Jumat, 28 Agustus 2015

Bobo Edisi 17 : Rahasia Rega



Alhamdulillah, ada kesempatan dimuat lagi di Majalah Bobo. Ceritanya -menurut saya sendiri- termasuk yang mengharukan, hehe.

Agak telat nih postingnya. Baru sempat. Yang saya posting ini versi aslinya ya.




Rahasia Rega
Dian Sukma Kuswardhani

Galih dan Doni gelisah. Mereka berdua mondar mandir di samping becak Mang Ikin. Sebentar-sebentar mereka melongok ke arah gang rumah Rega.
“Udah jam tujuh kurang sepuluh nih,” ucap Galih.
“Iya. Mau disamperin ke rumahnya apa ditinggal aja?” balas Doni. Mang Ikin hanya diam saja tak ikut nimbrung.
Kejadian seperti ini hampir setiap hari terjadi. Rega selalu terlambat datang ke pangkalan becak yang akan mengantar mereka ke sekolah. Mang Ikin adalah pengemudi becak langganan mereka. Tapi itu sudah cukup lama berlalu. Sebulan ini, Rega sudah tidak pernah lagi terlambat datang. Tentu saja Galih dan Doni senang.
Pasalnya kalau Rega terlambat, mereka juga jadi ikut terlambat. Akibatnya mereka  kena hukum juga di sekolah. Padahal dari rumah, Galih dan Doni sudah berangkat tepat waktu. Kalau mau ditinggal, kasihan juga Rega. Mau naik apa dia ke sekolah. Jalan kaki juga lumayan jauh.
“Sudahlah, kita tinggal saja dia! Sekali-sekali biar kapok!” Galih akhirnya meminta Mang Ikin berangkat tanpa menunggu Rega lagi.
Selang lima menit, Rega terlihat berlari-lari ke pangkalan becak. Becak Mang Ikin sudah tak ada. Rega melanjutkan berlari ke sekolah. Siapa tahu di jalan masih bisa mengejar becak Mang Ikin.
***
“Kalian kok ninggalin aku sih?” tanya Rega pada Galih dan Doni saat jam istirahat.
“Habis kamu lama. Katanya sudah janji nggak telat lagi!” omel Doni.
Sorry, deh. Aku kan nggak sengaja telat berangkat. Besok aku usahakan nggak telat. Jangan ditinggal, ya, “ pinta Rega mengiba.
Doni dan Galih akhirnya mengiyakan. Tak tega juga melihat sahabatnya basah kuyup mandi keringat karena berlari ke sekolah. Sampai di sekolah masih dihukum pula karena terlambat.
Doni dan Galih tidak tahu pasti kenapa Rega dulu selalu terlambat dan terulang lagi hari ini. Setiap kali ditanya, Rega hanya menjawab, ”Nggak apa-apa.” Jadi Galih dan Doni menyimpulkan Rega suka bangun siang, makanya terlambat.
Doni, Galih, dan Rega tinggal di perumahan yang sama. Tapi mereka beda komplek. Komplek perumahan yang mereka tinggali cukup luas. Rumah mereka pun tak berdekatan. Makanya daripada becaknya kelamaan menjemput satu-satu, mereka sepakat berangkat bersama dari pangkalan becak.
“Sebulan ini kamu udah nggak pernah telat, Ga. Tadi kenapa telat lagi?” tanya Galih penasaran.
“Nggak apa-apa,” jawab Rega seperti biasanya.
“Andaikan aku bisa jujur sama kalian,” batin Rega. Entah apa yang ia tutupi.
***
Hari ini, Doni dan Galih sepakat ingin mencari tahu alasan Rega terlambat. Mereka curiga ada yang Rega sembunyikan. Keduanya akan pergi ke rumah Rega.
Doni dan Galih belum pernah ke rumah Rega. Rumah mereka berjauhan meski masih dalam satu komplek perumahan. Mereka hanya tahu nama bloknya saja, Blok Anggrek Raya.
Sampai di blok yang mereka cari, mereka bertanya pada seorang Bapak, “Permisi, Pak. Mau tanya. Rumah Rega yang mana ya?”
“Oh, itu yang paling ujung.” Galih dan Doni langsung menuju ke sana.
“Assalamu’alaikum. Rega!”
“Waalaikumsalam.”
Seorang wanita tua keluar dari dalam rumah, “Siapa? Rega sedang membersihkan rumput di rumah Pak Joyo.”
            “Kami teman sekolahnya, Nek.”
            “Tunggu saja dulu. Sebentar lagi juga pulang. Sudah dari pagi. Sini masuk, duduk dulu,” ujar Nenek.
            Sudah jalan jauh-jauh, capek kalau langsung pulang balik. Doni dan Galih memutuskan menunggu. Mereka menebak wanita tua itu adalah nenek Rega. Nenek sudah tampak kepayahan berjalan. Ia menemani Galih dan Doni di teras.
            “Nek, Rega kalau berangkat sekolah jan berapa sih?” Doni bertanya duluan.
“Habis subuh,” jawab Nenek.
“Ha?” spontan Galih mengekspresikan keheranannya. Galih dan Doni beradu pandang. Jadi kenapa Rega selalu telat?
“Rega kan kalau pagi harus antar koran dulu keliling komplek. Lumayan untuk bantu-bantu bayar uang sekolah. Sebulan kemarin Nenek sakit. Rega jadi sempat berhenti antar koran. Baru kemarin dia mulai lagi,” jelas Sang Nenek.
“Oo ... naik apa, Nek? Jalan?”
“Naik sepeda Pak Joyo.”
“Rega!” seru Galih dan Doni bersamaan saat melihat Rega membuka pintu pagar. Rega tampak terkejut.
“Eh, kalian. Kapan datang? Menunggu lama ya? Kok tahu rumahku?” pertanyaan Rega berentetan.
Rega menghidangkan air dingin dan pisang goreng. Ketiga sahabat itu berbincang di teras. Rumah Rega tidak seluas rumah Doni dan Galih. Di halamannya tumbuh pohon mangga yang menjadi peneduh, terutama di siang yang terik begini.
Doni dan Galih tak bertanya apa-apa lagi, mereka sudah mengerti mengapa Rega selalu terlambat. Rega tak pernah cerita. Mungkin dia malu. Jadi Doni dan Galih memutuskan untuk pura-pura tidak tahu.
“Aku baru tau kamu tinggal sama Nenekmu, Ga,” kata Galih.
“Iya, memang aku tinggal berdua dengan Nenek. Bapak Ibuku kan sudah nggak ada,” kata Rega. Kalau soal Bapak Rega sudah meninggal, Galih dan Doni sudah tahu. Tapi mereka baru tahu sekarang kalau ibu Rega ternyata juga sudah tiada.
“Anak-anak, ayo makan dulu,” panggil Nenek dari dalam rumah.
“Ayo, Don, Lih. Sekali-sekali makan di rumahku ya,” timpal Rega. Mereka pun masuk ke rumah untuk menikmati makan siang sama-sama.
Seusai makan, mereka kembali duduk di teras.
“Eh, maaf nih. Bukannya aku ngusir. Aku ada perlu lagi setelah ini.”
“Oh, nggak apa-apa, Ga. Kita juga mau pamit, kok. Makasih ya makan siangnya. Lain kali gantian di rumahku. Asik sekali makan siang bareng seperti tadi.” Jawab Doni.
Rega sebenarnya masih ingin berlama-lama dengan teman-temannya. Tapi ada pekerjaan lain yang menantinya lagi. Membersihkan rumput di rumah Pak Tiyo. Teman-temannya tak perlu tahu. Bukan karena ia malu. Rega hanya tidak ingin dikasihani.

0 komentar:

Posting Komentar