Senin, 19 Oktober 2015

Bobo Edisi 26 : Kiki Mau Sekolah Lagi




Kiki Mau Sekolah Lagi
Oleh Dian Sukma Kuswardhani

“Pokoknya aku tidak mau sekolah!” rajuk Kiki.
“Kenapa tidak mau sekolah?” tanya Mama.
“Sekolahnya tidak enak. Temannya tidak ada yang kenal. Kiki mau ke sekolah yang lama saja,” rengeknya.
Kiki memang sedang ngambek. Sudah sejak awal dia tidak mau diajak pindah. Tapi itu kan tidak mungkin. Masa Kiki mau tinggal sendirian?
Papa pindah tugas ke kota lain. Itu artinya Kiki dan Mama juga harus ikut pindah. Sebenarnya ini bukan kali pertama Papa pindah tugas. Tapi saat kepindahan sebelumnya, Kiki masih kecil. Belum bersekolah.
Mama memilih mengalah. Ia membiarkan Kiki berada di rumah. Lagipula kalau hari ini mau masuk sekolah, sudah sangat terlambat.
***
Sudah seminggu ini Kiki tidak mau sekolah. Ia hanya bermain dan belajar di rumah bersama Mama dan Papa. Sesekali bersepeda keliling perumahan tempat barunya tinggal.
Brak!!
Sepeda Kiki oleng lalu menabrak pembatas jalan. Dia kurang hati-hati. Tak sempat menghindari jalan yang berlubang.
“Aduuuh,” erangnya kesakitan.
Lutut dan siku Kiki lecet-lecet. Rasanya perih sekali. Ia ingin berdiri tetapi sepeda rubuh di atas kakinya. Seorang anak perempuan datang membantunya mengangkat sepeda. Kiki lalu dipapah ke pinggir jalan.
“Kamu tidak apa-apa? Mau kuantar pulang? Rumahmu dimana?” tanya anak itu ramah.
Dia seumuran dengan Kiki. Potongan rambutnya pendek berponi. Kiki jadi teringat Mia, sahabatnya di sekolah dulu.
“Rumahku dua blok lagi dari sini,” jawab Kiki.
Kiki diboncengkan sepeda oleh anak yang menolongnya. Sepanjang jalan mereka ngobrol. Tentu saja tak lupa berkenalan. Namanya Fita. Tinggal tak jauh dari tempat Kiki jatuh tadi.
“Jadi kamu sekolah di SD Mulia juga?” tanya Kiki. Fita mengangguk.
“Kelas 4 juga?” Kiki bertanya lagi. Fita mengangguk, kali ini sambil tersenyum lebar.
Mereka sedang duduk di beranda. Mama sudah mengobati luka Kiki. Mama senang melihat Kiki bertemu teman baru.
“Aku ingat kamu murid baru di kelas. Tapi kita belum sempat kenalan. Setelah hari pertama kamu masuk, aku sakit. Harus istirahat di rumah. Saat aku masuk, kamu tidak pernah kelihatan lagi,” jelas Fita.
Kiki nyengir. Dia jadi malu sendiri. Mungkin saat itu, teman-teman di sekolah mau berkenalan dengannya. Tapi setiap istirahat, dia malah menyendiri di perpustakaan.
            “Aku pulang dulu ya. Besok kita berangkat sekolah sama-sama. Janjian di pos satpam perumahan, mau?” ajak Fita.
            “Iya, mau. Besok aku akan masuk. Kita naik sepeda ya,” jawab Kiki.
Senyum Kiki merekah lebar. Lukanya sudah tidak terasa perih lagi. Begitu juga luka di hatinya karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Kiki sudah mendapatkan obatnya.
***
            “Ma, besok Kiki boleh masuk sekolah?”
            “Sekolah? Yang di sini? Atau di sekolah yang lama?” goda Mama.
Mama sudah tahu Kiki akan kembali lagi ke sekolah. Kiki hanya perlu diberi kesempatan untuk menemukan kenyamanan dan kepercayaan.
“Ya di sini lah, Ma.”
“Ya tentu boleh dong, Sayang. Mau Mama antar?”
“Tidak perlu, Ma. Kiki naik sepeda saja. Kiki mau bareng Fita. Fita baik ya, Ma.”
“Hmm … Mama yakin masih banyak teman-teman lain di sekolah yang juga baik seperti Fita. Mungkin hanya perlu waktu lebih lama sedikit untuk bisa mengenal mereka semua satu-satu,” ujar Mama memberi nasehat.
Kiki tersenyum. Mama benar. Pasti masih banyak anak lain di sekolah yang mau berteman dengannya seperti di sekolahnya yang dulu.

0 komentar:

Posting Komentar