Senin, 23 November 2015

Solopos : Pawai Sepeda Hias

Dapat kabar dari mbak Karunia kalau cernak saya dimuat di Solopos hari Minggu, 22 November 2015.

Ini adalah cernak pertama yang saya kirimkan ke Solopos. Boleh dibilang, waktu tunggunya tidak lama. Saya kirim cernak ini pertengahan November 2015. Sekitar 2 minggu.

Sebenarnya, cernak ini sudah lama ditulis. Dan barangkali sudah mengalami perjalanan yang cukup panjang.

Saya menulis cernak Pawai Sepeda Hias sebagai salah satu tugas tambahan di kelas menulis Kurcaci Pos yang digawangi oleh Mas Bambang Irwanto. Tugas tantangan karena selama kelas berlangsung, saya selalu menulis cernak yang bergenre dongeng, hehehe. Saya harus menulis cernak realis.


Di akhir kelas, naskah ini awalnya saya kirim ke Kompas. Berharap bisa dimuat karena biasanya cernak di Kompas lebih banyak cernak realis. Ternyata beberapa bulan kemudian, naskahnya dikembalikan. Mungkin memang belum jodohnya. Jadi saya carikan jodoh lagi untuk naskah ini. Alhamdulillah ternyata jodohnya dengan Solopos.

Saya posting cerita versi aslinya ya. Cerita yang dimuat sudah disunting oleh editor. Jika ingin membaca versi yang di koran, masih bisa kok. E-paper koran Solopos bisa dibeli di aplikasi android Wayang. Saya pun membelinya dari Wayang karena tidak bisa membeli versi cetaknya.

Selamat membaca :)



Pawai Sepeda Hias

 
Seminggu lagi akan ada pawai sepeda hias. Semua anak kelas lima yang memiliki sepeda, boleh ikut. Adit sebenarnya ingin ikut, tapi ia ragu saat memandangi sepedanya.
Adit yang mengayuh sepeda di samping Rino, menatap sepeda temannya itu. Sepeda Rino masih bagus. Catnya mulus. Warnanya hitam-merah. Keren sekali. Jauh berbeda dengan sepeda Adit.
Namun kemudian Adit ingat betapa gembira dirinya saat Bapak pulang membawa sepeda itu. Bapak memang membeli sepeda Adit di tukang loak. Bapak lalu memperbaikinya. Adit mengecat sepedanya dengan cat minyak agar tidak tampak bagian yang berkarat. Akhirnya ia bisa memiliki sepeda. Jadi Adit merasa tak perlu malu dengan sepedanya.
Keesokan hari di kelas, Bu Guru mendata anak-anak yang mau ikut sepeda hias. Adit ikut mengacungkan tangannya.
“Sepeda butut dilarang ikut, Dit!” celetuk Galih. Sebagian anak di kelas ikut tertawa.
“Tidak betul itu. Semua boleh ikut,” balas Bu Guru. Adit tersenyum lega.
“Setiap sekolah akan dinilai oleh panitia pawai. Sekolah dengan tim sepeda hias terbaik akan mendapat hadiah,” lanjut Bu Guru menambah semangat anak-anak.
Saat istirahat, Galih mendatangi meja Adit. Ia meminta Adit mengurungkan niatnya ikut sepeda hias.
“Sepeda BMX-mu model lama, Dit. Tidak sama dengan sepeda federal teman-teman. Sepedamu juga sudah jelek. Nanti kita tidak bisa menang,” bujuk Galih.
Adit sedih. Ia merasa ucapan Galih ada benarnya. Sepedanya yang berbeda itu bisa membuat tim sekolahnya tidak kompak. Tapi Adit benar-benar ingin ikut pawai.
“Tadi kata Bu Guru tidak apa-apa,” ucap Adit. Rino yang duduk di samping Adit ikut mengiyakan.
“Ya sudah, ikut saja kalau kamu mau sekolah kita kalah,” tukas Galih galak. Adit jadi serba salah.
Anak-anak sepakat membuat hiasan dengan tema kebun.
Saat ditanya akan menghias sepedanya dengan model apa, Adit malah berkata, “Aku tidak jadi ikut.”
Galih tampak senang dengan keputusan Adit.
Sejak hari itu, teman-teman Adit sibuk menghias sepedanya. Tak terkecuali Rino. Rino meminta Adit membantunya. Rino akan membuat hiasan kepik merah.
Adit membuat kerangka kepik dari sebilah bambu. Rino menggunting-gunting kertas hiasnya sesuai dengan pola. Kertas hias itu lalu dilem pada kerangka bambu yang sudah dipasang di sepeda.
“Wah, bagus sekali. Cocok dengan warna sepedaku. Terimakasih ya, Dit,” ujar Rino.
Adit senang bisa membantu Rino. Meskipun tidak ikut pawai, setidaknya dia sudah terlibat mempersiapkannya.
“Nanti pas pawai, kamu ikut saja, Dit. Tidak perlu masuk barisan. Kamu bisa mengikuti di pinggir atau di belakang. Masa satu kelas cuma kamu saja yang tidak ikut,” usul Rino.
 “Ide bagus. Kalau sekedar ikut meramaikan dari jauh kan tidak apa-apa. Kalian pakai seragam olahraga, ya? Aku pakai kaos bebas saja biar tidak disangka peserta,” sambut Adit.
Rino dan Adit lalu membereskan alat-alat dan kertas hias. Rino terlalu banyak membeli kertas hias. Kertas itu masih banyak tersisa. Adit memintanya untuk dibawa pulang.
***
            Pawai sepeda hias diadakan di hari minggu pagi. Bu Guru meminta anak-anak berkumpul di sekolah terlebih dulu. Sekarang, halaman sekolah penuh dengan sepeda yang dihias aneka rupa. Ada yang berbentuk aneka macam bunga, kaktus, kupu-kupu, kepik, dan masih banyak lagi. Bu Guru mengabsen satu per satu sebelum mereka berangkat.
            “Adit!” seru Bu Guru.
            “Adit tidak ikut, Bu,” jawab Galih.
            “Saya di sini, Bu,” sahut Adit tiba-tiba. Galih heran melihat Adit ikut berkumpul.
            “Tenang saja. Aku hanya akan mengikuti dari jauh kok. Lihat, aku juga tidak pakai seragam,” ucap Adit pada Galih.
Bu Guru memperhatikan sekeliling. Ia melihat sepeda Adit yang disandarkan di bawah pohon mangga.
“Itu sepedamu kan, Dit? Sudah dihias juga. Kenapa tidak jadi ikut?” tanya Bu Guru heran. Teman-teman Adit ikut menoleh memperhatikan sepeda Adit.
            Adit memakai kertas sisa dari Rino untuk menghias sepedanya. Ia membuat bentuk belalang. Cocok sekali dengan model sepeda BMX-nya.
            “Kalau begitu, Adit ikut pawai saja,” celetuk Eno.
            “Sepedaku kan beda dengan sepeda kalian. Nanti tidak kompak,” balas Adit.
            “Siapa yang bilang begitu? Bu Guru kan sudah bilang tidak apa-apa. Yang penting tema hiasannya sama. Sudah sana cepat ganti kaosmu!” perintah Bu Guru.
            Adit senang sekali mendengar ucapan Bu Guru. Ia segera kembali ke rumah untuk berganti seragam olahraga. Tidak sia-sia dia menghias sepedanya semalaman. Akhirnya Adit bisa ikut pawai sepeda hias. Adit melihat Rino mengacungkan kedua jempolnya. Adit tersenyum. Sedangkan Galih hanya diam, tak bisa protes lagi.




0 komentar:

Posting Komentar