Jumat, 19 Juni 2015

Bobo Edisi 11 : Titan Srikandi Bola

Titan Srikandi Bola adalah cerita yang menjadi tugas pertama saya di Kelas Merah Jambu. Alhamdulillah cerita ini dimuat di Majalah Bobo. Saya suka sekali ilustrasinya.
Semoga pembaca Bobo menyukainya. Teman-teman juga ingin membaca? Silakan, saya tuliskan versi aslinya (sebelum dipercantik Bobo).






Titan Srikandi Bola
Oleh Dian Sukma Kuswardhani

"Boleh ya, Ma?" rajuk Titan.
"Memangnya tidak ada ekskul yang lain?"
"Ya, ada. Tapi Titan maunya ikut yang ini. Mama mau tanda tangan, kan?" tak lelah Titan membujuk mamanya.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pilihan ekstrakulikuler Titan. Sepakbola, kegiatan olahraga biasa. Sayangnya Mama kurang suka.
Kata Mama, "Itu olahraga anak laki-laki. Kenapa tidak basket, voli, atau atletik saja yang lebih umum untuk anak perempuan?"
            Titan merengut.
***
Esok harinya, Titan bangun lebih pagi. Ia harus berhasil menyakinkan Mama. Ini hari terakhir pengumpulan formulir ekstrakulikuler. Titan sudah bersiap sekolah dan sudah merapikan kamarnya. Sekarang dia duduk manis di meja makan menunggu Mama dan Kak Tiara sarapan sama-sama.
"Apa ini? Yang semalam?" Titan menggeleng.
"Janji Titan bila diizinkan ikut ekskul sepakbola. Satu, menabung untuk beli seragam dan sepatu bola sendiri. Dua, mencuci sendiri baju dan sepatu yang kotor dipakai latihan. Tiga, tidak main bola saat turun hujan," Mama membacakannya keras-keras.
"Oke. Mama setuju dengan syarat tambahan."
Wajah penuh harap Titan berubah jadi senyum lebar, "Apa, Ma?"
"Tidak ada antar jemput untuk latihan. Tidak ada uang saku tambahan. Satu janji dilanggar, izin Mama cabut."
            Titan mengangguk antusias.
***
Ekskul Titan berjalan lancar dan sejauh ini semua janji berhasil ia penuhi. Sekarang dia sedang berdiri di tengah stadion. Mama dan Kak Tiara menyaksikan pertandingan perdananya dari tribun.
Di tengah pertandingan, hujan yang semula rintik-rintik menjadi deras. Titan berlari ke pinggir lapangan.
"Titan, ngapain berteduh? Ayo main!" seru Vani yang masih berjaga di depan gawang.
Titan teringat janjinya. Kalau dia melanjutkan main, berarti ini akan jadi pertandingan perdananya sekaligus yang terakhir. Kalau tidak lanjut, ini pertandingan penting untuknya. Apalagi dia kapten tim dan skornya masih tertinggal 1-0.
Titan menengok ke arah tribun. Hujan yang lebat mengaburkan pandangannya melihat Mama. Ia ingin meminta pengecualian untuk hari ini. Tapi sepertinya sia-sia. Titan harus memutuskan secepatnya.
            "Oper ke sini!" suara Titan nyaris kalah oleh hujan.
Bola mendarat tepat di kakinya. Titan segera berlari menggiring bola ke gawang lawan. Ini kesempatan emas, dia bebas dari kawalan lawan yang tak menduga kedatangannya.
Sekuat tenaga Titan menendang bolanya. Bola itu melambung dan bersarang di sudut gawang, "Gooool!"
***
"Terimakasih ya, sudah menjenguk Titan." Mama mengantar teman-teman Titan ke depan.
Setelah berhujan-hujanan saat bertanding bola, Titan demam. Untung asmanya tidak kumat. Timnya pun menang tipis 2-1.
"Maafin Titan ya, Ma. Titan sudah melanggar janji. Mama nggak bolehin Titan main bola lagi?" ujar Titan saat Mama masuk lagi ke kamarnya.
"Sebenarnya Mama sih pengen Titan pilih olahraga yang lain. Tapi Mama lihat kesungguhan Titan. Mama juga sudah lihat kamu jago sekali main bolanya. Jadi selama Titan masih mau ikut ekskul sepakbola, Mama izinkan," jawab Mama.
Titan tersenyum, "Makasih, Ma. Oiya, Mama tahu Kelly Smith? Dia pesepakbola perempuan dari Inggris. Sudah banyak prestasinya. Ternyata Ma, dia main di klub Arsenal. Siapa tau Titan bisa sehebat dia ya, Ma."
Mama ikut tersenyum. Tak sengaja melihat foto Titan kecil dan almarhum Papa di meja belajar. Sudah lama dipajang sana. Mama baru sadar, di foto itu mereka berdua memakai seragam Arsenal juga.


0 komentar:

Posting Komentar