Sabtu, 20 Februari 2016

Bobo Edisi 38 : Roti Manis Kurcaci Rovio



Roti Manis Kurcaci Rovio
Oleh Dian Sukma Kuswardhani

Setiap kali melewati toko roti kurcaci Bred, kurcaci Rovio selalu sengaja berjalan lambat. Aroma roti yang baru dipanggang menggelitik hidungnya. Kalau sudah begitu, ia pasti akan singgah membeli beberapa buah roti lezat Bred.

            “Bred, apa rotimu sudah matang?” tanya Rovio masuk ke dapur toko Bred.
            “Baru kupanggang, Rovio. Kau mau menunggu?” jawab Bred. Ia bekerja sendiri di dapur.
            Kurcaci Bred sedang membentuk adonan roti yang akan dipanggang berikutnya. Ada yang diberi isian cokelat, almond cincang, keju, selai kacang, kismis, juga sosis dan daging. Rovio tertarik memperhatikannya. Bred sangat mahir membentuk adonan roti itu. Hasilnya tampak cantik dan menggugah selera. Apalagi kalau sudah keluar dari pemanggang.
            “Apa orang biasa sepertiku bisa membuat roti semacam itu?” tanya Rovio penasaran.
            “Bisa saja. Membuat roti itu sangat mudah, Rovio.”
            “Kau mau mengajariku?” tanya Rovio ragu.
            “Dengan senang hati. Kau bisa mencoba membuat rotimu sendiri di rumah. Nanti akan kuberi tahu resep dan cara membuatnya.”
            Rovio senang. Ternyata Bred tidak pelit membagi pengetahuannya. Ia ingin mencoba membuat roti sendiri. Tampaknya asyik dan menyenangkan.
            Rovio membawa pulang catatan dari Bred. Sebelumnya ia mampir ke pasar untuk membeli bahan-bahan pembuat rotinya. Ia perlu sekantong terigu, sekantong gula, sebotol susu, sebungkus ragi, sekotak mentega, beberapa butir telur, dan sedikit garam.
            Sampai di rumah, Rovio langsung mencoba membuat roti. Ia mencampur dan mengaduk semua bahan rotinya. Susah payah Rovio menguleni adonan yang mulai liat itu. Ia meremas, menggilas, dan membanting adonan rotinya seperti yang diajarkan Bred.
            Kata Bred, adonannya harus diuleni sampai kalis dan elastis. Adonan yang sudah kalis, tidak menempel-nempel lagi di tangan. Sedangkan adonan yang elastis, tidak mudah robek bila ditarik dan dilebarkan. Rovio mengetes adonannya.
            “Berhasil!” serunya senang. Sekarang, Rovio menyimpan adonannya agar mengembang dan menjadi lebih besar.
            Rovio menunggu sampai bosan. Setiap memeriksa adonan rotinya, tidak terjadi perubahan apa-apa. Rovio jadi kesal. Padahal ia sudah lelah dan mengantuk. Akhirnya ia memutuskan pergi tidur.
            “Semoga besok pagi adonanku sudah mengembang,” gumam Rovio.
            Keesokan harinya, adonan Rovio masih tetap sama seperti saat ia tinggal tidur. Rovio bingung. Ia bergegas membawa adonannya ke toko Bred.
            “Bred, sepertinya ada yang salah dengan resepmu. Adonan rotiku tak mau mengembang.”
            “Apa kau sudah melakukan sesuai catatan dariku?” tanya Bred.
            Rovio mengingat-ingat, “Sepertinya begitu,” jawab Rovio ragu.
            “Kau tidak menambahkan garam di awal mencampur bahan rotimu, kan?”
            Rovio meringis, “Aku mencampur semuanya di awal.”
            “Nah, itulah masalahnya. Biar kujelaskan. Adonan roti bisa mengembang karena ada ragi. Ragi itu sejenis jamur. Ragi memakan gula yang ada di adonan roti dan menghasilkan gas. Gas itulah yang membuat adonan tampak membesar. Kalau ragi langsung bertemu garam, dia bisa mati. Akibatnya seperti adonanmu ini,” jelas Bred. Rovio tersipu.
            “Oh, maafkan aku Bred. Kalau begitu aku akan mencobanya lagi.”
            Rovio pun pulang. Adonannya yang gagal dipanggang oleh Bred lantas dihancurkan dan ditabur di atap untuk makanan burung.
            Kali ini Rovio mengikuti cara yang dituliskan Bred. Ia menguleni lalu menyimpan adonannya agar mengembang.
            Rovio sangat senang melihat adonannya menjadi dua kali lipat dari sebelumnya. Ia segera membentuk dan memberi isian pada adonan rotinya. Meski tak semahir Bred, bentuk roti Rovio cukup lumayan. Ia paling suka membentuk roti kepang dan roti gulung.
            Harum aroma roti dipanggang memenuhi dapur Rovio, “Rotiku pasti seenak roti Bred.”
            Begitu roti itu matang, Rovio langsung mencicipi rotinya.
            “Huek! Bweh!” serunya saat mengunyah gigitan pertama. Rovio membawanya ke toko Bred.
            “Bred, kenapa rotiku jadi begini?” pekik Rovio membuat Bred yang sedang memanggang roti terkejut.
            Bred mencicipi roti Rovio. Rasanya pahit dan aromanya asam.
            “Kau memasukkan semua ragi ke adonannya ya?” tanya Bred. Rovio mengangguk.
            “Aku kan menulis setengah bungkus saja. Rotimu kebanyakan ragi, Rovio.”
            “Aaaa! Kenapa selalu saja ada yang salah?” teriak Rovio. Bred tertawa geli.
            “Sudah kubilang, membuat roti itu mudah. Asal kau tahu caranya. Aku sudah memberi tahu resep dan langkah-langkah membuatnya. Ikutilah dengan teliti,” saran Bred.
            Meskipun berkali-kali gagal, Rovio tidak menyerah. Ia membeli bahan roti lagi. Lalu mencoba membuat roti dengan teliti seperti petunjuk dari Bred. Rovio ingin menikmati roti lezat yang dibuat tangannya sendiri.
            “Aaaa emmmm,” Rovio menggigit roti yang baru keluar dari panggangannya.
            Ia mengunyahnya perlahan, “Hmmmmmm ...,”
            Rovio lari melesat ke toko Bred seperti atlet.
            “Bred, cepat cicipi rotiku!” serunya sambil menarik tangan Bred yang belepotan adonan roti.
            Bred memakan roti Rovio pelan-pelan. Rovio menatapnya sambil menunggu kata-kata keluar dari mulut Bred.
“Wow, rotimu lezat dan manis, Rovio. Kau berhasil,” ucap Bred membuat Rovio terlonjak saking senangnya.


0 komentar:

Posting Komentar