Sabtu, 21 Maret 2015

Rahasia Tiyok, Cerita Anak di Harian Radar Bojonegoro

Dimuat di Radar Bojonegoro, 8 Maret 2015



Rahasia Tiyok
Oleh Dian Sukma Kuswardhani

Akhir-akhir ini, Tiyok terlihat selalu mengantuk di sekolah. Dia jadi ketinggalan beberapa pelajaran. Tiyok juga tampak kurang konsentrasi saat mengerjakan latihan soal untuk lomba cerdas cermat.

“Kamu kenapa sih, Yok? Sakit?” tanya Karin, teman setimnya. Tiyok menggeleng.

"Atau kebanyakan belajar sampai begadang? Nggak perlu begadang lah, Yok. Nanti malah sakit,” saran Randy.

“Iya, kita khawatir kalau kamu sakit, Yok. Kamu kan ketua tim kita,” ucap Karin cemas. Tiyok hanya menanggapinya dengan senyum.

Sikap Tiyok membuat teman-temannya heran. Mereka mengira Tiyok sedang menyembunyikan sesuatu dari mereka.

***


“Yok, teh panasnya dua,” ucap Kakak Tiyok.

Dengan cekatan, Tiyok menuangkan biang teh panas ke gelas lalu menambahkan gula dan air. Kakak Tiyok sibuk mondar mandir mengantarkan pesanan pembeli. Tiyok lantas membawa nampan berisi teh panas dengan hati-hati. Ia menuju meja yang ditunjuk kakaknya.

“Sila ... kan. Eh, Randy?” sapa Tiyok gugup.

Randy duduk di meja pembeli bersama ayahnya. Saat melihat Tiyok, Randy juga kelihatan terkejut.

“Ngapain, Yok?” tanya Randy.

“Ini, bantu-bantu kakakku. Aku tinggal dulu ya.”

Tiyok sibuk berkutat lagi dengan pekerjaannya. Ia membuat dan mengantarkan minuman untuk pembeli di warung nasi goreng Pak Tri.

Seperti yang Tiyok duga, keesokannya di sekolah Randy mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Tiyok hanya menjawab sekenanya saja.

***

Randy masih saja penasaran. Ia ingin mencari tahu mengapa Tiyok bukannya belajar untuk lomba malah ikut kakaknya berjualan. Randy mengajak Karin menyelidikinya.

“Mungkin Tiyok punya alasan sendiri yang tidak bisa dia jelaskan pada kita,” tolak Karin.

“Tapi kan dia ketua tim. Kalau sampai dia tidak siap saat lomba, tim kita bisa kalah. Kamu mau?” tukas Randy. Karin akhirnya setuju.

Randy dan Karin tidak mungkin menanyai kakak Tiyok di warung Pak Tri. Di sana kan ada Tiyok juga. Randy mencoba mengikuti Tiyok diam-diam. Tapi ia juga belum menemukan petunjuk apa-apa.

“Sepertinya kita tanya Pak Tri saja kenapa Tiyok tiap malam ikut jualan. Ayahku kenal Pak Tri. Mungkin Ayah tahu rumahnya. Kita bisa ke sana,” usul Randy.

Mereka pun pergi ke rumah Pak Tri untuk mencari jawaban. Menurut Ayah Randy, warung nasi goreng Pak Tri biasa buka sampai tengah malam. Mungkin Tiyok selalu mengantuk karena begadang di warung.

“Sebenarnya ibu Tiyok yang membantu Bapak jualan. Tapi sudah seminggu ini ibu Tiyok sakit. Tiyok dan kakaknya yang menggantikan. Mereka butuh uang untuk membawa ibunya berobat,” jelas Pak Tri.

Randy jadi merasa iba pada Tiyok.

“Kenapa Tiyok tidak bilang sih. Kalau masalahnya begitu kan aku bisa bantu,” tukas Karin gemas. Ia mengeluarkan telepon genggamnya. Entah menelepon siapa.

“Yuk, kita ke rumah Tiyok sekarang,” ajak Karin.

“Mau ngapain?” tanya Randy.

“Sudah, ikut saja.”

Ketika mereka sampai di rumah Tiyok, mereka melihat ada mobil ambulans terparkir di depannya. Randy menatap Karin dengan pandangan bertanya-tanya.

“Jangan-jangan, Ibu Tiyok meninggal?” bisik Randy.

“Hush! Itu mobil ambulans dari klinik tempat papaku kerja.”

Rupanya Karin tadi menelepon papanya untuk minta bantuan. Papa Karin seorang dokter yang membuka klinik sendiri.

Tiyok terkejut saat membukakan pintu dan melihat kedua temannya.

"Yok, kami dengar ibumu sakit. Yuk, bawa ibumu periksa. Tuh, sudah ada ambulans menunggu,” ucap Karin.

Mata Tiyok berkaca-kaca. Tiyok memanggil kakaknya. Sang kakak mempersilakan para perawat membawa ibu mereka naik ambulans. Mereka turut serta mengantar ibu Tiyok.

“Makasih ya teman-teman. Terutama kamu, Karin. Maaf selama ini aku diam saja. Aku tidak ingin merepotkan dan membuat kalian khawatir,” ucap Tiyok.

“Sama-sama Yok. Kita ini kan teman. Sudah semestinya saling membantu. Coba kamu mau bilang dari awal,” balas Karin.

Sekarang Tiyok lega, ibunya sudah dibawa berobat. Bahkan Papa Karin membebaskan biayanya. Tiyok bisa konsentrasi lagi untuk mempersiapkan lomba bersama teman-temannya.

===============================================
Alhamdulillah, cernak saya untuk pertama kalinya dimuat di media massa.  Teman-teman ingin mencoba mengirimkan cernaknya ke Radar Bojonegoro, bisa mengirimkannya ke alamat email kenalyan@yahoo.co.id. Panjang naskah 500-600 kata.

2 komentar:

Sindrom Nefrotik mengatakan...

Sangat berkesan sekali kunjungan saya kali ini ke blog Anda, jangan lupa kunjungan baliknya ya gan?? :D

Dhani Setiyono mengatakan...

Terimakasih sudah berkunjung.

Posting Komentar