geleng. Ia meninggalkan Lilo lalu kembali membawa benda yang dicari Lilo, “Obeng ini?” ucapnya kesal.
***
Keesokan harinya, Dago datang ke bengkel Lilo untuk mengambil sepeda kayu. Ia melihat Lilo sedang termenung.
“Kau kenapa, Lilo?” tanya Dago.
            “Entahlah, Dago. Akhir-akhir ini aku sering lupa. Aku baru saja kena marah Dori. Mestinya aku merebus daging. Aku tidak sadar kalau yang kumasukkan ke dalam panci malah pisau dagingnya. Seperti kurcaci linglung saja.”
Dago tertawa. Ia memperhatikan Lilo. Wajah Lilo sedikit pucat. Kantung matanya menghitam. Dago merasa kasihan pada temannya itu.
“Aku punya obat anti linglung. Cobalah, siapa tahu bisa membuatmu lebih baik.”
Lilo senang mendengar tawaran Dago. Ia ikut ke rumah Dago untuk mengambil obat anti linglung itu.
Dago mengambil botol kaca berwarna hijau. Lantas ia sodorkan pada Lilo.
“Ini obatnya. Kau harus mematuhi tata caranya agar obatnya bekerja. Sudah aku tulis untukmu,” kata Dago.
Makan tiga kali sehari.
Pergi tidur jam sembilan malam.
Bangun tidur jam lima pagi.
Jalan-jalan keliling desa setiap pagi.
Minum obat satu sendok setelah sarapan.
“Banyak sekali aturannya,” keluh Lilo.
“Tambah satu lagi. Setiap hari minggu datang kemari. Aku ingin memastikan apakah penyakit linglungmu sudah sembuh atau belum,” tambah Dago.
“Baiklah-baiklah.”
Lilo meminta Dori untuk selalu mengingatkan aturan obat anti linglungnya. Lilo khawatir kalau-kalau ia lupa.
“Pahit?” tanya Dori saat hari pertama Lilo meminum obatnya.
Lilo menggeleng, “Tak ada rasanya.”
Saat hari minggu tiba, Lilo mendatangi Dago. Dago bilang, Lilo masih harus minum obat anti linglungnya.
Lama-lama, Lilo tak perlu alarm Dori untuk mengingatkan aturan obatnya. Lilo bangun pagi, jalan keliling desa, memakan sarapan buatan Dori, minum obat, lantas bekerja. Ia juga tidak pernah lagi tidur terlalu larut.
“Kau merasa lebih baik, kan?” tanya Dago saat bertemu Lilo lagi di hari minggu berikutnya. Kali ini, Dago yang pergi ke rumah Lilo.
Lilo mengangguk senang, “Aku tak pernah merasa sesehat ini. Obatmu sungguh manjur.”
“Syukurlah kalau begitu. Sekarang, berikan obatnya kembali padaku,” pinta Dago.
“Tidak. Aku rasa aku perlu meminumnya setiap hari, Dago. Aku akan membayarnya.”
Dago tertawa, “Ya sudahlah. Untukmu saja kalau begitu.”
Lilo merasa heran, “Apa obat ini tidak mahal?”
Dago menggeleng sambil senyum-senyum. Lilo jadi curiga. Pasti temannya itu merahasiakan sesuatu. Dago pun tak bisa menahan tawa.
“Iya ... iya. Aku mengaku. Cairan dalam botol itu sebenarnya hanya air putih biasa, Lilo. Bukan obat mujarab,” ujar Dago. Lilo tampak bingung.
“Dori mengeluh padaku tentang kebiasaanmu. Kau bekerja di bengkel hingga lupa makan dan kurang tidur. Mungkin semua itu membuat tubuh dan pikiranmu kelelahan. Makanya kau jadi linglung,” jelas Dago.
“Yang kau butuhkan bukan obat. Kau hanya perlu hidup sehat. Cukup makan, cukup istirahat, cukup olahraga, cukup liburan. Aturan minum obat itu yang membuatmu merasa bugar lagi,” tambah Dago.
Lilo tersenyum malu. Perkataan Dago memang benar semua. Cara Dago sungguh ampuh. Kalau hanya nasehat untuk hidup sehat, Lilo mungkin tak terlalu mempedulikan. Makanya Dago memberi obat anti linglung palsu itu dengan banyak aturan.
“Terimakasih, teman,” ucap Lilo tulus. Lilo pun terus menjalankan aturan minum obat anti linglung agar selalu merasa sehat.

0 komentar:

Posting Komentar