Jumat, 19 Juni 2015

Bobo Edisi 09 : Fito Bisa Rapi



Senang sekali saat mendapat kabar bahwa cerita anak yang saya tulis dimuat di majalah Bobo edisi 09 yang terbit bulan Juni ini. Naskah ini merupakan salah satu naskah yang saya buat sebagai tugas di kelas Merah Jambu bareng Mbak Nurhayati Pujiastuti.
Ini kali pertama naskah saya dimuat di majalah favorit saya saat anak-anak dulu. Semoga para pembaca cilik Bobo menyukainya. Berikut ini versi asli dari cerita yang dimuat.


Fito Bisa Rapi
Oleh Dian Sukma Kuswardhani

Klontang! Gedubrak! Buk!
Kegaduhan di kamar Fito membuat Mama geleng-geleng kepala. Pasti ada sesuatu yang dia cari. Mama terpaksa meletakkan sapu dan menghampirinya.
“Cari apa sih, Dek?”
“Cari ini nih, Ma. Logo Pramuka yang dipasang di baret. Kok nggak ada ya?”
“Kalau baretnya sudah ketemu?”
“Sudah. Ada di meja belajar. Aduh, gawat nih! Bisa telat ke sekolah. Mana mau upacara lagi,” gerutu Fito. Mama bantu mencari.
“Nah! Ini apa di dalam kotak sepatu?” Mama menemukannya dengan cepat.
“Wah … Alhamdulillah. Fito berangkat ya, Ma!” Fito menyambar logo itu lalu menyalami Mama sekilas dan berlari ke sekolah.
Sudah berkali-kali Mama ingatkan Fito untuk menyimpan barang-barangnya baik-baik. Sayangnya Fito acap kali mengabaikan pesan Mama. Akibatnya, dia sering kehilangan barang atau harus menghabiskan waktu mencari barang-barangnya saat mendesak akan digunakan.
Kamar Fito juga hampir selalu berantakan. Mama sudah memintanya membereskan kamar. Kadang dilakukan, tapi lebih sering tidak diacuhkan. Akhirnya Mama terpaksa turun tangan karena merasa risih. Mama juga yang membantu Fito menemukan barang-barang yang menurutnya hilang.
"Fito, Senin depan Mama berangkat ke Semarang. Mama ditugaskan ikut pelatihan," kata Mama saat mereka makan malam bersama.
"Berapa lama, Ma?" tanya Fito.
"Satu minggu. Fito baik-baik ya di rumah sama Papa."
"Lama banget, Ma. Nanti kalau aku butuh apa-apa gimana?"
"Butuh cari barang-barang kamu maksudnya?" Mama bertanya balik. Fito mengangguk sambil tersenyum malu.
"Makanya kamarnya dirapikan. Barang-barang disimpan di tempatnya semula. Jadi Fito tidak selalu bergantung sama Mama. Kalau begini bagaimana?"
"Ya ... Mama! Jangan lama-lama perginya. Atau ga usah pergi aja deh, Ma," rajuk Fito.
Hari pertama Mama pergi, Fito kebingungan mencari topinya untuk upacara. Karena tidak ketemu, Fito upacara tanpa topi. Akibatnya dia dapat hukuman karena tidak berseragam lengkap.
Hari kedua, Fito membongkar isi lemarinya untuk menemukan sabuk seragam karate. Sayangnya tak juga dia dapat sehingga Fito memilih tidak berangkat latihan.
Hari berikutnya, Fito kehilangan buku yang dipinjam dari Lody. Fito pun menguras celengannya demi membeli buku pengganti.
“Maaf ya, Lod. Ini bukumu aku ganti,” ujar Fito saat mengembalikan buku Lody di rumahnya.
“Iya. Nggak apa-apa. Yang penting sudah kembali. Masuk dulu, yuk!” jawab Lody.
Fito diajak Lody ke kamarnya. Lody punya banyak koleksi buku cerita. Rencananya Fito ingin pinjam buku lagi.
“Wah, kamarmu rapi sekali, Lod. Kamu punya pembantu, ya?” tanya Fito.
“Nggak punya.”
“Mamamu yang membereskan? Kalau aku di rumah sih biasanya Mama yang merapikan kamarku.”
“Ya. Kadang Mama membantuku merapikan kamar. Tapi biasanya aku yang merapikan sendiri.”
“Oya? Beres-beres kan bikin capek,” keluh Fito.
“Nggak juga, kok. Sebenarnya aku meniru Kak Tisha. Dia selalu menyimpan barang-barangnya di tempat semula. Jadi tidak perlu beres-beres setiap hari. Kalau perlu apa-apa, dia sudah tahu tempat barang yang dia cari ada dimana.”
“Oo … begitu.”
“Tadinya aku juga suka sembarangan. Tapi Mama pernah menghukumku, menyuruhku membereskan kamar sendiri. Aduuh … capek sekali. Ternyata begitu rasanya jadi Mama. Lelah kalau harus beres-beres tiap hari. Jadinya aku belajar rapi.”
Setiba di rumah, Fito memandangi kamarnya yang berantakan dan mulai kotor. Betapa repotnya kalau Mama tak ada. Papa juga sibuk kerja, tak selalu bisa menolong.
“Kasihan juga Mama. Selama ini aku tak mau membantu membersihkan dan membereskan kamar ini,” batin Fito.
Kali ini Fito ingin mencoba mengandalkan dirinya sendiri. Ia ingin membuat kamarnya bersih dan rapi.
“Kalau Lody bisa, aku pasti juga bisa,” pikirnya.
Pertama Fito merapikan tempat tidurnya. Mengambil buku dan baju yang berserakan di atasnya lalu menyimpan di tempat yang semestinya.
Fito lanjut ke meja belajarnya. Ia memunguti bungkus bekas makanan yang tergeletak sembarangan lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Aaa!" teriak Fito.
Seekor tikus melompat dari kolong tempat tidur saat ia melongok ke sana. Jantungnya deg-degan. Nafasnya tersengal saking kagetnya.
"Tikus nakal! Berani-beraninya masuk ke sini!" gerutunya kesal.
Gara-gara tikus itu, Fito jadi tambah semangat membereskan kamarnya. Ia tidak mau kamarnya jadi sarang tikus. Satu lagi, saat beres-beres tadi, barang yang selama ini dia kira hilang, muncul satu per satu dari persembunyian. Ternyata bukan hilang, tapi disimpan sembarangan sehingga sulit dicari. Fito menatap kamarnya dengan puas.
Hari-hari berikutnya Fito mulai belajar menyimpan barang-barangnya dengan baik. Ia tak mau jika harus mengerahkan semua tenaga untuk merapikan kamar seperti kemarin. Ia juga tak ingin tikus betah di kamarnya.
"Fito, Mama pulang!" Mama mengetuk pintu kamar Fito.
Saat Fito membuka pintu, "Wah, rapi sekali. Siapa yang bantu merapikan, Dek?"
"Fito sendiri dong," jawab Fito bangga.
"Hmm, hebat! Ternyata bisa, kan? Kalau begitu, Mama kasih hadiah. Nih oleh-oleh buat Fito."
"Hore! Terimakasih, Ma."

0 komentar:

Posting Komentar