Minggu, 20 September 2015

Bobo Edisi 24 : Sahabat Selamanya

Cerita anak ini hasil belajar di kelas Merah Jambu bareng mbak Nurhayati Pujiastuti. Awalnya, saya merasa kesulitan mengolah cerita ini. Saat menulis cerpen realis sering macet, hihihi. Tapi alhamdulillah ceritanya jadi manis setelah mendapat sentuhan dari editor Bobo. Cerita yang saya tampilkan di sini masih file aslinya. Selamat membaca :)



Sahabat Selamanya
Dian Sukma Kuswardhani

Pulang sekolah, Disti berjalan sendirian ke rumahnya. Biasanya dia selalu berdua dengan Nita, sahabatnya. Disti tampak tak bersemangat. Wajahnya ditekuk. Tiba-tiba sebuah botol plastik melayang. Rupanya Disti yang menendangnya.

"Huh! Nita lebih milih sama anak baru itu daripada denganku," gerutu Disti.
Tante Kinar, mamanya Nita, siaran di radio dari pagi sampai siang. Sambil menunggu mamanya pulang, Nita bermain di rumah Disti. Tentu saja Disti senang. Dia bahkan sudah menganggap Nita saudara.
***
"Disti!" panggil Chika saat bertemu Disti di gerbang sekolah.
Chika adalah anak baru di kelasnya. Chika juga baru pindah rumah, persis di sebelah rumah Nita.
"Ada apa?" Disti menanggapi dengan malas.
"Nggak apa-apa. Cuma mau bareng ke kelas," jawab Chika sambil tersenyum.
"Chika!" Nita memanggil dari kejauhan. Lalu menyusul langkah Chika dan Disti.
"Tuh, kan. Cuma Chika yang dipanggil," batin Disti sebal.
"Chik, nanti jadi kan? Aku sudah beli buahnya. Mau ikut, Dis? Kita mau rujakan," ujar Nita.
Disti diam. Biasanya Nita selalu merencanakan hal seru dengannya. Sekarang, Nita tidak mengacuhkannya. Bahkan saat istirahat, Nita juga tidak mengajaknya ke kantin sama-sama.
***
Di lain hari, Nita datang ke sekolah memakai tas yang sama persis dengan Chika. Disti jadi teringat, dulu ia juga pernah datang ke sekolah mengenakan sepatu yang sama dengan Nita. Disti jadi semakin sedih.
Sekarang, Disti jarang bermain dengan Nita. Bahkan mereka juga makin jarang bertegur sapa.
"Kamu berantem sama Nita, Dis?" tanya Indri, teman sebangku Disti.
"Nggak," jawab Disti pendek.
Memang Disti tak merasa bertengkar dengan Nita. Tiba-tiba mereka sudah tidak seakrab dulu. Itu saja.
"Biasanya kalian selalu sama-sama. Kayak gula dan semut," gurau Indri. Disti hanya tersenyum tipis.
***
Disti merogoh laci mejanya untuk mengambil seragam. Jam olahraga sudah usai. Dia mau ganti pakaian.
Buk! Kotak kecil ikut jatuh saat Disti menarik seragamnya. Dia menengok kanan kiri. Tak ada orang. Dimasukkannya kembali kotak kecil itu ke dalam laci.
Disti menunggu sampai jam sekolah usai. Barangkali ada yang mau menemuinya untuk memberi penjelasan. Atau memintanya kembali karena menyimpan di laci yang salah. Tapi tak seorangpun datang. Disti memutuskan membawanya pulang.
Di kamar, Disti menatap kotak bersampul kertas kado itu dengan penasaran. Ia lalu membukanya dengan hati-hati. Isinya sebuah bros kupu-kupu biru, sebatang cokelat kesukaannya, dan secarik surat.
Disti,
Ini aku Nita. Kamu marah padaku? Sudah berhari-hari kita tak bertegur sapa. Apa aku ada salah padamu? Maafkan aku ya. Aku kangen main bareng kamu lagi. Moga-moga hadiah kecil ini bisa menebus kesalahanku.
Mata Disti berkaca-kaca membacanya. Ternyata Nita peduli padanya. Disti segera mengeluarkan sepeda lalu mengayuhnya sekuat tenaga.
"Nita!" panggil Disti. Nita sedang berdiri di depan rumahnya. Sebuah mobil bak terbuka terparkir tak jauh dari sana. Mobil itu penuh berisi barang-barang.
"Kamu mau pindah, Nit? Kok tidak bilang-bilang dulu?" tanya Disti.
"Aku minta maaf ya, Nit. Aku kira kamu nggak peduli padaku lagi karena sudah ada Chika." Disti meraih bahu Nita lalu memeluknya. Rasanya dia masih belum rela kalau Nita pindah jauh.
"Aku tidak bermaksud begitu, Dis. Di sekolah kamu selalu menghindariku. Kupikir kamu marah. Aku juga minta maaf, ya." Nita membalas pelukan Disti.
"Kamu mau pindah kemana?" tanya Disti begitu melepas pelukannya.
"Pindah?"
"Iya. Mobil itu mengangkut barang-barangmu, kan?" Nita malah tertawa. Disti jadi keheranan melihatnya.
"Bukan aku yang pindah. Itu barang-barang Chika. Dia mau pindah ke rumahnya sendiri. Sebulan kemarin keluarganya mengontrak rumah sebelah karena rumahnya sedang direnovasi," jelas Nita. Disti jadi malu sudah terburu-buru menyimpulkan.
"Jadi, kita masih sahabatan kan, Dis?" tanya Nita.
"Tentu saja. Selamanya," jawab Disti gembira.

0 komentar:

Posting Komentar